Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Penulis :Rana Kurniawan
EPISODE 20 – Bayangan di Balik Kekuasaan”
Genre: Drama – Politik – Intrik
Durasi: ±45 menit
Tema: Di dunia kekuasaan, kebenaran tak dibunuh — hanya dikubur di balik pencitraan.
FADE IN:
INT. RUANG INTEROGASI POLRES – PAGI
KARDI duduk di kursi besi.
Dua penyidik, IPTU DEWA dan BRIPKA RANGGA, membuka berkas.
Di atas meja: surat perintah pemeriksaan, bertuliskan “Dugaan Penyebaran Berita Hoaks & Provokasi Masyarakat.”
IPTU DEWA
(tenang tapi menekan)
Pak Kardi, Anda tahu kenapa dipanggil?
KARDI
(santai)
Karena saya bicara jujur, dan itu dianggap kejahatan.
BRIPKA RANGGA
(geram)
Hati-hati, Pak! Ini negara hukum!
KARDI
(senyum tipis)
Saya tahu.
Tapi hukum di sini suka pilih siapa yang layak dilindungi.
(Keheningan menegangkan. Dewa menatap Rangga agar tenang.)
EXT. HALAMAN POLRES – PAGI
RANA menunggu di luar, dikepung wartawan bayaran yang melontarkan pertanyaan sinis.
WARTAWAN BAYARAN
Rana, benar kamu ikut menyebarkan video fitnah itu?
Katanya kamu diundang kelompok anti-pemerintah?
RANA
(tegas)
Yang kami sebar bukan fitnah, tapi fakta.
Dan kalau fakta dianggap ancaman, berarti ada yang takut kebenaran.
(Suara blitz kamera bertubi-tubi. Rana berbalik, menatap gerbang kantor polisi dengan mata penuh tekad.)
INT. RUMAH SUGENG – SIANG
Lurah Sugeng dan kontraktor Bagus menonton berita di TV.
BERITA TV (V.O.)
“…mantan lurah Kardi resmi diperiksa atas dugaan penyebaran informasi menyesatkan…”
BAGUS
(tertawa)
Permainan selesai. Tinggal tunggu dia diam.
SUGENG
(agak gelisah)
Jangan terlalu yakin. Orang seperti Kardi — kalau diam, biasanya lagi mikir serangan balik.
(Bagus berhenti tertawa. Musik latar menegang.)
INT. KANTOR REDAKSI – MALAM
Rana mengetik di komputer tua di pojokan ruangan.
Ia sudah dipecat, tapi tetap masuk diam-diam untuk menggunakan jaringan kantor.
RANA (V.O.)
“Ketika mereka menutup semua media, aku sadar:
kebenaran harus punya salurannya sendiri.”
(Tampak layar: ia sedang membuat situs kecil bernama “SuaraKadubana.net.”)
INT. SEL TAHANAN – MALAM
Kardi duduk bersila di lantai.
Salah satu penjaga, BRIPKA RANGGA, masuk diam-diam.
RANGGA
(berbisik)
Pak... saya nonton video Bapak waktu itu.
Saya... gak percaya semua tuduhan ini.
KARDI
(tersenyum lelah)
Kalau kamu tahu yang benar, jagalah.
Karena besok, dunia akan nyuruh kamu pura-pura gak tahu.
(Rangga menunduk. Ia menaruh roti dan air minum di meja kecil, lalu pergi.)
EXT. DESA – PAGI
Warga berkumpul di balai desa, dipimpin oleh seorang tokoh tua, ABAH MUHADI.
Mereka memegang kertas bertuliskan:
“Bebaskan Kardi — Kami Percaya Rakyat Bisa Jujur.”
(Seorang pegawai kecamatan memotret diam-diam dan mengirim ke ponselnya Camat Herman.)
INT. RUANG CAMAT – SIANG
Camat Herman menunjukkan foto-foto demonstrasi ke Bupati Arman via video call.
CAMAT HERMAN
Warga mulai bergerak, Pak. Kalau ini terus, bisa jadi isu politik.
BUPATI ARMAN
(dingin)
Kalau api kecil, padamkan.
Kalau api besar, alihkan arah anginnya.
Sederhana.
CAMAT HERMAN
(diam sejenak)
Maksudnya, Pak?
BUPATI ARMAN
Buat isu baru.
Ada proyek gagal, ada korupsi kecil — lempar ke publik, biar mereka lupa Kardi.
(Herman mengangguk, wajahnya penuh rencana busuk.)
EXT. PASAR DESA – SORE
Rana sedang merekam kesaksian warga tentang pungutan liar proyek air bersih.
Ia menatap kamera dengan kalimat terakhir:
RANA
Ini bukan lagi soal Kardi.
Ini soal siapa yang berani jujur, dan siapa yang berani mendengar.
INT. SEL TAHANAN – MALAM
Kardi duduk, mendengar langkah mendekat.
Bripka Rangga datang lagi — kali ini panik.
RANGGA
Pak... saya dengar besok Bapak mau dipindah ke Lapas Serang.
Tanpa alasan jelas.
KARDI
(tersenyum kecil)
Kalau mereka pindahkan badan saya, biarkan.
Asal pikiran saya gak ikut dipenjara.
MONTAGE – MALAM HINGGA PAGI
Rana mengunggah video baru ke situs “SuaraKadubana.net.”
Warga menonton di warung kopi, wajah mereka serius.
Di grup WhatsApp, tautan berita menyebar cepat.
Nama “Kardi” kembali jadi trending, disertai tagar:
#SuaraDariKadubana
INT. RUMAH BUPATI – PAGI BERIKUTNYA
Bupati Arman melihat ponselnya, wajahnya gelap.
Ia melempar koran ke meja.
HEADLINE:
“Video Baru Ungkap Kebobrokan Proyek Kabupaten.”
BUPATI ARMAN
(marah)
Siapa bocorkan ini?!
Siapa yang main di balik layar?!
(Camera close-up ke wajah Camat Herman yang mulai panik.)
FADE OUT.
TULISAN DI LAYAR:
> BERSAMBUNG — EPISODE 21: “Langkah di Balik Bayang.”