Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Lurah 200 Juta
Suka
Favorit
Bagikan
16. Pemimpin Tanpa Jabatan
Skrip ini masih diperiksa oleh kurator

Penulis : Rana Kurniawan


Episode 16 – Pemimpin Tanpa Jabatan


Genre: Drama Kehidupan – Sosial Politik

Durasi: ±45 menit

Tema: Kekuasaan sejati lahir dari kepercayaan, bukan kursi pemerintahan.



FADE IN:


EXT. PERPUSTAKAAN BAMBU – PAGI


Perpustakaan kecil yang Kardi dirikan ramai oleh anak-anak.

Rak bambu penuh buku sumbangan dari berbagai kota.

Kardi menata buku bersama Rina, seorang guru muda yang baru pindah dari kota.


RINA (tersenyum)

Saya gak nyangka, Pak. Desa ini semangat banget baca bukunya.


KARDI (tersenyum ringan)

Mereka cuma butuh tempat dan sedikit kepercayaan.

Dulu saya pikir mereka butuh uang... ternyata butuh ilmu.


(Mereka tertawa. Kamera menyorot anak-anak yang membaca di bawah pohon.)



EXT. BALAI DESA – SIANG


Balai desa kini dipimpin oleh Lurah baru: SUGENG (40).

Wajahnya tegas tapi ambisius.

Ia berbicara dengan stafnya.


SUGENG (dingin)

Saya gak suka lihat orang yang sudah bukan siapa-siapa masih didengar rakyat.

Apalagi kalau bikin proyek atas nama “perpustakaan rakyat”.

Itu bikin saya kelihatan gak kerja.


STAF

Tapi, Pak... warga justru senang karena Kardi bantu mereka tanpa minta dana.


SUGENG (menatap tajam)

Justru itu masalahnya. Kalau rakyat terlalu cinta orang tanpa jabatan... pemerintah bisa kehilangan wibawa.



EXT. JALAN DESA – SORE


Rana datang kembali ke desa untuk meliput kegiatan perpustakaan.

Ia membawa kamera dan buku untuk disumbangkan.


RANA (menyapa Kardi)

Pak Kardi, berita tentang “Rumah Baca Dua Ratus Juta” viral di media nasional.

Banyak orang kota bilang, “kalau semua mantan pejabat kayak Bapak, negeri ini bisa maju.”


KARDI (tersenyum)

Heh... saya gak mau dibilang pahlawan, Na.

Saya cuma mau menebus kesalahan, bukan cari nama.


RANA

Tapi niat baik pun bisa mengubah sistem, Pak. Kadang orang jujur bikin resah orang yang salah.


(Kardi terdiam, menatap jauh ke arah kantor desa.)


INT. KANTOR DESA – MALAM


Sugeng menerima tamu — seorang pengusaha kontraktor bernama BAGUS.

Mereka berbicara pelan sambil menyeruput kopi.


BAGUS

Saya dengar, Kardi bikin perpustakaan gratis pakai tanah desa.

Kalau mau, saya bisa bantu bikin surat agar bangunan itu dianggap ilegal.


SUGENG (menyeringai)

Kamu pintar, Gus. Biar rakyat lihat, bukan semua yang kelihatan baik itu suci.

Kita kasih sedikit gosip... biar dia jatuh lagi, kali ini tanpa bisa bangkit.



EXT. PASAR DESA – PAGI


Beberapa warga mulai berbisik-bisik.


WARGA 1

Katanya tuh perpustakaan gak punya izin, ya?

WARGA 2

Iya, ada yang bilang tanahnya masih punya desa.


(Kardi datang, menyapa mereka seperti biasa, tapi suasana canggung.)


KARDI

Pagi, Bu, Pak... kok sepi amat?


WARGA 1 (pelan)

Ah, gak papa, Pak... lagi gak ramai aja.


(Kardi mulai sadar ada yang berubah.)



INT. PERPUSTAKAAN BAMBU – SIANG


Kardi membaca surat pemberitahuan dari kantor desa:


“Bangunan Rumah Baca Dua Ratus Juta dianggap tidak berizin dan harus dibongkar dalam waktu 3 hari.”



Rina terkejut.


RINA (panik)

Tapi, Pak, ini kan buat masyarakat! Anak-anak belajar di sini setiap hari!


KARDI (tenang)

Tenang, Rin. Kita gak akan marah.

Kita buktikan kalau niat baik gak butuh izin dari mereka — cukup izin dari hati.


(Ia menatap rak buku, sedih tapi tegar.)



EXT. LAPANGAN DESA – SORE


Rana datang membawa mikrofon dan kru media.

Ia mewawancarai warga dan menyiarkan berita secara langsung.


RANA (tegas ke kamera)

Perpustakaan rakyat di Desa Kadubana kini terancam dibongkar oleh keputusan lurah baru.

Padahal tempat ini telah membantu puluhan anak membaca dan belajar.


(Warga mulai berkumpul mendengarkan. Beberapa mulai bersuara menolak pembongkaran.)


WARGA MUDA

Kalau bukan karena Pak Kardi, anak-anak kita masih main lumpur, bukan baca buku!


WARGA TUA

Kami siap jaga perpustakaan ini!



EXT. DEPAN PERPUSTAKAAN – MALAM


Lurah Sugeng datang dengan petugas dan truk pembongkar.

Namun warga berbaris di depan bangunan, membentuk pagar manusia.


Kardi berdiri di depan, tenang, sambil menatap Sugeng.


SUGENG (dingin)

Saya kasih kesempatan terakhir, Kardi. Pindahkan bangunan ini.


KARDI (pelan tapi tegas)

Kalau niat baik dianggap ancaman, berarti yang salah bukan niatnya... tapi hati yang melihatnya.


(Teriakan dukungan dari warga menggema. Rana menyorot momen itu dengan kameranya.)


WARGA SERENTAK

Perpustakaan untuk rakyat! Jangan dibongkar!


(Sugeng menatap wajah-wajah warga, lalu menahan emosi. Ia memberi aba-aba agar petugas mundur.)



INT. RUMAH KARDI – MALAM


Saripah memeluk Kardi.

SARIPAH (lembut)

Aku takut, Kar...

Takut kamu diserang lagi.


KARDI (tersenyum tipis)

Kali ini aku gak sendiri, Pipah.

Aku punya rakyat.

Dan kali ini, mereka gak bisa dibeli dengan dua ratus juta.



EXT. DESA – PAGI BERIKUTNYA


Kamera drone menyorot warga gotong royong memperkuat bangunan perpustakaan.

Tulisan baru muncul di depan:


“Perpustakaan Rakyat – Dibangun oleh Hati, Bukan Uang.”



Rana berdiri di samping Kardi.


RANA (tersenyum)

Pak... saya rasa ini baru awal perjuangan sebenarnya

.


KARDI (menatap jauh ke sawah)

Iya, Na.

Kali ini... bukan saya yang pimpin rakyat.

Tapi rakyat yang memimpin saya.



FADE OUT.


TULISAN DI LAYAR:


> BERSAMBUNG – EPISODE 17: “Harga Sebuah Niat”

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)