Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Lurah 200 Juta
Suka
Favorit
Bagikan
10. Pajar Terakhir
Skrip ini masih diperiksa oleh kurator

Penulis : Rana Kurniawan


Episode 10: Pijar Terakhir


Genre: Drama Politik, Satire Sosial

Durasi: ±25 menit

Tema: Ketika penyesalan datang, tapi dunia tak memberi kesempatan kedua



FADE IN:


INT. RUMAH KARDI – SUBUH


Kardi duduk di kursi ruang tamu, belum tidur semalaman.

Di hadapannya amplop tebal berisi uang dari Pak Herman — belum disentuh.

Saripah keluar dari kamar, wajah lelah.


SARIPAH

Kamu belum tidur?


KARDI

(tersenyum hambar)

Tidur susah, Pipah.

Setiap pejam mata, yang lewat cuma wajah orang-orang yang aku tipu.


(Saripah menatap suaminya penuh iba.)


SARIPAH

Kalau kamu masih bisa merasa bersalah, berarti belum terlambat.

Tinggal berhenti, Pak.


(Kardi menatap uang di meja.)


KARDI

Berhenti itu gampang buat orang yang gak punya utang budi.

Tapi aku? Aku udah tanda tangan banyak janji.

Kalau aku mundur sekarang... aku bukan cuma kehilangan jabatan, Pipah. Aku kehilangan harga diri.


(Saripah menggeleng pelan.)


SARIPAH

Harga diri bukan soal jabatan, Pak... tapi soal jujur sama diri sendiri.


(Kardi diam. Cahaya matahari pagi menembus jendela — sinar lembut menerpa wajahnya, tapi tatapan matanya kosong.)



EXT. DESA SUKAMAJU – PAGI


Warga berkumpul di warung kopi, membicarakan hasil debat tadi malam.


WARGA 1

Aku kasian juga sama Kardi, kelihatannya dia tulus.

Tapi ya... duit tetep duit.


WARGA 2

Heh, tulus tapi amplopnya tebal!

Kalo bukan uang haram, mana mungkin segitu banyaknya?


(Suara tawa keras terdengar. Kamera menyorot wajah anak kecil yang mendengarkan pembicaraan itu — simbol warisan moral pada generasi berikut.)



INT. KANTOR PAK HERMAN – SIANG


Pak Herman berdiri di depan jendela, berbicara lewat telepon.


PAK HERMAN

Aku gak mau ada berita bocor lagi.

Kalau Rana atau tim medianya terus ganggu, urus aja dengan cara biasa.


(Nada suaranya dingin. Ia mematikan telepon dan menatap foto dirinya bersama pejabat tinggi — tersenyum licik.)



INT. KEDAI KOPI DESA – SIANG


Rana bertemu Dita, membawa flashdisk kecil di tangannya.


RANA

Ini rekaman dari salah satu anggota tim suksesnya Kardi.

Ada bukti transaksi antara Kardi dan Herman.

Tapi...


DITA

Tapi kamu ragu mau rilis?


RANA

Iya. Aku lihat sendiri semalam, dia menyesal.

Kalau berita ini keluar, dia hancur. Tapi kalau disimpan, kebenaran yang hancur.


(Rana menatap flashdisk itu lama — simbol beban moral wartawan.)



INT. POSKO KAMPANYE KARDI – SORE


Dul dan Amat sedang bertengkar keras.


AMAT

Kita udah salah dari awal, Dul!

Uang itu bukan rezeki bersih!


DUL

Ah, jangan sok suci! Kalo bukan karena aku, kampanye ini gak jalan!

Sekarang tinggal dikit lagi menang, kamu malah mau mundur?


(Kardi masuk ke ruangan, menghentikan mereka.)


KARDI

Cukup!

Kita semua salah.

Tapi mulai hari ini, gak ada amplop lagi yang keluar.


DUL

(langsung bereaksi)

Kalau gitu habis, Kar!

Warga gak milih kalo gak dikasih apa-apa!


KARDI

Biarlah.

Aku mau lihat siapa yang masih mau milih aku tanpa uang.


(Suasana hening. Dul menatap Kardi tajam lalu pergi meninggalkan posko.)



EXT. SAWAH DESA – SENJA


Kardi berjalan sendirian melewati pematang sawah.

Suara jangkrik mulai terdengar.

Ia berhenti, melihat anak-anak kecil berlarian sambil tertawa.


KARDI (monolog)

Mereka gak ngerti apa itu politik... dan semoga gak pernah ngerti.

Cukup aku aja yang kotor.


(Ia menatap langit senja — cahaya oranye memantul di wajahnya, seperti sisa pijar terakhir dari hati yang masih hidup.)



INT. REDAKSI MEDIA – MALAM


Rana menatap layar komputer.

Berita dengan judul “Transaksi Gelap Calon Lurah” siap diunggah.

Jarinya gemetar di atas tombol publish.


DITA (O.S.)

Ran, kamu yakin?


(Rana menatap layar, lalu menutup mata sejenak.)


RANA

Kebenaran gak butuh waktu yang tepat.

Dia cuma butuh keberanian.


*(Ia menekan ENTER. Layar menampilkan tulisan:


“Berita berhasil diunggah.”)*




EXT. DESA SUKAMAJU – PAGI BERIKUTNYA


Warga berkerumun di depan warung, membaca berita online di ponsel mereka.

Kardi keluar rumah, disambut tatapan tajam dan bisikan pelan.


WARGA 1 (berbisik)

Itu dia orangnya...

Lurah dua ratus juta.


(Kardi berdiri diam di tengah jalan desa. Kamera menyorot wajahnya dari dekat — mata merah, tapi bukan karena marah, melainkan karena lelah dan malu.)




INT. RUMAH KARDI – MALAM


Saripah mendekati Kardi yang duduk diam.

Televisi menayangkan berita dirinya.


PRESENTER TV (V.O.)

...calon lurah Desa Sukamaju, Kardi, diduga menerima dana kampanye tidak sah dari pihak luar desa...


SARIPAH

(berbisik)

Sekarang apa, Pak?


KARDI

Sekarang... aku bayar semua kesalahanku.

Walau harus sendiri.


(Ia

menatap foto keluarganya, lalu berjalan keluar rumah dengan wajah tenang — seakan sudah siap menghadapi apa pun.)



FADE OUT.

TULISAN DI LAYAR:


BERSAMBUNG – EPISODE 11: “SAAT SEMUA TERBONGKAR”

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)