Cuplikan Chapter ini
Nazharina memeluk lutut duduk membisu di dekat jendela Di kamar dalam Arian telah terlelap di ranjang tamu Wajahnya tenang nyaris tak bersalah seakan badai emosi yang meledak beberapa jam lalu tak pernah terjadiNamun di dada Nazharina ada sesuatu yang menggumpal Terasa sesak Bibirnya masih menyimpan jejak hangat dari ciuman pertama ituyang hadir tiba-tiba begitu membingungkan begitu menyentuhIa menghela napas panjang Rintik hujan mulai mengecil Malam menjadi lengangTing-to