Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Penulis : Rana Kurniawan
Episode 12: Api Dalam Bayangan
Genre: Drama Politik, Thriller Sosial
Durasi: ±30 menit
Tema: Kebenaran bisa disembunyikan, tapi tidak bisa dimatikan
FADE IN:
INT. RUANG KERJA PAK HERMAN – MALAM
Lampu ruangan redup. Asap rokok mengepul pelan.
Pak Herman duduk di kursi kulitnya, menatap layar laptop yang menampilkan berita penangkapan Kardi.
BERITA TV (V.O.)
“Calon lurah Desa Sukamaju, Kardi, ditahan untuk penyelidikan dana kampanye sebesar dua ratus juta rupiah.”
(Herman tersenyum tipis.)
PAK HERMAN
Bagus... biar dia yang jadi kambing hitam.
Aku tetap bersih.
(Ia menelpon seseorang.)
PAK HERMAN (lanjut)
Pastikan semua dokumen yang nyambung ke aku hilang malam ini.
Dan... wartawan yang nulis berita itu — buat dia diam.
(Ia matikan telepon. Wajahnya tenggelam dalam bayangan lampu.)
INT. REDAKSI MEDIA – MALAM
Rana dan Dita masih bekerja lembur.
Tiba-tiba listrik mati sekejap. Dita kaget.
DITA
Lho... PLN mati?
(Suara kaca pecah terdengar dari belakang. Rana spontan berdiri.)
RANA
Ada orang!
(Dua pria berpakaian hitam masuk, wajah tertutup masker. Salah satunya berusaha mengambil laptop Rana.)
RANA
Lepas! Itu data investigasi!
(Terjadi tarik-menarik. Salah satu pria menendang meja, menjatuhkan tumpukan berkas. Rana menjerit kecil.)
Polisi tiba di luar, terdengar sirine. Para pria kabur lewat jendela belakang.
DITA (terengah)
Ran... kamu yakin ini cuma soal berita?
RANA (menatap laptop yang retak)
Enggak. Ini soal kebenaran yang mereka takuti.
INT. RUMAH TAHANAN – PAGI
Kardi duduk di bangku, menulis sesuatu di kertas lusuh.
Petugas lewat, memperhatikan.
PETUGAS
Nulis apa, Kar?
KARDI
Surat.
Buat warga... dan buat istriku.
(Ia tersenyum lemah.)
PETUGAS
Masih banyak yang bela kamu di luar. Katanya kamu cuma korban.
KARDI
Korban keserakahanku sendiri.
Tapi kalau ada yang masih percaya, aku berterima kasih.
*(Kamera mendekat ke suratnya — tulisan tangan sederhana:
“Jangan pilih pemimpin karena uang. Pilih yang masih bisa tidur dengan tenang.”)*
INT. RUMAH SARIPAH – SIANG
Saripah menerima amplop misterius dari kurir.
Ia buka, berisi flashdisk dan sepucuk surat tanpa nama.
Isi surat:
“Bukti yang bisa membersihkan nama suamimu. Tapi hati-hati — mereka mengawasi.”
(Saripah gemetar, menatap flashdisk itu.)
SARIPAH (berbisik)
Ya Allah... ini dari siapa?
INT. WARNET DESA – SORE
Saripah masuk warnet sederhana. Ia colok flashdisk ke komputer.
Di layar muncul folder: “TRANSFER_HERMAN”
Ada rekaman video — Pak Herman menyerahkan uang ke Dul dan menyebut nama Kardi.
PAK HERMAN (dalam video)
Ini buat jalan kamu, Kardi jangan tau semua. Cukup kamu yang urus.
Kalau bocor, habis semuanya.
(Saripah menutup mulut, menahan tangis. Wajahnya pucat.)
EXT. TERMINAL DESA – SORE
Sementara itu, Dul sedang menunggu bus, membawa koper.
Wajahnya gelisah. Ia terus menatap sekeliling.
Ponselnya berdering — nomor tak dikenal.
SUARA TELEPON (PAK HERMAN)
Kau pikir bisa kabur, Dul?
Kau bawa uangku, dan sekarang bukti rekamanku ada di luar.
DUL (panik)
Saya cuma mau selamat, Pak! Saya gak akan ngomong apa-apa!
(Tiba-tiba dua pria turun dari mobil hitam di kejauhan. Dul langsung berlari, tasnya terjatuh. Kamera menyorot koper terbuka — uang berserakan di tanah.)
INT. RUMAH SARIPAH – MALAM
Saripah mendatangi rumah Rana dengan wajah tegang.
SARIPAH
Ini buktinya, Pak Rana. Rekaman dari orang dalam.
Suami saya bukan pelaku utama!
RANA (kaget)
Dari mana kamu dapat ini?
SARIPAH
Gak tahu. Ada yang ngirim. Tapi aku yakin... ini jalan Tuhan.
(Rana menatap Saripah dalam, lalu membuka laptop untuk menyalin file. Musik menegang.)
INT. KANTOR REDAKSI – MALAM
Rana menulis laporan baru:
“Dalang di Balik Dana Dua Ratus Juta: Jejak Pak Herman.”
Dita menatap layar dan berbisik,
DITA
Kamu siap? Kalau ini naik, kamu bisa dibungkam beneran.
RANA (mantap)
Kebenaran gak butuh perlindungan. Yang butuh itu manusia.
*(Ia klik tombol “Publish.” Layar menampilkan tulisan:
“Artikel berhasil dipublikasikan.”)*
EXT. KANTOR PAK HERMAN – MALAM
Pak Herman melihat berita itu di ponselnya. Wajahnya berubah tegang.
Ia melempar ponselnya ke dinding.
PAK HERMAN
Siapa yang bocorin ini?!
(Teleponnya berdering. Suara di seberang dingin dan berat.)
SUARA MISTERIUS (V.O.)
Sudah kubilang, Herman...
Uang bisa beli banyak hal — tapi tidak bisa beli akhir yang tenang.
(Layar ponsel menampilkan nomor tanpa nama: “PENGAWAS”).
Pak Herman gemetar, menatap sekeliling ruangan yang gelap.)
INT. RUMAH TAHANAN – PAGI BERIKUTNYA
Kardi melihat berita di koran:
“Dalang Dana Kampanye Tersingkap – Nama Herman Diperiksa”
Ia tersenyum pelan, air matanya menetes.
KARDI (monolog)
Akhirnya... api yang aku nyalain, padam juga — bukan di aku, tapi di orang yang buat aku terbakar.
EXT. DESA SUKAMAJU – SIANG
Warga berkumpul, membaca berita di papan pengumuman desa.
Suasana berbeda kali ini — bukan hujatan, tapi rasa malu dan hening.
WARGA 1
Ternyata dia gak sepenuhnya salah, ya...
WARGA 2
Kadang yang keliatan bersalah, justru yang paling jujur.
INT. RUMAH SARIPAH – SORE
Saripah membaca surat dari Kardi yang dikirim dari tahanan.
“Aku gak butuh jabatan lagi, Pipah.
Aku cuma mau kau tahu — aku udah bersihin nama kita dengan cara yang benar
.
Kalau aku gak pulang cepat, jangan tunggu.
Tapi percaya... aku pulang sebagai orang yang bersih.”
(Saripah menangis pelan, menatap langit sore dari jendela.)
FADE OUT.
TULISAN DI LAYAR:
BERSAMBUNG – EPISODE 13: “BALASAN DARI LANGIT”