Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
54. INT - KAMAR RENJANA - PAGI HARI - 2016
CAST: RENJANA
Renjana bangun dan mengucek kedua matanya. Ia melihat keadaan di sekitarnya lalu tersenyum riang
Renjana
Yey, aku ga masuk yey
Renjana loncat-loncat di atas kasurnya
INSERT: Di satu sisi, Rahma mendengar anaknya dari luar pintu.
VO RAHMA: perasaan, Renjana baik-baik aja? Kenapa milih ngga masuk sekolah?
Rahma
Renjana, Nak buka pintunya Renjana
Rahma mengetuk pintu. Renjana mendengar hal itu dan langsung berbaring di kasurnya. Ia menyelimuti tubuhnya
Renjana
Iya Ma, masuk aja
Rahma masuk dan mendekati anaknya
Rahma
Renjana, apa kamu berbohong pada Mama?
Rahma bertanya kepada anaknya
Renjana
Berbohong? Apa yang harus ku sembunyikan dari Mama?
Renjana tersenyum kepada Ibunya
Rahma
Kamu ngga sakit kan?
Rahma menatap tajam ke arah Renjana. Seolah dia marah kepada anaknya
Renjana
Mama, aku mohon. Renjana butuh istirahat Ma
Renjana menunjukkan raut wajah cemasnya
Rahma
Kamu harus jujur dulu sama Mama Renjana!
Rahma menarik selimut Renjana. Ia berdiri dan marah kepada anaknya
Renjana
Apa yang harus aku bilang ke Mama?
Renjana menujukkan raut wajah cemasnya. Ia duduk dan melipat kedua kakinya. Ia melihat Ibunya dengn wajah ketakutan
Rahma
Jujur sama Mama Renjana! Kamu kenapa?!
Rahma memegang kedua tangan Renjana sembari menatap anaknya tajam. Renjana merasa ketakutan, dia berusaha melepaskan pegangan Ibunya yang semakin erat.
Renjana
Maafin Renjana Ma, Renjana ga bisa
Renjana melepaskan genggaman tangan Ibunya
Rahma
Dengerin Mama Renjana, kamu jangan bohongin Mama kalo ada masalah! Mama bukan anak kecil yang bisa kamu bohongin kaya gini!
Rahma memmbuat Renjana ketakutan
Renjana
Tapi aku ga bisa Ma! Renjana ga bisa ngomong ini ke Mama!
Renjana membantah perkataan Ibunya. Dan di saat itu, bayangan Renjana yang berwujud Renjana berdiri di belakang Ibunya. Ia menyeringai, rambutnya terurai panjang. Suasana kamar Renjana menjadi gelap gulita. Hanya tersisa sebuah cahaya yang menyorot Renjana dan bayangannya sendiri.
Renjana
Mama!
Renjana menangis dan perlahan berjalan mundur dari bayangannya sendiri
Bayangan Renjana
Cepat katakan pada Ibumu Renjana
Bayangan itu menyeringai tajam ke arahnya. Wajahnya pucat pasi, salah satu kakinya tampak cacat
Renjana
Engga! Pergi! Pergi
Renjana menjerit ketakutan, ia perlahan mundur dari bayangan itu. Namun bayangan itu berjalan semakin cepat ke arah Renjana.
Bayangan Renjana
Katakan sekarang! Atau kau akan menderita selamanya Renjana!
Bayangan itu membentak Renjana. Renjana menutup kedua telinganya dan memeajamkan matanya.
Renjana
A.... Aku tau ini cuman mimpi! Cuman mimpi! Ini ga nyata Renjana! Ayo lawan!
Renjana menjerit ketakutan. Namun bayangan itu berjalan mendekat dan tertawa mengerikan. Dan hal itu membuat Renjana semakin ketakutan.
Bayangan Renjana
Katakan! Atau kau akan mati sekarang Renjana?!
Bayangan Renjana menendang Renjana hingga jatuh. Ia duduk dan mencekik leher Renjana
Renjana
Baiklah! Aku benci temen-temenku yang mu.. na.. fik! Renjana ga ... suka!
Renjana merintih dan terbata-bata karena ketakutan. Kedua bola mata bayangan Renjana berwarna merah menyala. Tubuh itu lalu mengecil sampai urat nadinya terlihat dengan jelas. Hal itu membuat Renjana menjerit dan mengatakan hal sebenarnya.
Renjana
Renjana ga suka kalo punya temen yang dateng di saat butuh! Renjana ga mau... kalo Renjana cuman dimanfaatin.. sama mereka! Ujung-ujungnya mereka pergi gitu aja dan nggibahin Renjana! Aku benci..
Renjana menangis pasrah. Bayangan Renjana seketika hilang dan suasana berubah. Suasana kembali terang. Hanya tersisa Ibu Renjana yang tercengang mendengar perkataan anaknya.
