Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Penulis : Rana Kurniawan
Episode 13 – Balasan dari Langit
Genre: Drama Politik – Thriller Sosial
Durasi: ±30 menit
Tema: Setiap dosa pasti punya penagihnya.
FADE IN:
EXT. LANGIT PAGI DESA SUKAMAJU – PAGI
Langit tampak cerah setelah hujan semalaman. Daun-daun masih basah.
Suara burung bersahutan. Kamera perlahan menuruni bukit, menyorot warga yang sedang berkumpul di depan balai desa.
Di papan pengumuman, terpampang berita besar:
“Pak Herman Dicari Atas Dugaan Korupsi Dana Proyek Jalan.”
Warga saling berbisik.
WARGA 1
Pantas aja jalannya gak jadi-jadi…
WARGA 2
Kardi jadi korban, kasihan…
Suasana berubah: dari benci jadi iba.
INT. RUMAH TAHANAN – PAGI
Kardi duduk di ruang kunjungan. Di depannya duduk Rana, membawa map tebal dan recorder kecil.
RANA
Aku mau konfirmasi, Pak. Semua bukti sudah mengarah ke Pak Herman.
Tapi publik perlu dengar dari Bapak sendiri... apa benar semua itu atas perintahnya?
KARDI (tenang)
Kalau aku jawab iya, apa bedanya aku sama mereka?
Yang penting rakyat tahu kebenaran, bukan siapa yang ngomong.
(Rana terdiam, menatap mata Kardi yang terlihat pasrah tapi tenang.)
RANA
Saya janji... nama Bapak gak akan hilang begitu saja.
KARDI (tersenyum kecil)
Jangan janji ke saya. Janji ke diri kamu, buat gak tunduk sama tekanan.
INT. KANTOR POLISI – SIANG
Pak Herman duduk di ruang interogasi. Wajahnya tegang.
Di depannya dua penyidik memutar rekaman video dari flashdisk.
PAK HERMAN (terpancing)
Itu hasil editan! Fitnah semua!
PENYIDIK
Tapi suara Bapak mirip, dan rekening perusahaan Bapak terhubung ke aliran dana kampanye Kardi.
Masih mau bilang fitnah?
(Herman terdiam, menatap meja. Tangannya gemetar. Keringat bercucuran.)
INT. MOBIL PAK HERMAN – MALAM
Herman keluar dari kantor polisi dengan wajah muram.
Ia naik ke mobil bersama sopirnya. Mobil melaju cepat.
SOPIR
Mau langsung pulang, Pak?
PAK HERMAN (pelan)
Enggak. Ke vila di perbukitan.
Aku butuh tenang...
(Sopir mengangguk, tapi kamera menyorot wajahnya curiga — ternyata sopir itu agen rahasia polisi.)
EXT. VILA PAK HERMAN – MALAM
Vila mewah di tengah hutan. Lampu-lampu temaram.
Herman membuka koper penuh uang dan dokumen.
PAK HERMAN (monolog)
Semua ini... kerja keras bertahun-tahun.
Aku gak akan biarin semua hilang begitu aja.
(Ia menatap ke langit malam — terdengar guntur dari kejauhan.)
INT. REDAKSI – MALAM
Rana menerima panggilan telepon dari sumber rahasia.
SUARA MISTERIUS (V.O.)
Pak Herman kabur ke vila pribadinya. Kalau mau bukti final, datanglah malam ini.
RANA
Siapa kamu?
SUARA MISTERIUS
Seseorang yang juga pernah ditipu uang dua ratus juta.
(Telepon terputus. Rana menatap Dita.)
RANA
Ambil kamera. Kita ke sana sekarang.
EXT. VILA PAK HERMAN – HUJAN MALAM
Petir menyambar. Rana dan Dita tiba dengan jas hujan, menyelinap ke area vila.
Dari dalam terdengar suara Pak Herman berbicara lewat telepon.
PAK HERMAN (terdengar)
Uang ini cukup buat aku hidup di luar negeri!
Mereka pikir bisa jebak aku? Aku yang buat permainan ini!
(Tiba-tiba pintu vila terbuka. Rana menyorot kamera. Suara petir menyambar — ekspresi Herman terlihat jelas, panik.)
RANA (teriak)
Semua terekam, Pak Herman! Kebenaran udah keluar!
(Herman kalap, berlari ke arah mobilnya. Polisi datang dari sisi lain. Sopir yang ternyata agen rahasia mengeluarkan pistol.)
SOPIR / AGEN
Pak Herman! Jangan coba kabur!
(Herman menyalakan mobil, tancap gas — tapi jalanan licin. Mobil tergelincir ke jurang. Ledakan kecil terdengar. Kamera fokus ke langit — hujan deras menutupi semuanya.)
EXT. DEPAN VILA – PAGI BERIKUTNYA
Asap masih mengepul dari jurang. Polisi mengevakuasi lokasi.
Rana berdiri diam, menatap sisa mobil yang terbakar.
DITA (pelan)
Jadi ini balasan dari langit, ya Ran?
RANA
Bukan balasan... cuma akibat yang datang tepat waktu.
INT. RUMAH TAHANAN – PAGI
Kardi membaca koran dengan headline:
“Pak Herman Tewas Saat Kabur, Kasus Korupsi Ditutup.”
Ia menatap ke langit lewat jeruji.
KARDI (monolog)
Mungkin langit masih sayang sama desa ini...
Aku cuma berharap, gak ada lagi lurah yang lahir dari uang haram.
(Ia menatap foto keluarganya. Senyum kecil muncul.)
EXT. DESA SUKAMAJU – SIANG
Warga mulai menanam pohon di sekitar balai desa.
Di antara mereka, Saripah ikut menanam sambil tersenyum. Rana datang dan menghampirinya.
RANA
Desanya sekarang mulai beres ya, Bu.
SARIPAH (tersenyum lembut)
Iya. Kardi pasti senang lihatnya, walau dari balik jeruji.
EXT. LANGIT DESA – SORE
Kamera naik ke atas, menyorot desa yang damai.
Suara Kardi terdengar sebagai narasi penutup:
KARDI (V.O.)
Kadang kita harus jatuh dul
u, biar ngerti gimana cara berdiri dengan benar.
Aku jatuh karena uang. Tapi berdiri lagi... karena kebenaran.
FADE OUT.
TULISAN DI LAYAR:
BERSAMBUNG – EPISODE 14: “Lurah Dari Balik Jeruji”