Cuplikan Chapter ini
Kael berdiri kaku di ambang pintu yang hancurUdara dingin menusuk kulitnya dengan bau ozon bercampur besi yang menyengat seperti darah segar Jubahnya yang basah oleh keringat tipis bergetar oleh napasnya sendiriGiginya mengatup menggertak keras menahan amarah yang tak punya alamatKenapa Apa alasannya suaranya pecah lebih seperti desis yang tertahan di tenggorokan ketimbang pertanyaan yang benar-benar berharap jawabanSeolah kebenaran baru saja dilepas dari genggaman Kael hanya b