Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
ANOTHER STORY OF PRINCESS
Suka
Favorit
Bagikan
29. Episode 8 Part 2
Skrip ini masih diperiksa oleh kurator

RAKA

Gue Raka?

(menjawab dengan santai)


ADEN

Dari mana lo tau dulu gue nggak bisa renang?


RAKA

Gue cuman nebak aja.


ADEN

Nggak mungkin.


RAKA

Lo nggak percaya banget sih sama gue, Den?


Aden masih melihat Raka penuh tanya.


RAKA

(berbalik, melihat pemandangan sekitar)

Lo nggak ada cita-cita buatin gue minum?


ADEN

Richard.


Raka tersentak.


ADEN

Elo Richard, kan?


Raka menoleh melihat Aden.


ADEN

Elo yang waktu itu dorong gue ke kolam?


RAKA

(tersenyum)

Ingatan lo bagus juga.


Aden terenyak.


CUT TO :


15. INT. RUMAH KELUARGA PAK RAMDAN. KAMAR ADEN - MALAM

Aden duduk di satu sisi, teringat sesuatu.


DISSOLVE TO FLASHBACK :


16. EXT. RUMAH KELUARGA PAK RAMDAN. KOLAM RENANG - SIANG

Raka (8 thn) menghampiri Aden (7 thn) yang sedang duduk bermain dengan robot. Dia lalu merebut robot itu dari Aden.


RAKA

(tertawa sembari membawa pergi mainan Aden)

Hey ... ambil sini!


Aden kesal melihat Raka.


RAKA

(melihat robot Aden sebentar)

Wah ... robotmu bilang mau mandi!

(lalu mengayunkan robotnya ke dekat air)


Aden bergegas menghampiri Raka untuk mengambil robotnya.


RAKA

(menjauhkan mainan itu dari Aden)

Ayo ambil kalau bisa!


Aden masih berusaha meraihnya dari Raka. Tapi Raka mendorong sekuat tenaga hingga Aden tercebur ke kolam.

Aden yang tidak bisa berenang, berusaha keluar ke permukaan. Sementara Raka hanya diam, tersenyum melihat Aden hampir tenggelam.


FADE OUT & FADE IN:


RAKA (O. S)

Gue nggak nyangka bisa ketemu kalian lagi.
Karna itu ... gue jadi mikir ....
Nggak ada salahnya cari tau tentang bokap gue dari kalian.


Aden terenyak memikirkannya.


CUT TO : 


17. INT. SEKOLAH PUTRI. KELAS PUTRI - SIANG

ESTABLISH : SEKOLAH PUTRI


Putri meletakkan tas di kursi, lalu melihat Dwi Ajeng.


PUTRI

Jeng. Buku paketnya buat berdua ya?
Gue lupa bawa?


Dwi Ajeng membuka buku paket, meletakkannya di tengah meja, lalu sibuk lagi dengan buku tulisnya.


PUTRI

Lo kenapa sih?
Manyun mulu.


DWI AJENG

Terserah gue lah.


PUTRI

(tersentak melihat Dwi Ajeng)

Apa?


Dwi Ajeng diam saja.


PUTRI

Hey! Lo marah sama gue?


DWI AJENG

(lalu melihat Putri)

Iya gue marah.
Elo yang bilang jangan deket-deket Raka.
Tapi elo sendiri ....
Malah nyembunyin sesuatu dari gue.

(lalu membuang pandangan, kesal)


PUTRI

Nyembunyiin apa?

(masih tidak mengerti)


DWI AJENG

Ya, gue tau. Raka suka sama lo.
Aden juga.
Bahkan Kaisar ....
Semuanya suka sama lo.
Nggak ada yang suka sama gue.


PUTRI

Ajeng, lo ngomong apa sih?
Lo nggak liat Justin dari dulu suka sama lo. 


DWI AJENG

Giliran Justin dikasih gue.


PUTRI

Ya emang kenapa?
Justin baik kok.


Dwi Ajeng masih manyun.

Putri tidak tau harus berkata apa lagi.


DISSOLVE TO FLASHBACK :


18. INT. RUMAH KELUARGA PAK RAMDAN - SORE


RAKA (8 thn)

(masih menatap Pak Ramdan)

Bukan saya, Om.
Aden jatuh sendiri ke kolam.


