Cuplikan Chapter ini
Langit ibu kota belum sepenuhnya memudar ketika Bara menyeret koper tuanya keluar dari lobi stasiun Udara pagi terasa pekat oleh debu knalpot dan bau aspal basah Di kepalanya deru mesin pabrik tempat ia bekerja selama lima tahun terakhir masih berdengung konstan seolah menolak pergi Keputusan ini diambil bukan dalam semalam melainkan melalui pergulatan batin yang panjang dan melelahkanKau benar-benar mau pergi Bar Meninggalkan semua ini demi desa yang bahkan sinyal selulernya susah