Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
SEMAPENG (SKRIP)
Suka
Favorit
Bagikan
14. 4. C. Wali Kelas dan Social Punishment

61. EXT - TAMAN SEKOLAH - SORE HARI - 2016

CAST: GIA, SYAKILA

Gia berjalan lemas setelah mendengar percakapan antara Syakila dan Devan

VO GIA: Syakila, apa dia terpaksa berbuat jahat sama Renjana? Tapi kenapa? Gue masih ga ngerti

Gia mengambil nafas panjang dan menghembuskan ya pelan

DISSOLVE TO

62. INT - KAMAR DEVAN - MALAM HARI - 2016

CAST: Devan

ESTABLISH SHOT: suasana kamar Devan

1. Sebuah meja belajar dengan banyak buku tersusun rapi

2. Sebuah kasur berwarna hitam dengan dua bantal dan satu guling. Sprei kasur itu bergambar bendera Barcelona.

Devan memandangi bulan dan bintang sambil duduk di depan kacanya. Ia merenung sembari mengingat kembali apa yang diucapkan Syakila padanya.

MONTAGE:

Syakila (O.S)

Lo tau kan? Ayah Gue kerja sebagai pembantu? Dan, Lo udah tau siapa bosnya kan? Jadi, Gue ga bisa apa-apa

CUT BACK TO

Devan menggaruk kepalanya dengan wajah kesal.

VO DEVAN: Ga seharusnya bokap Lo keluar dari rumah Gue Syakila. (Beat) Maafin Gue

Devan menitikkan air matanya. Ia mengambil sebuah buku di meja belajarnya.

CLOSE UP: sebuah tulisan judul buku tulis yaitu "KKH SyaVan"

Ia membuka lembar demi lembar bagaimana ada foto Devan dan Syakila mulai dari SD-SMA. Dia tersenyum dan terkadang tertawa kecil

CLOSE UP:

1. Devan (6thn) duduk di bangku panjang bersama Syakila (6thn). Mereka memakan es krim

2. Devan (13thn) bersama Syakila menaiki sepeda pancal sambil tersenyum riang

VO DEVAN: Gue rindu Lo, Syakila

CUT TO

63. INT - KAMAR RENJANA - MALAM HARI - 2016

CAST: RENJANA

Renjana duduk lemas di kamarnya, ia mengambil nafas beberapa kali sebelum akhirnya menitikkan air matanya.

VO Renjana: kenapa Gue yang disalahin? Apa salah Gue sampai digituin sama guru Gue sendiri?

Renjana mengambil selimutnya dan menutup dirinya dengan selimut. Namun, ia tak benar-benar tidur. Di hari esok, ia bertekad untuk menjadi penurut.

FADE OUT

64. INT - KELAS - PAGI HARI - 2016

CAST: RENJANA, GIA, MAYA, SYAKILA, RENA, LIA

ESTABLISH SHOT:

Renjana memasuki kelas dengan raut wajahnya yang muram. Dia duduk di bangku paling belakang seperti biasa. Semua mata tertuju padanya. Diam-diam, Maya, Gia dan Vita melihat Renjana sekilas.

Vita

Kita sapa Renjana yuk, Gue udah ga tega liat dia digituin sama wali kelas kita

Vita berkata dengan suara lirih

Maya

Gia, Vita masih ga ngerti juga. Dia harus diapain?

Maya melihat ke arah Gia

Gia

Kali ini Gue setuju sama Vita

Gia dan Vita akhirnya nekat menghampiri Renjana, namun mereka di dahului oleh Lia, Rena dan Syakila.

Rena

Kayanya, kemarin wali kelas ke kelas kita? Bener ngga Renjana?

Rena bertanya kepada Renjana dengan suara kerasnya namun tetap tersenyum. Renjana yang melihat itu hanya tersenyum.

Lia

Wah, Bu Dita ngapain ke kelas kita? Kepo tau

Lia tersenyum dan mendekati Renjana

Renjana

Kalo kalian mau tau, mending tanya langsung aja sama Bu Dita!

Renjana berdiri dan menjawab pertanyaan itu dengan tegas. Ia bergegas meninggalkan teman-temannya dari kelas.

Sementara itu, Vita dan Gia merasa sebal dan kemudian berhadapan dengan Lia dan Rena.