PAK RAMDAN

(lalu melihat Aden)

Bener gitu, Aden?


Aden (7 thn) memalingkan wajah, bergegas naik tangga ke lantai dua, masih memakai handuk. 


BU RISMA

(melihat Aden pergi, lalu segera menyusulnya)

Aden ....


KAISAR (8 thn)

Bohong, Pa!
Jangan percaya sama dia!

(kesal melihat Raka)


Pak Ramdan kembali melihat Raka.

Raka menggeleng, masih melihat Pak Ramdan.


CUT TO :


19. EXT. DEPAN RUMAH KELUARGA PAK RAMDAN - SORE


PAK JIMMY

Dia nggak buat masalah, kan?


PAK RAMDAN

Nggak.
Tadi cuma bertengkar kecil.
Namanya juga anak-anak.


BU RISMA

(baru saja keluar rumah)

Kecil apanya?
Anakku hampir mati gara-gara anak kamu itu!


Semua tersentak melihat Bu Risma.


PAK RAMDAN

Mama!


BU RISMA

Biar dia tau, Pa.
Kalo anaknya beneran sakit jiwa!


Pak Jimmy terperangah.


PAK RAMDAN

Mama!!
Jangan ngomong gitu!
Ini cuma kecelakaan biasa.


BU RISMA

(melihat Pak Ramdan, matanya berkaca- kaca)

Mama nggak sampai hati, Pa, ngelihat Aden kayak tadi!


PAK RAMDAN

Tapi, Ma. Sekarang kan dia udah baik-baik aja.


PAK JIMMY

Sebenernya ada apa ini?


Raka bersembunyi di balik Pak Ramdan, takut melihat papanya.

Pak Ramdan melihat Raka sebentar, lalu kembali melihat Pak Jimmy.


FADE OUT & FADE IN :


20. INT. RUMAH KELUARGA PAK RAMDAN - SIANG

Pak Ramdan, Raka dan Aden duduk di satu sisi.


RAKA

Sebelumnya saya minta maaf, Om ....
Atas kejadian itu.


PAK RAMDAN

Saya udah lama maafin kamu.
Sekarang ... kamu tinggal di mana?


RAKA

Saya tinggal sama ibu angkat saya.
Namanya Bu Elmi.
Waktu itu ibu baru aja cerai dari suaminya.


Pak Ramdan terenyak mendengarnya.


RAKA

Sejak papa nitipin saya di rumah saudara di desa ....
Papa nggak pernah kasih kabar lagi,
Padahal papa bilang, kalau sudah lulus SD, saya boleh balik ke kota.
Jadi saya nekat ke Jakarta tanpa sepengetahuan paman saya.
Untung saya ketemu Bu Elmi, yang mau bantu cari rumah saya.
Akhirnya ketemu. Tapi pemiliknya sudah bukan papa lagi.
Nggak ada yang tau di mana keluarga saya, Om ....


PAK RAMDAN

Om tau di mana papa kamu sekarang.


RAKA

(tersentak)

Di mana?


CUT TO :


21. EXT. TEMPAT PEMAKAMAN UMUM - SORE

Raka terduduk di sebelah makam papanya. Dia menangis memandang batu nisan bertuliskan nama papanya.

Pak Ramdan, Pak Yusuf dan Aden ikut sedih melihatnya.


CUT TO :


22. EXT. JALAN RAYA. MOBIL RAKA - SORE

Raka menyetir mobil. Pak Yusuf duduk di sebelahnya.


RAKA

Ibu tiri Raka sekarang ada di mana?


PAK YUSUF

Aku juga nggak tau di mana rumahnya.
Yang aku tau, dia menikah lagi dengan pengusaha dari grup Diamond.
Dia nggak peduli kelihatan seperti parasit.
Hhh!
Bahkan bukan kelihatannya aja,
Tapi dia benar-benar parasit.


Raka terenyak memikirkannya. 


CUT TO :


23. INT. RUMAH RAKA. KAMAR RAKA - MALAM

Raka mengetik sesuatu di laptop.


RAKA

Grup Diamond.

