Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Lurah 200 Juta
Suka
Favorit
Bagikan
14. Lurah Dari Balik Jeruji
Skrip ini masih diperiksa oleh kurator

Penulis : Rana Kurniawan


Episode 14 – Lurah Dari Balik Jeruji


Genre: Drama Kehidupan – Politik Sosial

Durasi: ±35 menit

Tema: Pemimpin sejati tidak butuh panggung, cukup hati yang bersih.



FADE IN:


INT. PENJARA KELAS II – PAGI


Suara peluit menggema. Para napi berbaris di lapangan.

Kardi berdiri di barisan tengah, memakai seragam oranye. Wajahnya tenang, rambut sedikit memutih.


Petugas lewat sambil mencatat nama-nama.

PETUGAS (tegas)

Kardi! Hari ini giliran kamu dapet jatah dapur. Jangan telat.


KARDI (tersenyum)

Siap, Pak.

(Nada suaranya sopan, tanpa beban.)


Kamera menyorot napi lain — sebagian hormat padanya, sebagian kagum.



INT. DAPUR PENJARA – PAGI


Kardi memasak nasi dalam panci besar. Di sekelilingnya beberapa napi muda bercanda.


NAPI MUDA 1

Pak Kardi, katanya Bapak dulu lurah, ya?

Sekarang malah masak buat napi... gak nyesel?


KARDI (tersenyum lembut)

Dulu aku mimpin orang dengan uang.

Sekarang aku belajar mimpin dengan sabar.


(Napi lain terdiam, terkesan.)


NAPI MUDA 2 (pelan)

Berarti... di sini pun Bapak masih lurah ya, Pak.

Lurah dapur.


Semua tertawa kecil.



INT. RUANG KUNJUNGAN – SIANG


Saripah datang membawa makanan. Ia duduk di depan kaca pemisah.

Kardi menatapnya, senyum tipis.


SARIPAH (sedikit berkaca-kaca)

Aku masih sering ke makam Pak Herman. Orang-orang bilang dia pantas dapet akhir kayak gitu.

Tapi aku... malah kasihan.


KARDI

Kasihan boleh. Tapi jangan lupa, tiap orang punya jalannya sendiri.

Aku juga pernah di tempat dia berdiri. Bedanya... aku sempat berhenti sebelum tenggelam.


(Saripah menunduk, meneteskan air mata.)


SARIPAH

Aku bangga sama kamu, Kar.

Kamu bukan lurah di mata desa lagi... tapi lurah di hati orang-orang.



INT. PENJARA – MALAM


Kardi duduk di pojok sel. Di tangannya, sebuah buku lusuh bertuliskan “Catatan Dari Jeruji.”

Ia menulis dengan tenang, di bawah cahaya lampu redup.


KARDI (V.O.)


“Jabatan itu seperti api. Kalau kau pegang dengan tamak, dia bakar tanganmu.

Tapi kalau kau jaga dengan hati, dia bisa menerangi jalan orang lain.”



(Kamera menyorot napi-napi lain yang mulai mendekat, mendengarkan tulisan Kardi.)


NAPI 1

Pak Kardi, bacain lagi dong, yang kemarin tentang maaf itu.


KARDI (tersenyum)

Yang tentang maaf... atau yang tentang dosa yang gak kelar walau pintu penjara kebuka?


(Tawa kecil terdengar di dalam sel.)



INT. KANTOR REDAKSI – MALAM


Rana membaca artikel dari internet:


“Catatan dari napi kasus korupsi viral, isi tulisan menyentuh banyak orang.”



DITA

Itu tulisan Kardi, kan?

Aku gak nyangka, tulisan orang yang dulu kita tangkap beritanya malah nyentuh ribuan hati.


RANA (tersenyum kecil)

Kadang, Tuhan kasih panggung baru — di tempat yang paling kita benci.



INT. PENJARA – PAGI


Petugas datang membawa surat.


PETUGAS

Kardi, ini dari universitas di kota. Katanya tulisan kamu dijadikan bahan kuliah Etika Politik.


(Kardi tercengang. Ia membaca surat itu perlahan, matanya berkaca-kaca.)


KARDI (monolog pelan)

Aku dulu pikir pemimpin itu harus dipilih rakyat...

Ternyata cukup didengar oleh hati mereka.


EXT. LAPANGAN PENJARA – SORE


Kardi berdiri di tengah lapangan, membantu napi muda belajar baca tulis.

Angin sore berhembus lembut.


NAPI MUDA 2

Pak, nanti kalau udah bebas, Bapak mau jadi lurah lagi?


KARDI (tertawa kecil)

Enggak.

Aku cukup jadi warga yang gak tergoda lagi sama amplop.


(Mereka tertawa bersama.)



INT. REDAKSI – MALAM


Rana mengetik artikel baru:


“Lurah yang Memimpin dari Balik Jeruji.”



Ia menatap layar, lalu tersenyum.

RANA (V.O.)


“Bukan kursi yang menentukan pemimpin. Tapi siapa yang rela duduk paling rendah untuk mengangkat orang lain.”



EXT. LANGIT DESA SUKAMAJU – SENJA


Langit jingga menyala indah.

Kamera memperlihatkan warga membaca koran, tersenyum melihat nama Kardi disebut dengan hormat.


WARGA 1

Ternyata lurah kita masih mikirin kita dari penjara.


WARGA 2

Yang kayak gini harusnya beneran jadi pemimpin.



INT. SEL KARDI – MALAM


Kardi menutup bukunya, menatap ke atas.

Dari jeruji besi, cahaya bulan menembus ke wajahnya.


KARDI (V

.O.)


“Aku udah kehilangan jabatan, uang, dan nama.

Tapi aku dapet lagi yang dulu hilang: nurani.”



FADE OUT.

TULISAN DI LAYAR:


BERSAMBUNG – EPISODE 15: “Gerbang Kebebasan”



Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)