Cuplikan Chapter ini
Harun menyipitkan mata senyumnya memudar digantikan oleh garis wajah yang tegang Ketegangan memuncak di antara mereka di bawah bayang-bayang besi raksasa yang siap menghancurkan segalanya Deru mesin ekskavator itu terasa seperti getaran purba yang merayap dari telapak kaki Santi naik ke tulang belakangnya dan berdenyut di pelipisnya Udara sore itu terasa berat sarat dengan bau solar yang menyengat dan debu kering yang menyesakkan dadaSatu jengkal katamu Harun mengulang kalimat itu