Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Lurah 200 Juta
Suka
Favorit
Bagikan
4. Uang Suara dan Dusta
Skrip ini masih diperiksa oleh kurator

Penulis : Rana Kurniawan


Episode 4: Uang, Suara, dan Dusta


Genre: Drama, Satire Politik

Durasi: ±25 menit

Tema: Ketika niat baik mulai ditukar dengan amplop



FADE IN:


EXT. DESA SUKAMAJU – PAGI


Suara toa masjid memanggil warga.

Kamera mengikuti KARDI yang berjalan tergesa menuju warung Pak Jono.

Di tangannya ada amplop lusuh berisi sisa uang kampanye.


KARDI (V.O.)

Tinggal segini...

Tapi suara warga belum semua berpihak.

Kalau berhenti sekarang, kalah sebelum mulai.



INT. WARUNG KOPI PAK JONO – PAGI


Suasana ramai. Warga sedang membicarakan calon lurah lain yang mulai pasang baliho besar dan bagi-bagi uang.

Poster calon “H. SAMSUDIN – DESA SEJAHTERA” terpampang di pintu warung.


DUL

(berbisik ke Kardi)

Liat tuh, Kar. Si Samsudin bagi-bagi amplop lima puluh ribu per kepala.

Warga kita langsung pindah haluan.


KARDI

(geram)

Mereka pikir semua suara bisa dibeli?


DUL

Kar, kenyataannya bisa.

Kalo kamu gak ikut bagi-bagi, bisa-bisa gak ada yang pilih kamu.


Kardi diam. Kamera menyorot wajahnya yang menegang.



EXT. SAWAH – SIANG


Kardi duduk di gubuk bersama AMAT.

Ia menatap ke arah sawah luas yang mulai mengering.


AMAT

Kar, kamu kenal gak sama Pak Jatmiko?


KARDI

Yang punya toko bangunan itu?


AMAT

Iya. Katanya dia nyari calon lurah buat “diajak kerja sama.”

Dia siap bantu dana kampanye... asal nanti proyek desa lewat dia semua.


(Kardi diam, termenung. Angin sawah bertiup pelan.)


KARDI

(berpikir keras)

Kerja sama atau jebakan, Mat?


AMAT

Tergantung niat kamu, Kar.

Kalo kamu pinter main, bisa untung dua kali.


Kardi menatap jauh ke horizon. Musik latar mulai tegang.



INT. TOKO BANGUNAN PAK JATMIKO – SORE


Tumpukan semen dan cat berjejer rapi.

Pak Jatmiko, pria paruh baya licin, duduk di belakang meja.


PAK JATMIKO

(senyum lebar)

Saya udah denger nama kamu, Pak Kardi.

Kata orang, kampanye kamu beda.

Rakyat suka yang sederhana, tapi...

(sambil menyodorkan amplop tebal)

sederhana aja gak cukup buat menang.


Kardi menatap amplop itu lama.


KARDI

Berapa ini?


PAK JATMIKO

Anggap aja bantuan.

Kalo nanti kamu menang, bantu saya soal proyek jalan, air, dan bangunan desa.

Kita sama-sama untung.


(Kamera close-up ke amplop. Musik menegang.)


KARDI

(nada pelan)

Saya pikirin dulu.



INT. RUMAH KARDI – MALAM


Saripah menyiapkan makan malam sederhana.

Kardi duduk di kursi, gelisah, amplop dari Pak Jatmiko di tangannya.


SARIPAH

Ada apa, Pak?


KARDI

Ada orang nawarin bantuan buat kampanye.


SARIPAH

(bingung)

Bantuan atau jebakan?


KARDI

(gelisah)

Aku cuma pengen menang, Bu...

Sekali ini aja. Habis itu aku bisa bantu banyak orang.


SARIPAH

(tenang tapi menusuk)

Banyak orang… atau cuma dirimu sendiri?


(Kardi diam. Kamera zoom pelan ke wajah Saripah yang kecewa tapi pasrah.)



EXT. WARUNG KOPI – MALAM


Kardi, Dul, dan Amat duduk di bangku kayu.

Uang dari Pak Jatmiko kini di meja, dalam plastik bening.


DUL

Jadi… kamu terima?


KARDI

(tenang tapi berat)

Ini bukan uang haram…

Cuma pinjaman sementara.

Buat kebaikan kampanye.


AMAT

Heh, kebaikan pake duit kayak gini?

Beneran yakin?


KARDI

(senyum getir)

Kebaikan kadang butuh modal, Mat.


(Ketiganya diam. Musik latar turun pelan.)



EXT. LAPANGAN DESA – HARI BERIKUTNYA


Suasana meriah. Tenda kampanye sederhana berdiri.

Spanduk baru:


“KARDI UNTUK DESA MAJU – BERKARYA, BUKAN BERJANJI.”




Kardi berdiri di atas panggung bambu.

Di belakang, Dul membagikan amplop kecil pada beberapa warga.


KARDI (V.O.)

Kalau ini harga untuk dipercaya...

aku bayar.

Asal bisa duduk di kursi lurah, semua bakal aku balikin.


(Kamera berputar perlahan menyorot wajah warga yang tersenyum menerima amplop.)



INT. REDAKSI MEDIA – MALAM


Rana membaca berita kampanye Kardi yang viral di media lokal.

Ia menatap foto Kardi membagikan amplop.

Wajahnya berubah kecewa.


RANA

Pelan-pelan, semua orang bisa berubah...

termasuk yang niatnya paling tulus.


(Ia mulai menulis judul baru di layar laptop:

“Dari Kopi ke Amplop — Perjalanan Kardi Menuju Kursi Lurah.”)



EXT. DEPAN RUMAH KARDI – MALAM


Kardi menghitung sisa uang di atas meja bambu.

Wajahnya cemas tapi penuh tekad.

Saripah datang, berdiri di pintu.


SARIPAH

Berapa lagi yang kamu mau keluarin, Pak?


KARDI

(terdiam, lalu menatap istrinya)

Sampai aku menang, Bu.


Sampai semua ini gak sia-sia.


(Saripah memalingkan wajah. Kamera close-up ke tangan Kardi yang menggenggam amplop tebal.)



FADE OUT.



> BERSAMBUNG – EPISODE 5: “BALIHO DAN BAYARAN SUARA”




Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)