Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Lurah 200 Juta
Suka
Favorit
Bagikan
15. Gerbang Kebebasan
Skrip ini masih diperiksa oleh kurator

Penulis : Rana Kurniawan


Episode 15 – Gerbang Kebebasan


Genre: Drama Kehidupan – Sosial Politik

Durasi: ±40 menit

Tema: Kebebasan bukan soal keluar dari penjara, tapi keluar dari penyesalan.



FADE IN:


INT. PENJARA – PAGI


Sirine pagi berbunyi pelan.

Para napi sudah bangun dan berbaris.

Kardi duduk di ranjangnya, menatap kalender di dinding — tanggal 1 Juni dilingkari merah besar, bertuliskan:


“Hari Aku Pulang.”


Petugas datang membuka sel.


PETUGAS (tersenyum)

Kardi. Sudah waktunya.


(Kardi berdiri perlahan, matanya berkaca-kaca. Ia menatap sel itu untuk terakhir kalinya.)


KARDI (pelan)

Tempat yang ngajarin aku jadi manusia lagi.



EXT. HALAMAN PENJARA – PAGI


Langit cerah. Saripah sudah menunggu di luar gerbang bersama beberapa warga yang dulu pernah menolak Kardi.

Rana juga hadir, membawa kamera.


Pintu besi terbuka perlahan.

Kardi keluar, langkahnya tenang, tapi matanya penuh emosi.


SARIPAH (meneteskan air mata)

Akhirnya... pulang juga, Kar.


KARDI (tersenyum lembut)

Iya, Pipah. Tapi rasanya seperti baru lahir, bukan pulang.


(Warga menyambut dengan tepuk tangan pelan. Beberapa menunduk malu, merasa bersalah.)



EXT. JALAN DESA – SIANG


Mobil yang ditumpangi Kardi melaju perlahan melewati jalan tanah yang dulu ia janjikan akan dibangun.

Sekarang, jalan itu sudah diaspal — hasil proyek baru dari pemerintah kabupaten.


KARDI (V.O.)


“Aku dulu pikir, jadi lurah itu soal siapa yang bisa memperbaiki jalan.

Tapi sekarang aku ngerti — yang harus diperbaiki dulu itu hati orang-orangnya.”


INT. RUMAH KARDI – SIANG


Kardi masuk ke rumah lamanya.

Dinding masih sama, tapi di meja ada pigura baru — foto dirinya dan Saripah yang diambil saat kunjungan penjara.


Ia menatap foto itu lama.

KARDI (pelan)

Terima kasih, Pipah... udah gak ninggalin aku walau semua orang pergi.


SARIPAH (tersenyum)

Kalau cinta cuma diukur dari bebas atau enggak... berarti aku juga udah lama di penjara, Kar.


(Mereka berpelukan, lama, penuh keharuan.)


EXT. BALAI DESA – SORE


Warga desa mengadakan acara syukuran kecil menyambut kebebasan Kardi.

Anak-anak berlarian, ibu-ibu menyiapkan nasi tumpeng.


Rana mewawancarai Kardi di tengah keramaian.


RANA

Sekarang Bapak sudah bebas. Apa langkah pertama setelah ini?


KARDI (menatap warga)

Saya mau buka ruang baca di desa.

Biar anak-anak tahu, pemimpin itu bukan yang banyak uang... tapi yang banyak pengetahuan.


(Tepuk tangan terdengar. Beberapa warga meneteskan air mata haru.)



INT. KANTOR DESA – MALAM


Kardi duduk sendirian di kursi lurah — kursi lamanya.

Ia hanya menatap kursi itu, lalu berdiri dan menaruh selembar surat di atas meja.


Isi surat:


“Saya tidak akan kembali mencalonkan diri.

Karena jabatan bukan tujuan, tapi ujian yang sudah cukup sekali saya lewati.”


(Kardi menaruh kunci kantor di samping surat itu dan keluar.)



EXT. PINGGIR SAWAH – MALAM


Rana menghampiri Kardi yang sedang duduk menatap langit, ditemani lampu minyak kecil.


RANA

Saya kagum, Pak.

Banyak orang keluar dari penjara malah ingin balas dendam.

Bapak malah bantu orang lagi.


KARDI (tersenyum tenang)

Karena penjara yang sebenarnya bukan di balik jeruji, Rana.

Tapi di dalam hati orang yang gak pernah mau belajar dari kesalahan.


(Angin malam berhembus lembut. Rana menatapnya dengan hormat.)



INT. KANTOR MEDIA – PAGI


Rana mengetik artikel baru:


“Gerbang Kebebasan: Lurah yang Lahir Kembali.”



RANA (V.O.)


“Kardi mungkin kehilangan jabatan, tapi ia menemukan sesuatu yang lebih besar — kepercayaan rakyat.

Karena pemimpin sejati... tidak diangkat oleh suara terbanyak, tapi oleh hati yang tersentuh.”




EXT. LAPANGAN DESA – PAGI BERIKUTNYA


Kardi bersama anak-anak muda membangun perpustakaan kecil dari bambu.

Tulisan di depannya:


“Rumah Baca Dua Ratus Juta – Dari Salah Menjadi Sekolah.”



Semua warga ikut membantu.

Tawa, canda, dan semangat terasa di udara.



EXT. LANGIT DESA – SENJA


Kamera menyorot langit jingga.

Rana berdiri di tepi sawah, mengambil gambar terakhir.


RANA (V.O.)


“Kadang, Tuhan biarkan kita jatuh bukan untuk menghukum...

Tapi supaya kita tahu, di mana se

benarnya tanah tempat berpijak.”



Kardi menatap langit yang mulai gelap, lalu tersenyum.



FADE OUT.

TULISAN DI LAYAR:


BERSAMBUNG – EPISODE 16: “Pemimpin Tanpa Jabatan”



Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)