Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Penulis : Rana Kurniawan
Episode 6: Utang Politik
Genre: Drama Politik – Satire Sosial
Durasi: ±25 menit
Tema: Saat bantuan berubah jadi jerat
FADE IN:
EXT. RUMAH MAKAN PINGGIR JALAN – MALAM
Suasana remang tapi ramai. Mobil-mobil hitam berhenti di depan.
Kamera mengikuti KARDI, DUL, dan AMAT masuk ke ruang VIP kecil.
Di dalam sudah duduk PAK HERMAN, lelaki berjas rapi dengan senyum licin.
Di belakangnya dua orang berpakaian formal, membawa map tebal.
PAK HERMAN
(sambil menyalami Kardi)
Ah, calon lurah terkenal!
Saya udah denger nama kamu dari kota.
Kampanye kamu menarik, sederhana tapi disukai rakyat.
KARDI
(tersenyum sopan)
Terima kasih, Pak Herman.
Tapi saya belum tentu menang. Dana kampanye juga... sudah mulai seret.
PAK HERMAN
(menyandarkan diri santai)
Nah, di situlah kami bisa bantu.
Kamu butuh dana, kami butuh orang dalam.
Kalau kamu menang, kerjaan proyek desa cukup lewat kami saja.
(Ia menepuk map di meja, lalu menggeser amplop tebal ke arah Kardi.)
PAK HERMAN (lanjut)
Anggap ini pinjaman kecil.
Nanti dibicarakan lagi setelah kamu duduk di kursi lurah.
KARDI
(terdiam)
Kalau saya kalah?
PAK HERMAN
(senyum tipis)
Kami pastikan kamu gak akan kalah... asal kamu tau cara mainnya.
(Kamera close-up ke wajah Kardi — ragu tapi tergoda.)
INT. RUMAH KARDI – MALAM
Saripah sedang menjahit baju anak sekolah.
Kardi masuk membawa amplop tebal.
SARIPAH
(heran)
Dari mana uang segitu, Pak?
KARDI
(bingung mencari alasan)
Ada yang bantu dana kampanye. Katanya... niat baik harus dibantu.
SARIPAH
(dingin)
Niat baik dari mana?
Kamu pikir orang kasih uang tanpa minta balas?
Kardi tak menjawab. Ia menatap amplop itu lama.
Kamera fokus ke amplop di tangan Kardi, simbol utang yang mulai mengikat.
EXT. BALAI DESA – PAGI
Kardi dan timnya mulai bergerak cepat.
Baliho baru dicetak, kaos kampanye dibagikan, bahkan panggung musik besar didirikan.
DUL
(bersemangat)
Sekarang kita kaya beneran, Kar!
Warga pasti yakin kamu calon kuat!
AMAT
(cemberut)
Tapi utangnya juga kuat, Dul.
Kalo kalah, bisa dijual rumah ini.
KARDI
(datar)
Gak akan kalah.
Kali ini harus menang.
INT. REDAKSI MEDIA – SIANG
Rana membaca data sumbangan kampanye Kardi.
Matanya membesar saat melihat nama donatur dari kota.
RANA (berbisik)
Herman Corp... perusahaan kontraktor bermasalah.
Kardi, kamu udah sejauh itu?
(Ia mengetik cepat — layar menampilkan kalimat pertama artikelnya:
“Uang Kota di Balik Kampanye Desa.”)
EXT. DESA SUKAMAJU – SORE
Rana datang dengan motornya. Ia memotret baliho besar Kardi yang baru terpasang.
Kardi yang sedang di lokasi melihatnya dari jauh.
KARDI
Rana?
(berjalan mendekat)
Ngapain kamu di sini?
RANA
(nada dingin)
Meliput.
Wartawan gak butuh izin buat nulis kebenaran, kan?
KARDI
(agak kesal)
Kamu selalu nyari sisi jelekku, ya?
Aku berjuang buat warga, bukan buat kaya!
RANA
(tenang tapi tajam)
Kalau berjuang bener, kenapa baliho kamu lebih mahal dari sekolah desa?
(Keduanya saling tatap — suasana tegang, musik perlahan meninggi.)
INT. MOBIL PAK HERMAN – MALAM
Pak Herman menerima pesan di ponselnya:
"Rana – wartawan lokal – mulai usut dana kampanye Kardi."
PAK HERMAN
(menatap ajudannya)
Pantau wartawan itu. Jangan sampai ganggu rencana kita.
(Musik berubah mencekam.)
INT. RUMAH KARDI – MALAM
Saripah duduk menatap TV yang menayangkan berita tentang dugaan sumbangan gelap di kampanye desa.
Kardi masuk terburu-buru.
SARIPAH
(nada marah)
Itu kamu, kan?!
Berita tentang dana gelap itu bener?
KARDI
(meninggi)
Berita bisa dibeli, Bu!
Mereka cuma mau jatuhin aku!
SARIPAH
(kesal, menahan tangis)
Atau mungkin... kamu yang jatuhin dirimu sendiri?
(Kardi diam. Kamera pelan-pelan menjauh dari mereka, memperlihatkan jarak di antara dua orang yang dulu satu perjuangan.)
EXT. SAWAH – SUBUH
Kardi berdiri sendirian di tepi sawah.
Udara dingin. Dari jauh, suara toa kampanye lawan terdengar.
Ia membuka amplop dari Pak Herman — separuh uangnya sudah habis.
KARDI (V.O.)
Setiap janji ada harga.
Dan kadang... harga itu lebih mahal dari kemenangan.
FADE OUT.
TULISAN DI LAYAR:
BERSAMBUNG – EPISODE 7: “JEBAKAN KOTA”