Cuplikan Chapter ini
Balai desa yang dulunya suram dan sepi kini terasa lebih terang penuh dengan canda tawa lirih dan bisikan-bisikan gembira Aroma kopi tubruk dan singkong goreng mengepul hangat bercampur dengan wangi bunga melati yang baru dipetik Dian duduk di bangku kayu panjang di sekelilingnya beberapa wanita desa yang dulu selalu tampak murung dan ketakutanSeorang wanita muda Indah yang dulu selalu menunduk dengan mata sembab kini tersenyum lepas saat ia menawarkan Dian secangkir teh hangat Non