Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Lurah 200 Juta
Suka
Favorit
Bagikan
7. Jebakan Kota
Skrip ini masih diperiksa oleh kurator

Penulis : Rana Kurniawan


Episode 7: Jebakan Kota


Genre: Drama Politik, Satire

Durasi: ±25 menit

Tema: Saat kemenangan berubah jadi kendali orang lain



FADE IN:


EXT. JALAN DESA – PAGI


Mobil hitam berhenti di depan rumah Kardi.

Pintu terbuka, keluar dua pria kota berpakaian formal: ANDI dan REZA, utusan Pak Herman.


DUL (terkejut)

Wah, tamu gede, Kar. Kayak pejabat aja!


Kardi keluar dari rumah, menyambut mereka sopan.


REZA

Kami disuruh Pak Herman.

Katanya, strategi kampanye perlu disesuaikan biar suara kamu tembus seribu tambahan.


KARDI

(strategi?)

Bukannya semua udah jalan?


ANDI

Kalo mau menang, jangan cuma andalin warga lokal.

Kita main data pemilih, main logistik, dan main timing.

Biar suara lawan bocor, suara kamu naik.


(Nada mereka profesional tapi manipulatif. Kamera menyorot wajah Kardi yang mulai bingung.)



INT. RUMAH KARDI – SIANG


Kardi berdiskusi dengan AMAT dan DUL.

Di meja ada tumpukan daftar pemilih dan peta kampung.


AMAT

Kar, ini udah bukan kampanye jujur.

Kita kayak disuruh curang pelan-pelan.


DUL

Tapi kalo itu bikin menang, kenapa enggak?

Semua juga mainnya gitu.


KARDI

(terdiam)

Aku... cuma pengen buktiin aku bisa jadi lurah yang beda.

Tapi kayaknya gak ada yang mau lihat yang jujur lagi.


(Kamera zoom pelan ke wajah Kardi — lelah, tapi terus memaksa senyum.)



EXT. DESA – SORE


Tim kota mulai bekerja.

Baliho besar Kardi dipasang di titik strategis, bahkan di depan rumah warga miskin.

Warga tampak heran tapi diam.


BU MINAH (berbisik ke tetangga)

Sekarang Kardi udah kaya pejabat beneran ya...

Dulu masih suka ngopi bareng, sekarang gak nyapa.


(Nada sindiran warga mulai terasa.)



INT. REDAKSI MEDIA – MALAM


RANA dan DITA meneliti data perusahaan yang mendanai kampanye desa.

Rana membuka berkas digital.


RANA

Nih, Dita. Herman Corp pernah dapet proyek jalan di tiga kabupaten, semuanya fiktif.

Sekarang mereka masuk kampanye Kardi.


DITA

Berarti ini bukan cuma soal lurah, Ran. Ini jaringan.


RANA

(nada tegas)

Aku harus wawancara Kardi langsung.

Sebelum semuanya terlambat.



EXT. LAPANGAN DESA – MALAM


Kardi duduk di kursi kayu, memandangi panggung kampanye yang sedang disiapkan.

Lampu-lampu terang. Spanduk besar bertuliskan:


“KARDI UNTUK DESA TANPA BATAS”



Rana datang dengan motor, membawa kamera dan alat rekam.


RANA

(berjalan mendekat)

Kardi, aku cuma mau tanya.

Kamu sadar gak, uang kampanye kamu sekarang datang dari perusahaan bermasalah?


KARDI

(berdiri pelan)

Rana... kamu wartawan, bukan hakim.

Aku gak curi, gak tipu siapa-siapa.


RANA

Tapi kamu biarin dirimu dipakai.

Kalau kamu menang, kamu bukan lurah rakyat — kamu lurahnya korporasi.


(Kardi diam. Sorot lampu panggung jatuh ke wajahnya, seperti menyinari rasa bersalah yang mulai muncul.)



INT. MOBIL PAK HERMAN – MALAM


Pak Herman duduk di dalam mobil, memantau video kampanye Kardi lewat ponsel.

Ia tersenyum puas.


PAK HERMAN

Pelan-pelan... dia makin tergantung.

Sekali menang, dia jadi milik kita.


(Nada musik gelap dan licik mengalun.)



EXT. DESA SUKAMAJU – PAGI BERIKUTNYA


Kamera memperlihatkan warga sedang membicarakan kampanye Kardi.

Beberapa mulai ragu, sebagian tetap mendukung karena uang amplop masih terus datang.


PAK RASIM

Yang penting dapet beras sama duit.

Siapa pun lurahnya, hidup kita gitu-gitu aja.


BU MINAH

Iya, tapi dulu Kardi gak begini.

Sekarang kayak orang lain.


(Dialog sederhana tapi mengiris — rakyat mulai sadar tapi terlambat.)



INT. RUMAH KARDI – MALAM


Saripah menatap suaminya dengan mata lelah.


SARIPAH

Kamu sadar gak, Pak?

Kamu udah gak bisa berhenti.


KARDI

(berusaha tenang)

Cuma tinggal sedikit lagi, Bu.

Setelah menang, semua akan beres.


SARIPAH

Atau justru baru mulai berantakan.


(Kamera bergerak perlahan ke luar rumah, memperlihatkan spanduk besar Kardi berkibar di angin malam — kontras dengan keheningan rumahnya.)




EXT. SAWAH DESA – SUBUH


Kardi berdiri di tengah sawah.

Ia menatap ke arah desa, baliho besar dirinya tampak dari kejauhan.

Suara Rana (V.O.) terdengar lirih dari jarak jauh:


RANA (V.O.)

Kekuasaan selalu dimulai dari janji...

Dan berakhir di utang.


(Musik sendu, fade out perlahan.)




FADE OUT.

TULISAN DI LAYAR:


BERSAMBUNG – EPISODE 8: “SERANGAN BALIK”

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)