Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Lurah 200 Juta
Suka
Favorit
Bagikan
19. Suara dari Atas
Skrip ini masih diperiksa oleh kurator

Penulis : Rana Kurniawan


EPISODE 19 – Suara dari Atas


Genre: Drama – Politik – Intrik

Durasi: ±45 menit

Tema: Ketika suara rakyat mulai terdengar, kekuasaan berusaha membungkam dengan cara yang lebih halus — dan lebih kejam.



FADE IN:


INT. RUANG KERJA BUPATI – PAGI


BUPATI ARMAN (55), berwibawa tapi penuh kalkulasi, membaca laporan tentang viralnya video Kardi.

Di depannya: CAMAT HERMAN dan LURAH SUGENG duduk gelisah.


BUPATI ARMAN

(tenang tapi tajam)

Saya gak suka kejutan di wilayah saya.

Kalian bilang proyek Kadubana aman.

Tapi sekarang semua mata ke sana.


CAMAT HERMAN

Kami sudah tangani, Pak. Hanya perlu sedikit... pengarahan ke media.


BUPATI ARMAN

(potong kalimatnya)

Media bukan masalah.

Masalahnya — Kardi.

Dia bukan pejabat, tapi suaranya didengar. Itu bahaya.


(Bupati menatap tajam ke Sugeng.)


BUPATI ARMAN

Kalian tahu apa yang harus dilakukan.

Pastikan “pahlawan rakyat” itu gak sempat bicara lagi.



EXT. DESA KADUBANA – PAGI


Rana sedang memotret kegiatan warga yang memperbaiki jembatan kayu.

Anak-anak berlari, menyapa gembira.

Dari jauh, sebuah mobil hitam berhenti.

Dua orang intel kabupaten diam-diam memotret Rana.




INT. RUMAH KARDI – SIANG


Kardi duduk bersama Saripah.

Suasana rumah terasa damai, tapi tegang di bawah permukaannya.


SARIPAH

(Video kamu viral, Pak. Banyak yang dukung... tapi juga banyak yang takut.)


KARDI

(tersenyum pahit)

Kalau rakyat takut bicara, artinya kekuasaan masih menang.

Tapi kalau mereka mulai berani... berarti kekuasaan sedang rapuh.


(Ketukan keras di pintu. Dua petugas datang membawa surat panggilan.)


PETUGAS

Pak Kardi, Anda diminta hadir ke kantor kabupaten besok.

Ada klarifikasi terkait proyek Revitalisasi.


(Saripah cemas. Kardi hanya menatap surat itu tenang.)



INT. KANTOR KABUPATEN – PAGI BERIKUTNYA


Ruang besar, penuh pejabat.

Kardi duduk sendirian di tengah ruangan seperti terdakwa.

Di hadapannya: Bupati Arman, Camat Herman, Sugeng, dan Bagus.


BUPATI ARMAN

(tersenyum palsu)

Pak Kardi, kami undang bukan untuk mengadili.

Kami ingin klarifikasi — apakah benar Anda menolak proyek pemerintah?


KARDI

(tegas, tanpa takut)

Saya gak pernah menolak pembangunan.

Saya cuma menolak kebohongan.


(Keheningan berat. Kamera menyorot wajah Bupati yang berubah kaku.)


BUPATI ARMAN

Hati-hati bicara, Kardi.

Di negeri ini, kadang kebenaran bisa terdengar seperti tuduhan.



INT. RUANG REDAKSI – SIANG


Rana menatap layar komputernya — semua berita tentang Kardi dihapus dari portal utama.

Ia menatap redakturnya yang baru saja menutup laptopnya.


REDAKTUR

Maaf, Rana. Perintah dari atas.

Berita Kardi di-takedown semua.


RANA

(dingin)

Berarti suara rakyat sudah dibisukan... lagi.


(Ia keluar dari kantor, membawa kameranya.)



EXT. PASAR DESA – SORE


Rana menemui warga dan menyalakan kamera ponselnya.


RANA

(berteriak lembut ke warga)

Kalau mereka tutup berita kita, berarti kita harus bikin berita sendiri.

Rekam, bagikan, tunjukkan apa yang benar.


(Warga mulai merekam dengan ponsel masing-masing.

Suara-suara rakyat mulai muncul dari banyak arah.)



INT. RUMAH KARDI – MALAM


Rana datang membawa flashdisk.


RANA

Ini, Pak. Semua rekaman warga — tentang proyek, keluhan, bukti foto.

Kalau Bapak setuju, saya bisa kirim ke jurnalis independen di kota.


KARDI

(jeda lama)

Kalau itu buat kebenaran, kirim.

Tapi jangan demi saya... demi mereka yang belum bisa bicara.


(Rana mengangguk dengan mata berkaca.)



EXT. KABUPATEN – MALAM


Sebuah mobil hitam melintas cepat.

Dalamnya, Camat Herman menerima telepon.


SUARA BUPATI

(V.O.)

Besok pagi, pastikan video itu gak pernah muncul di publik.


(Camera close-up ke wajah Herman yang tegang.

Lampu jalan redup, suara hujan mulai turun.)



EXT. DESA – SUBUH


Petugas datang ke rumah Kardi dengan surat penyitaan komputer.

Rana yang kebetulan datang, merekam semuanya dari jauh.


PETUGAS

Atas perintah kabupaten, kami amankan barang bukti penyebaran berita palsu.


SARIPAH

(menangis)

Berita palsu? Itu kebenaran!


KARDI

(pelan, menenangkan)

Biarkan, Pipah.

Kadang kebenaran harus diseret dulu sebelum didengar.


(Camera perlahan

menyorot wajah Kardi yang tetap tegar, lalu fade ke wajah Rana — tekadnya membara.)



---


FADE OUT.


TULISAN DI LAYAR:


> BERSAMBUNG – EPISODE 20: “Bayangan di Balik Kekuasaan.”

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)