(lalu melihat informasi yang ada di internet)


Beberapa saat kemudian, Raka menemukan foto ibu tirinya.


BCU : Layar laptop Raka : Foto Bu Shinta.


Raka lalu teringat sesuatu.


DISSOLVE TO FLASHBACK :


24. INT. APARTEMEN - MALAM

Raka dkk sedang bermain kartu.

Bu Shinta meletakkan uang di meja.


ARGA

Jangan ikut! Ini urusan laki-laki.


BU SHINTA

Kalau gitu pakai aja. 
Itu kan uangnya Deny. 


Arga mengembalikan uang pada Bu Shinta. 


BU SHINTA

Okey. Terserah aja. 

(merapikan lagi uangnya)


Raka diam saja melihat Arga dan Bu Shinta.


FADE OUT & FADE IN :


RAKA

Kena lo nenek sihir.

(tersenyum sinis)


CUT TO :


25. INT. SEKOLAH PUTRI. KELAS PUTRI - PAGI

Putri merebahkan kepalanya di meja, tangannya masih memainkan bolpoin.


DWI AJENG

(lalu melihat Putri)

Lo nggak ke kantin?


PUTRI

Gue nggak laper.


DWI AJENG

Lo sakit?


PUTRI

Nggak.


DWI AJENG

Yaudah. Gue ke kantin dulu ya.


PUTRI

Hmm ....


CUT TO :


26. EXT. SEKOLAH PUTRI - PAGI

Dwi Ajeng berjalan sendirian. 


DWI AJENG (V.O)

Putri emang nggak salah apa-apa.
Kenapa gue harus marah karna dia banyak yang suka?
Hhh!
Putri ... maafin gue ....

(merasa bersalah, lalu melihat Raka berjalan di sisi lain, teringat sesuatu)


CUT TO :


DWI AJENG

Nih! Gue balikin.

(mengembalikan kalung pemberian Raka)


RAKA

(menerima kalung itu)

Kenapa?


DWI AJENG

Lo nggak beneran suka sama gue, kan?
Gue tau itu.


Raka terenyak melihat Dwi Ajeng.

Dwi Ajeng lalu pergi.

Raka melihat kalung di tangannya.


SLOW MOTION : Dwi Ajeng melangkah pergi, galau.


CUT BACK TO :


Raka menyimpan kalung itu di saku, melangkah pergi.


CUT TO :


Dwi Ajeng mengintip dari balik tembok, tapi Raka sudah tidak ada. Dia menghela napas panjang, manyun, lalu melangkah pergi. 


CUT TO :


27. INT. RUMAH KELUARGA PAK RAJA. KAMAR PUTRI - SORE

Putri menjatuhkan diri ke tempat tidur, sedih. Tapi dia lalu teringat sesuatu.


CUT TO :


Putri melukis satu sisi dinding kamar dengan cat glow in the dark.


CUT TO :


28. INT. RUMAH KELUARGA PAK RAMDAN. RUANG KERJA PAK RAMDAN - SORE

Kaisar duduk membaca buku, sesekali membuat  catatan kecil di buku.


CUT TO :


29. INT. RUMAH KELUARGA PAK RAMDAN. KAMAR ADEN - SORE

Aden mengambil gitarnya, lalu duduk di dekat jendela. Dia mulai memainkan lagu Jet Lag - Simple Plan.


ADEN

(bernyanyi sambil bermain gitar)

What time is it where you are?

(lalu menghentikan permainannya, teringat sesuatu)


DISSOLVE TO FLASHBACK (Episode 7 Scene 44) :


CASSANDRA

(lalu melihat Aden)

I miss you more than anything ....

(bernyanyi)


FADE OUT & FADE IN :


Aden terenyak, lalu mengalihkan pandangan, melanjutkan nyanyian. 


CUT BACK TO KAISAR :


KAISAR

(mendengar nyanyian Aden, lalu tersenyum)

Enak juga suaranya.


CUT TO :


30. INT. RUMAH CASSANDRA - SORE

Cassandra bernyanyi sambil bermain gitar lagu Jet lag - Simple Plan


DISSOLVE TO FLASHBACK (Episode 5 Scene 14) :


Aden dan Cassandra masih bernyanyi.

