Cuplikan Chapter ini
Masih pada momen itu Kael tetap berdiri diam tubuhnya tegak namun seolah dipaku oleh beban yang tak kasat mata Telapak tangan kanannya mengepal begitu erat sendi-sendi jarinya memutih seakan ingin menahan sesuatu yang menggelegak jauh di dalam dirinyaAmarah ini sangat menusuk dadaku Gumamnya lirih namun tajamIa bisa merasakannyadenyut panas yang mirip dengan aura pintu merah itu Kemarahan penderitaan kekacauan kehilangan bahkan kebencian yang tidak pernah berhenti berdetak