Cuplikan Chapter ini
Matahari pagi menembus celah gorden kamar namun sinarnya terasa terlalu terang untuk mataku yang masih berat Hal pertama yang kulakukan saat terbangun bukanlah meraih ponsel melainkan menyingsingkan lengan piyama Di sana di atas kulit yang pucat memar itu masih membayang Warnanya kini berubah menjadi ungu kebiruan yang pekat seperti noda tinta yang tumpah dan enggan hilangMeski semalam sudah berkali-kali kukompres dengan air hangat dan es bergantian warnanya tetap keras kepala seol