Cassandra menengok wajah Aden. Aden melihatnya.


CASSANDRA

Senyum ... liat gue!


Aden lalu tersenyum.

Cassandra membalas senyuman Aden, lalu melanjutkan lagunya.


FLASHES (Episode 5 Scene 15) :


Cassandra menepuk pundak Aden.

Aden tersentak, menghentikan langkah.

Cassandra yang heran, ikut berhenti.

Aden melihat tangan Cassandra yang ada di bahunya.

Cassandra ikut melihat apa yang dilihat Aden.

Aden dan Cassandra lalu saling pandang.

Cassandra tidak habis pikir, menepuk bahu Aden lagi, lalu melangkah pergi.

Aden tersentak, lalu meraih tangan Cassandra.

Cassandra tersentak melihat Aden.


ADEN

Gue duluan.

(melepaskan tangan Cassandra)


FLASHES (Episode 7 Scene 49) :


ADEN

Gue cuma mengantisipasi tindak kejahatan.


CASSANDRA

(kesal, tapi mencoba menenangkan diri)

Jangan sok tau.

(lalu makan snack)


Aden melanjutkan makan.


CASSANDRA

(masih kesal, beranjak dari duduk)

Gue duluan.

(melihat Aden, lalu pergi)


Aden terenyak melihat Cassandra pergi.


FADE OUT & FADE IN :


Aden menyelesaikan nyanyiannya, lalu teringat lagi.


DISSOLVE TO FLASHBACK (Episode 8 Scene 1) :


ADEN

Lo bahkan jauh lebih baik dari Putri.


Cassandra tersentak.


ADEN

(mengalihkan pandangan, menghela napas panjang)

Lo juga harus cepet pulang.


FADE OUT & FADE IN : 


ADEN

(menjatuhkan diri di tempat tidur)

Apa gue udah kasih harapan palsu ke dia? 
Nggak.
Itu kan cuma pujian?
Hhh!

(lalu menutupi wajahnya dengan selimut)


CUT TO :


31. INT. TEMPAT PERJUDIAN - MALAM


ARGA

Kamu lagi.

(tersenyum melihat Raka meletakkan taruhan) 


RAKA

Ya. Apalagi yang bisa dilakuin orang yang selalu beruntung? 


ARGA

Tapi keberuntungan itu ada masanya. 
Siapa tau keberuntunganmu habis hari ini. 


RAKA

(tersenyum sinis) 

Kita lihat aja. 


Mereka terus bermain kartu dengan serius. 


RAKA

Istrimu nggak ikut hari ini?


ARGA

(tersentak melihat Raka) 

Istri? 


RAKA

Ya. Yang dandanannya agak berlebihan itu.  


ARGA

(mengingatnya) 

Maksudmu Shinta? 

(tersenyum, kembali melanjutkan permainan) 


RAKA

(memerhatikan ekspresi Arga) 

Jadi bukan?


ARGA

Perempuan kayak dia biaya hidupnya tinggi.  
Buat apa dijadiin istri?


RAKA

(tersenyum, melanjutkan permainan)

Kelihatannya patah hati? 


ARGA

(tidak habis pikir melihat Raka) 

Mau ngalihin perhatianku? 


RAKA

(melihat kartunya)

Takut kehilangan uang ya? 


Arga agak kesal, melihat permainan Raka.


RAKA

Kalau gitu, hari ini, kalau aku menang nggak perlu bayar pakai uang. 
Gimana? 


Arga bersandar di kursinya, menatap Raka tidak mengerti, sementara Raka santai saja. 


ARGA

Jangan bilang kamu suka sama Shinta?


RAKA

Kalau kamu yang udah kenal lama aja nggak bisa suka apalagi aku? 

(mengalihkan pandangan sebentar) 

Ohiya. Sebenernya dia lebih cocok jadi tanteku. 
Hhh! Bahkan aku nggak mau punya tante kayak dia. 


Arga semakin tidak mengerti. 


CUT TO :


32. EXT. JALAN RAYA. MOBIL ARGA - MALAM

Arga menyetir mobil sementara Raka duduk di sampingnya. 


ARGA

Kamu belum jawab ....
Kenapa tertarik sama kehidupan dia? 


