Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Penulis: Rana Kurniawan
Episode 2: Strategi Kopi dan Amplop
Genre: Drama sosial, satire politik
Durasi: ±25 menit
Tema: Ambisi dan awal dari politik uang
FADE IN:
INT. RUMAH KARDI – PAGI
Saripah sedang memasak di dapur. Bau sambal tumis memenuhi ruangan.
Kardi duduk di meja makan, menatap lembar-lembar kertas: “Program Desa Bersih”, “Bantuan Petani”, “Jalan Aspal Gratis.”
SARIPAH
(berbalik, curiga)
Kamu ngapain nulis-nulis tiap pagi, Pak?
KARDI
Bikin rencana kampanye, Bu.
Biar warga tahu aku serius jadi lurah.
SARIPAH
Kampanye itu gak cuma omongan, Pak.
Butuh baliho, spanduk, kaos, nasi bungkus…
KARDI
(senyum yakin)
Tenang aja, Bu. Aku punya cara sendiri.
(Saripah menghela napas panjang. Ia tahu suaminya sedang mulai mimpi besar lagi.)
EXT. WARUNG KOPI PAK JONO – PAGI
Suasana ramai. Beberapa warga nongkrong sambil membicarakan pemilihan lurah.
Pak Jono menyeduh kopi dengan santai.
WARGA 1
Katanya si Kardi beneran mau nyalon?
WARGA 2
Heh, nyalon aja pake apa? Duit kagak ada, pendukung gak punya.
(Mereka tertawa. Di sudut warung, Kardi duduk diam, mendengarkan.)
KARDI
(tersenyum kecil, menatap mereka)
Justru itu, biar rakyat tahu kalau yang kecil pun bisa punya niat besar.
(Semua mendadak diam. Kardi bangkit dan meninggalkan warung. Wajahnya tegas.)
EXT. HALAMAN RUMAH KARDI – SIANG
Kardi dan Dul duduk di bawah pohon mangga. Di depan mereka ada papan tulis kecil.
Tertulis:
STRATEGI KARDI UNTUK MENANG
1. Kenalkan diri ke warga
2. Turun langsung ke sawah
3. Sediakan kopi gratis di setiap kampung
4. (tulisan baru ditulis) “Bagi-bagi bantuan kecil”
DUL
(nunjuk poin terakhir)
Bantuan kecil itu maksudnya amplop, kan?
KARDI
(sambil berpikir)
Bukan amplop, Dul… bentuk perhatian aja.
Misal, kasih beras, gula, kopi…
DUL
(ngikik)
Perhatian yang bisa dimasak, gitu?
(Mereka tertawa kecil, tapi Kardi menatap serius ke papan tulis.)
KARDI
Kalau mau warga percaya, harus ada bukti.
Tapi aku gak mau disebut “beli suara.”
Aku mau mereka lihat niatku tulus.
INT. RUMAH KARDI – MALAM
Saripah menghitung uang di kaleng kecil.
Isinya hanya beberapa lembar puluhan ribu.
SARIPAH
Pak, kalau kamu mulai keluarin uang, pikir dua kali ya.
Kita masih punya utang ke warung Bu Ijah.
KARDI
(nada lembut)
Bu… kalau aku berhasil jadi lurah, semua bakal balik.
Utang lunas, rumah kita bisa direnovasi, anak bisa sekolah tinggi.
Saripah menatapnya lama.
Ada cinta, tapi juga rasa takut.
EXT. LAPANGAN DESA – SIANG
Kardi mulai turun ke lapangan. Ia membawa termos kopi besar dan gelas plastik.
Warga heran melihatnya.
WARGA LELAKI
Kardi, ada acara apa nih?
KARDI
Enggak, cuma pengen traktir warga.
Ngopi bareng biar akrab.
Kita ngobrol soal desa juga boleh.
(Warga tertarik. Mereka duduk di tikar, menikmati kopi. Kardi mulai bicara penuh semangat.)
KARDI
Aku cuma pengen desa kita punya jalan bagus,
bantuan petani lancar, dan sekolah anak-anak lebih baik.
Itu aja.
WARGA IBU-IBU
Kalau bener kamu bisa gitu, saya pilih kamu deh, Kar.
(Semua tertawa. Kardi tersenyum — awal kepercayaan warga mulai tumbuh.)
INT. REDAKSI MEDIA LOKAL – SORE
RANA sedang mengetik berita di laptopnya.
Judul di layar: “Kandidat Baru dari Warung Kopi: Kardi Si Penjual Harapan.”
EDITOR
(mendekat)
Kamu yakin mau liput dia, Ran?
Orangnya gak punya latar belakang apa-apa.
RANA
Justru itu menarik.
Kadang yang paling polos bisa jadi paling berbahaya.
EXT. DEPAN RUMAH KARDI – MALAM
Kardi duduk di kursi bambu. Angin malam bertiup pelan.
Ia menatap jalan kosong di depan rumahnya.
KARDI (V.O.)
(berpikir)
Orang bilang niat baik selalu menang…
tapi kalau rakyat cuma mau lihat uang,
apa niat masih cukup?
(Kamera naik ke langit malam. Musik latar perlahan masuk, nada muram bercampur tekad.)
FADE OUT.
TULISAN DI LAYAR:
BERSAMBUNG – EPISODE 3: “JANJI DI BALIK KOPI”