Rahma
Renjana, ke.. kenapa kamu baru ngomong sekarang?
Rahma menitikkan air matanya dan merangkul anaknya. Renjana lemas tak berdaya. Ia hanya bisa menangis di hadapan Ibunya
Renjana
Maafin Renjana Ma, maafin Renjana karena ga pernah jujur soal ini
Renjana memeluk Ibunya dengan sisa tenaganya
Rahma
Nak, Mama yang harusnya minta maaf sama Renjana. Mama sampai ga ngerti anak mama Sampek kayak gini
Rahma mengecup kening anaknya. Renjana mencoba meredakan tangisnya
VO RENJANA: maafin Renjana Ma
CUT TO
55. EXT - TAMAN SEKOLAH - PAGI HARI - 2016
CAST: DEVAN, MAYA, VITA, GIA
Maya, Vita dan Gia berkumpul di taman sekolah. Mereka bertiga tampak cemas.
Maya
Duh, Devan kemana si
Maya menggigit jarinya
Vita
Iya ni, lama banget deh. Keburu masuk tau
Vita melihat jam yang ada di hpnya
Gia
Bentar ya, Gue coba telpon dia lewat wa
Gia mengambil hp dari sakunya dan langsung memanggil Devan
SOUND EFFECT: suara telfon berdering
Dari kejauhan, Devan berjalan ke arah mereka bertiga.
Devan
Sori, Gue telat
Devan menghembuskan nafasnya pelan
Gia
Baru aja mau Gue telfon
Gia mematikan hp dan memasukkannya kembali ke dalam sakunya
Devan
Jadi, gini. Gue mau tanya, apa yang udah temen-temen Lo lakuin sampe Renjana gangguan psikis?
Devan berkata lirih sambil memperhatikan sekitar. Memastikan tidak ada yang mendengar perkataannya.
Vita, Gia, Maya
Hah?!
Vita, Gia dan Maya kaget mendengar hal yang baru saja diucapkan Devan.
Gia
Lo.. Lo ngomong apa si?
Gia kaget dan mendorong pundak Devan dengan wajah marah
Vita
Lo kalo ngomong yang bener dong!
Vita tak mau kalah. Namun, Gia dan Vita kelihatan bingung melihat Maya yang sama sekali tidak kaget
Maya
Dev, anak-anak di kelas Gue. Mereka punya kebiasaan ghibah, mereka juga bakalan dateng ke Renjana kalo butuh. (beat) Dan yah, dulu ada satu temen yang menurut dia baik banget. Tapi ternyata ngga sama sekali, dia sama busuknya kaya anak lain.
Maya menjelaskan panjang kali lebar sambil menatap tajam ke arah Devan
Devan
Gila ya temen Lo! Ga punya perasaan banget!
Devan berkata dengan raut wajah kesal
Maya
Gue ga kaget kalo dia Sampek gangguan psikis, sekarang kalian mikir aja? (beat) Kalo kalian jadi dia
Maya mengambil nafas sebentar
Maya
Ibarat kalian didatengin pas butuh doang, habis itu ditinggalin dan jadi bahan ghibah. Udah gitu, di kelas kalian ga punya siapa-siapa. Temannya cuman hp doang. Kalian ga stres apa?
Maya menatap tajam ke arah Gia dan Vita. Mereka berdua tertunduk lesu
Gia
Kita ga bisa biarin ini terjadi Maya, Gue ngerasa tanggung jawab sama kondisi Renjana. Karena dia juga temen kita
Gia menitikkan air matanya
Vita
Iya Gia, kita semua tau. Tapi, kita juga ga mungkin deketin Renjana. Kita harus minta bantuan guru buat nyelesaiin masalah ini Gia
Vita, Maya, Gia dan Devan tertunduk lesu. Dari belakang mereka. Rena, Syakila dan Lia bertepuk tangan sambil menyeringai tajam ke arah mereka
Rena
Owh, jadi ini (beat) orang yang sok-sok an buat ngebelain Renjana?
Rena menatap tajam
Lia
Mau sok jadi pahlawan Lo ya?
Lia menertawai mereka
Syakila
Gue akui kalian baik, tapi mohon maaf ya. Temen-temen Renjana bahkan banyak yang udah ga suka sama dia. Dan yah, sebentar lagi akan ada kejutan buat kalian.
Syakila tertawa kejam
Maya
Apa maksut Lo?
Maya mengepalkan kedua tangannya
Lia
Liat aja nanti. Bye!
Lia, Syakila dan Rena meninggalkan mereka.
Devan
Ck.. Sialan! Mau apa lagi mereka!
Devan mengumpat. Sedangkan Maya, Vita dan Gia diam ketakutan
CUT TO