Cuplikan Chapter ini
Pagi itu sinar matahari menembus celah pepohonan di halaman rumah Kandek Udara desa masih segar membawa aroma tanah basah dan bunga liar yang mulai mekar di tepi jalan setapak Kandek duduk di bangku kayu sambil menyeduh kopi hangat Suara air yang mendidih terdengar seperti nyanyian lembut yang membangunkan pagi Tidak lama langkah ringan terdengar dari arah gerbang Wahyu datang dengan senyum cerah dan keranjang kecil berisi kue tradisional yang ia buat sendiri Selamat pagi Mak Kand