Cuplikan Chapter ini
Debu yang ditinggalkan ban jip Bapak Harun perlahan luruh mengendap di atas tanah yang baru saja dikoyak paksa Raungan mesin ekskavator yang menjauh menyisakan kesunyian yang asing sebuah keheningan yang begitu berat hingga telinga Santi berdenging Ia masih berdiri di ambang pintu jemarinya yang gemetar memegang secarik kertas kecil yang terselip di dasar tabung logam Kertas itu kuning rapuh seperti sayap serangga mati namun bau keringat dan serbuk kayu almarhum Ayah masih menguar kua