Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Lurah 200 Juta
Suka
Favorit
Bagikan
17. Harga Sebuah Niat
Skrip ini masih diperiksa oleh kurator

Penulis : Rana Kurniawan


Episode 17 – Harga Sebuah Niat


Genre: Drama – Politik – Sosial

Durasi: ±45 menit

Tema: Kadang, niat baik pun harus dibayar mahal oleh mereka yang berkuasa.



FADE IN:


EXT. PERPUSTAKAAN RAKYAT – PAGI


Warga sibuk membantu Kardi memperkuat dinding dan atap bambu.

Rana memotret kegiatan itu, anak-anak berlarian sambil membawa buku.


RINA (tersenyum)

Pak, siapa sangka... dari bangunan sederhana bisa sekuat ini.


KARDI (tersenyum)

Yang bikin kuat bukan bambunya, Rin. Tapi tangan-tangan yang percaya.


(Kamera menyorot wajah-wajah warga, penuh harapan dan kerja keras.)



INT. KANTOR DESA – SIANG


Lurah Sugeng duduk dengan wajah kesal.

Ia menonton berita di tablet:


“Perpustakaan Rakyat Kardi – Simbol Perlawanan Desa Kadubana.”


SUGENG (geram)

Perlawanan? Jadi sekarang aku dianggap musuh rakyat?!


Stafnya gugup, tak berani bicara.


BAGUS (kontraktor, masuk pelan)

Tenang, Pak. Kalau perang opini, kita juga bisa main media.

Saya kenal beberapa wartawan yang siap bikin narasi baru.


SUGENG (dingin)

Narasi seperti apa?


BAGUS (tersenyum sinis)

Narasi lama yang masih laku dijual:

“Lurah lama Kardi masih punya kasus dana desa belum ditutup.”


(Sugeng menatap tajam, lalu perlahan mengangguk.)



EXT. PASAR DESA – SIANG


Poster dan pamflet mulai tersebar:


“Waspadai Mantan Koruptor Berkedok Sosial!”

“Perpustakaan atau Tempat Cuci Uang Lama?”



Warga mulai bingung. Sebagian mulai meragukan Kardi lagi.


WARGA 1

Jangan-jangan benar ya, Kardi itu cuma pura-pura tobat?

WARGA 2

Ah, tapi dia udah bantu anak-anak, masa sih pura-pura?


(Desa kembali terpecah. Kardi mendengar desas-desus itu tapi tetap diam.)



INT. RUMAH KARDI – MALAM


Saripah menyiapkan teh. Wajahnya cemas.

Ia menunjukkan pamflet ke Kardi.


SARIPAH

Kamu liat ini, Pak?

Mereka nyebarin fitnah lagi.

Aku takut orang mulai benci lagi.


KARDI (pelan)

Pipah... biarin aja.

Dulu aku hancur karena uang,

kali ini jangan hancur karena marah.


(Saripah memeluknya dari belakang.)


SARIPAH (lirih)

Kamu kuat, Pak. Tapi hati aku takut kamu jatuh lagi...



INT. REDAKSI MEDIA – MALAM


Rana duduk di depan komputer.

Ia menelusuri berita-berita yang menjelekkan Kardi.

Semuanya ditulis oleh satu media online yang sama:

“Suara Rakyat Pos” — media yang didanai oleh Bagus.


RANA (kepada rekan wartawan)

Lihat ini... semua berita negatif soal Kardi muncul dalam 24 jam,

dari media yang baru dibuat tiga bulan lalu.


WARTAWAN REKAN

Wah, jelas setting-an. Siapa di baliknya?


RANA (mengerutkan kening)

Nama pemilik medianya... Bagus Santosa.

Kontraktor proyek jalan di Kadubana.


(Rana bangkit, meraih kameranya.)

RANA

Aku harus balik ke desa malam ini. Ada sesuatu yang besar.



EXT. DESA – MALAM


Rana tiba di depan perpustakaan.

Ia melihat warga mulai menjauh, beberapa pamflet berserakan di tanah.

Kardi duduk sendiri di teras, membaca buku tua.


RANA (mendekat)

Pak... saya tahu siapa di balik fitnah ini.

Bagus, kontraktor yang kerja sama dengan Sugeng.

Dia sengaja bikin media untuk menjatuhkan Bapak.


KARDI (menutup buku)

Saya udah duga, Na.

Tapi kalau saya balas, apa bedanya saya dengan mereka?


RANA (tegas)

Bukan soal balas, Pak. Ini soal kebenaran.

Kalau Bapak diam, warga akan percaya fitnah itu.


(Kardi menatap Rana, wajahnya tenang tapi matanya penuh luka.)


KARDI

Baiklah, Na... kalau memang ini ujian niat baik,

kita hadapi dengan jujur, bukan dengan dendam.



INT. BALAI DESA – KEESOKAN PAGI


Pertemuan warga digelar oleh Lurah Sugeng.

Warga berkumpul, suasana tegang.


Sugeng berdiri di depan mikrofon.


SUGENG (lantang)

Saudara-saudara! Kita harus waspada terhadap orang yang pura-pura peduli rakyat!

Yang katanya buat perpustakaan, tapi uangnya dulu hasil korupsi!


(Kerumunan mulai berbisik. Rana menyiapkan kamera di belakang.)


Tiba-tiba Kardi masuk dengan langkah tenang.

Semua mata tertuju padanya.


KARDI (pelan tapi tegas)

Saya datang bukan untuk bela diri, tapi untuk kasih tahu...

dulu saya memang salah. Saya korupsi. Saya masuk penjara.

Tapi saya bayar lunas semua itu, bukan dengan uang... tapi dengan rasa malu dan penyesalan.


(Warga mulai terdiam. Suara-suara fitnah perlahan mereda.)


KARDI (lanjut)

Kalau mau bongkar masa lalu saya, silakan.

Tapi jangan hancurkan masa depan anak-anak yang belajar di perpustakaan itu.


(Beberapa warga mulai menunduk, malu.)


RANA (dari belakang, merekam)

(berbisik ke kameramen)

Inilah yang disebut keberanian sejati...



EXT. BALAI DESA – SETELAH RAPAT


Warga mendekati Kardi satu per satu, meminta maaf.

Sugeng hanya diam, menatap dari jauh dengan wajah geram.

Rana mendekati Kardi.


RANA (tersenyum bangga)

Pak, kata-kata Bapak barusan bisa jadi pelajaran untuk banyak orang.


KARDI (tersenyum tipis)

Saya cuma bicara apa adanya.

Kadang, niat baik memang harus dibayar mahal...

tapi gak pernah sia-sia.


(Kamera naik perlahan ke langit sore, memperlihatkan desa yang damai kembali.)



FADE OUT.


TULISAN DI LAYAR:


BERSAMBUNG – EPISODE 18: “Permainan yang Lebih Tinggi”




Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)