Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Penulis : Rana Kurniawan
Episode 8: Serangan Balik
Genre: Drama Politik, Satire Sosial
Durasi: ±25 menit
Tema: Saat kebenaran jadi senjata dan kebohongan jadi pelindung
FADE IN:
EXT. PASAR DESA SUKAMAJU – PAGI
Suasana pasar ramai. Warga saling bisik-bisik sambil membaca koran lokal.
Judul besar di halaman depan:
“DANA GELAP DI BALIK KAMPANYE KARDI”
PEDAGANG 1
Waduh, calon lurah kita masuk koran, nih.
Katanya duit kampanye dari orang kota?
PEDAGANG 2
Makanya... dulu bilang jujur, sekarang kok kaya mendadak.
(Kamera mengikuti koran yang berpindah dari tangan ke tangan. Nama Kardi makin viral di desa.)
INT. RUMAH KARDI – PAGI
Saripah membaca berita itu dengan wajah murung.
Kardi masuk tergesa, wajahnya tegang.
SARIPAH
Kamu liat berita pagi ini, Pak?
KARDI
(lihat sekilas, mendengus)
Ah, itu cuma fitnah.
Rana udah kelewatan.
SARIPAH
Fitnah atau fakta, warga gak peduli.
Yang mereka liat cuma uang dan berita.
(Kardi menarik napas panjang, lalu memukul meja keras.)
KARDI
Aku udah keluarin semua buat rakyat!
Kenapa malah dibilang korupsi sebelum aku jadi lurah?!
(Saripah menatap suaminya sedih — Kardi makin jauh dari sosok yang dulu sederhana.)
INT. POSKO TIM KAMPANYE – SIANG
Suasana kacau. Dul dan Amat sibuk menenangkan relawan yang mulai resah.
RELawan 1
Gimana ini, Bang Dul?
Kalo berita itu bener, bisa gagal total kita!
AMAT
(berusaha tenang)
Kita harus klarifikasi ke warga.
Tapi jangan pakai uang lagi, udah cukup!
DUL
(emosi)
Lah, gimana mau menang kalau gak bagi amplop?
Sekarang bukan waktunya idealis, Mat!
(Dua sahabat mulai berselisih. Kamera close-up: simbol retaknya persahabatan karena politik.)
INT. REDAKSI MEDIA – SIANG
Rana duduk di depan laptop, menatap layar kosong.
Ia ragu — antara tugas dan rasa bersalah.
DITA
Kamu yakin, Ran, mau terus nulis soal Kardi?
Dia dulu orang baik.
RANA
(tenang tapi getir)
Kadang orang baik cuma butuh sedikit uang buat lupa siapa dirinya.
Kalau aku diem, artinya aku ikut kotor juga.
(Ia mengetik cepat. Di layar muncul judul baru:
“Janji yang Terjual: Lurah Dua Ratus Juta.”)
EXT. DESA SUKAMAJU – SORE
Kardi dan timnya mengadakan acara klarifikasi di lapangan.
Panggung sederhana, warga berkumpul dengan wajah ragu.
Kardi berdiri di depan mikrofon.
KARDI
Saudara-saudaraku!
Berita yang kalian baca itu bohong!
Saya gak disetir siapa pun!
Saya berjuang demi desa, demi kalian semua!
(Tepuk tangan kecil, tapi wajah warga tetap ragu.)
Dari kejauhan, seorang wartawan kota memotret — lampu flash menyala berkali-kali.
Rana memperhatikan dari jauh, menunduk pelan.
INT. MOBIL PAK HERMAN – MALAM
Pak Herman membaca berita terbaru di ponselnya sambil tersenyum sinis.
PAK HERMAN
Kasian... mulai kebakaran sendiri.
Tapi gak apa-apa.
Orang panik biasanya makin mudah dikendalikan.
(Ia menelpon seseorang.)
PAK HERMAN (lanjut)
Pastikan Kardi tetap lanjut.
Kalo dia mundur sekarang, duit kita melayang.
INT. RUMAH KARDI – MALAM
Kardi termenung sendirian di ruang tamu.
Dari luar jendela, terdengar suara warga bergosip.
Saripah datang membawa teh.
SARIPAH
Masih bisa tidur malam ini?
KARDI
(senyum kaku)
Gak bisa. Suara mereka lebih keras dari hatiku.
SARIPAH
Kalau kamu masih punya hati, Pak, berhenti sekarang.
Kemenangan yang kotor cuma bikin hidup tambah hancur.
(Kardi menatap wajah istrinya lama, tapi tak menjawab. Kamera menyorot tangan Kardi yang gemetar menggenggam amplop terakhir dari Pak Herman.)
EXT. LAPANGAN DESA – MALAM BERIKUTNYA
Panggung kampanye besar berdiri. Musik dangdut menggelegar, lampu-lampu menyala terang.
Warga menari, sebagian datang hanya untuk nasi kotak.
Kardi berdiri di belakang panggung, wajahnya kosong.
Dul menepuk bahunya.
DUL
Ayo, Kar. Malam ini bisa jadi malam kemenanganmu.
Kardi tersenyum tipis.
KARDI (pelan)
Atau malam terakhirku jadi orang baik.
(Kamera menyorot wajah Kardi — separuh tertutup bayangan lampu, simbol dua sisi dirinya.)