Gia

Heh Ren, Lo tu tukang kepo ya ternyata. Gue baru tau

Gia mengejek Rena sambil tertawa pelan

Rena

Ya terus kenapa? Suka-suka Gue dong

Rena balas mencibir Gia

Gia

Percuma cantik, tapi attitude 0. Percuma cantik, modal bedak tebel doang bisanya. Udah gitu tukang ghibah lagi, dih. (Beat) Cowo mana yang betah ama Lo

Gia tersenyum simpul dan meninggalkan Rena. Rena kembali ke tempat duduknya. Maya yang melihat kejadian itu langsung menghampiri kedua temannya

CUT TO

65. EXT - TAMAN - PAGI HARI - 2016

CAST: RENJANA, DEVAN

Renjana duduk termenung di bangku taman, Devan dari kejauhan melihat Renjana dan menghampirinya.

Devan

Renjana, apa kabar? Gimana liburannya?

Devan tersenyum ragu ke arah Renjana

Renjana

Eh Devan, hai. Gue.. Gue baik kok

Renjana tersenyum ragu

Devan

Gue duduk di sini boleh ga?

Devan tersenyum ramah. Renjana hanya mengangguk. Setelah Devan duduk, Renjana memutar kedua bola matanya.

VO RENJANA: Dev, kalo Gue cerita ini? Apa lo mau dengerin Gue?

Renjana menggigit bibir bawahnya. Lalu ia perlahan mulai menceritakan kisahnya.

Renjana

Dev, Lo mau dengerin cerita Gue ga?

Renjana tersenyum

Devan

Oke, silahkan cerita

Devan tersenyum

Renjana

Jadi, kemarin wali kelas Gue nemuin Gue. (beat) Dan kata beliau, (beat) Gue ini kena Social Punishment. Katanya, sikap Gue terlalu buruk, jadi ya, (beat) Gue harus Nerima akibatnya kalo Gue dikucilkan

Renjana tersenyum sambil menunduk lesu. Ia mulai menitikkan air matanya

Renjana

Apa itu bener Dev? Apa Gue salah, kalo Gue ga mau dimanfaatin temen-temen Gue sampe akhirnya Gue ngelawan mereka Dev? Apa Gue harus terus jadi boneka mereka Dev?

Renjana berkata lirih sembari menghapus tangisnya

Devan

Renjana, Lo ga salah. Tapi, balik lagi Renjana. Lo tau sendiri kan? (beat) Di sini, suara mayoritas itu bakalan menang. Sedangkan suara minoritas, (beat) ngga bakal didengerin

Devan memaksakan untuk tersenyum ke arah Renjana

Renjana

Hiya, gimana lagi terus Dev. Berbuat baik itu boleh, tapi kalo ujung-ujungnya kita malah dimanfaatin? (beat) Bukannya kita malah bego sendiri ya Dev?

Renjana melirik Devan

Devan

Gue ngerti Renjana, itu pasti berat. Tapi, mau gimana lagi? Setiap ada anak baru yang pindah ke sini, udah pasti ada yang gini. Mereka jadi bahan bullyan dan setelahnya, sama aja. (beat) Mereka suka ngemanfaatin orang baru, sama persis kaya apa yang terjadi sama kamu Renjana

Devan berkata lirih sembari tertunduk lesu

Renjana

Oh ya, ko Lo tau Dev? Kan kita murid baru di sekolah ini

Renjana melihat ke arah Devan dengan ragu

Devan

Gue udah tau semenjak kakak Gue sekolah di sini

Devan tertunduk lesu sambil melihat ke arah Renjana

Renjana

Jadi, Lo punya kakak? Dimana kakak Lo? Kok Gue ngga pernah lihat Lo sama kakak Lo

Renjana tersenyum ragu smebari melihat ke arah sekitar. Devan menatap ke arah Renjana sambill menatap tajam ke arahnya

Devan

Kakak Gue depresi Renjana, dia lagi menjalani terapi biar dia bisa tenang. Dia ngalamin hal yang sama kaya Lo, bedanya. Dia udah ngga kuat dan akhirnya jadi kaya gitu

Devan berkata sambil menggenggam erat kedua tangannya. Renjana terkejut melihat reaksi Devan dan membungkam mulutnya sendiri

Renjana

Ma... maafin Gue Dev, Gue beneran ngga tau

Renjana tersenyum dan melihat Devan dengan wajah merasa bersalah

Devan

Gapapa Renjana, ini bukan salah Lo. Makanya, Gue ga mau liat nasib Lo kaya kakak Gue Renjana

Devan tersenyum dan menitikkan air matanya. Renjana tersenyum dan menahan tangisnya pecah

CUT TO

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)