Cuplikan Chapter ini
Dinginnya lantai tegel dapur merayap menembus daster tipis yang dikenakan Santi namun rasa ngilu di hatinya jauh lebih tajam daripada suhu porselen tua itu Ia duduk bersandar pada lemari kayu yang sudah mulai dimakan rayap kedua lututnya ditekuk erat ke dada Di depannya lubang gelap di bawah rak piring yang baru saja ia buka tampak seperti mulut raksasa yang siap menelan sisa-sisa kewarasannyaTiga ratus lima puluh juta rupiah Angka itu berputar-putar di kepalanya menari-nari di balik