Cuplikan Chapter ini
Pagi di desa kembali datang dengan hangat namun tidak terburu-buru Embun masih menempel di ujung daun dan matahari perlahan naik menebar cahaya emas yang menembus celah-celah pepohonan Kandek duduk di beranda secangkir teh di tangan matanya menatap jalan setapak yang biasa dilalui Wahyu dan Adi Hatinya terasa tenang namun juga berdebarperasaan yang dulu jarang ia rasakan Langkah ringan terdengar mendekat dari arah rumah tetangga Wahyu datang lebih pagi dari biasanya membawa sebu