RAKA

Mungkin kita punya alasan yang sama. 


ARGA

(tidak habis pikir melihat Raka)

Nggak mungkin.


RAKA

Kenapa?
Dia udah punya suami ....
Kira-kira alasan apalagi yang bisa buat orang bertahan?


ARGA

(memikirkannya)

Jadi kamu tau aku bertahan karena uang?


RAKA

Dia waktu itu nawarin uang suaminya, kan?


Arga mencoba mengingat.


RAKA

Di apartemen.


ARGA

(melirik Raka)

Ingatanmu bagus juga. 


RAKA

Itulah kenapa selalu aku yang menang. 


ARGA

(tertawa, lalu menghela napas, kembali fokus menyetir) 

Dia juga lebih cocok jadi tanteku, kan? 


RAKA

Nggak juga. 
Mungkin karena kalian sering sama-sama jadi kelihatan sama tuanya. 


ARGA

(Hampir tertawa) 

Kurang ajar. 


RAKA

Jadi kenapa sekarang kalian berpisah?


ARGA

Seharusnya kamu tau jawabannya. 


RAKA

(lalu melihat Arga) 

Dia nggak punya uang? 


ARGA

Bisnis suaminya memburuk. 
Dia batasin pengeluaran. 
Bahkan dia ambil juga uangnya dari bisnis Shinta.  


RAKA

Nenek—maksudku Shinta punya bisnis apa? 


ARGA

Jual beli perhiasan.


RAKA

Asli? 


ARGA

(tidak habis pikir melihat Raka) 

Kamu bukan detektif, kan? 


Raka mengalihkan pandangan. 


ARGA

Dia emang kelihatan licik, tapi nggak bodoh. 


Raka terenyak memikirkannya, lalu tersentak saat melihat keluar jendela. 

Tiga pengendara motor menghadang di depan.

Arga segera menghentikan mobilnya. 


POV RAKA : Preman yang turun dari motornya.


RAKA

Kenapa nggak tabrak aja mereka?


Arga tersentak melihat Raka, sementara Raka melihatnya, lalu memukul tepat di belakang kepala. Arga seketika pingsan. 

Raka menjalankan mobilnya ke belakang, membuat preman di depan panik, kembali menaiki motor. 

Raka memutar balik mobil di tikungan, membuatnya mendapat klakson keras dari belakang. Tapi dia tidak peduli, segera melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Di belakangnya, ketiga preman masih mengejar. 


RAKA

Udah kubilang ingatanku bagus. 
Apa cuma mereka kenalan premanmu?


Terjadi aksi kejar-kejaran antara Raka dan ketiga preman itu. 


SFX : Sirine motor polisi. 


Ketiga preman panik, sementara Raka masih fokus menyetir. 


CUT TO : 


33. INT. CAFE - SIANG


PAK UKI

(meletakkan surat panggilan sidang di meja) 

Pengadilan? 
Kamu cari mati, hah?!


RAKA

(terlihat menderita) 

Masa yang kayak gini om nggak bisa ngurusnya?


PAK UKI

Aku ini detektif bukan pengacara. 

(menghela napas, mengalihkan pandangan) 

Umur 18 tahun. Mengendarai mobil orang lain dari kursi penumpang melampaui batas kecepatan, menerobos lampu merah. 
Tambah satu lagi,
Kamu pukul dia sampai pingsan. 


RAKA

Kalau nggak, aku yang dihajar preman-preman itu, Om!
Periksa aja handphone-nya, pasti ada rekaman perintah buat habisin Raka. 


PAK UKI

Ya. Jelasin aja semua di pengadilan. 


RAKA

Ayolah, Om ....
Aku pikir kita bestie. 

(frustrasi)


PAK UKI

(memikirkan tawaran itu) 

Kalau gitu kamu lakuin apa yang selama ini aku minta. 


Raka tersentak mengingatnya, lalu menghela napas panjang.


RAKA

(mengangguk) 

Oke.  

(kembali melihat Pak Uki)

Jadi kita deal? 


PAK UKI

(tersenyum, mengulurkan tangannya)

Deal. 


Raka menjabat tangan itu dengan berat hati. 


CUT TO :

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)