Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Lurah 200 Juta
Suka
Favorit
Bagikan
1. Mimpi di Warung Kopi
Skrip ini masih diperiksa oleh kurator

Penulis : Rana Kurniawan



Episode 1: Mimpi di Warung Kopi


Genre: Drama sosial, satire politik

Durasi: ±25 menit

Setting: Desa Sukamaju – pedesaan sederhana di ujung kabupaten



---


FADE IN:


EXT. DESA SUKAMAJU – PAGI


Kabut tipis menutupi sawah. Suara ayam berkokok. Kamera mengikuti seorang pria berjalan santai di jalan tanah yang becek — KARDI (40), berpakaian seadanya dengan sandal jepit dan topi lusuh.

Ia berhenti sebentar, melihat papan desa bertuliskan:


“SELAMAT DATANG DI DESA SUKAMAJU — DAMAI, MAKMUR, BERUTANG.”




Kardi nyengir kecil.


KARDI

(bergumam)

Makmur apanya… sawah aja disita bank.


Kardi lanjut berjalan, menenteng koran yang agak lecek.




INT. WARUNG KOPI PAK JONO – PAGI


Asap kopi mengepul. Suara radio jadul memutar lagu dangdut pelan.

Beberapa warga nongkrong: DUL (35), AMAT (30), dan PAK JONO (50) di belakang meja.

Kardi masuk, langsung duduk di kursi kayu usang.


PAK JONO

Seperti biasa, Kar? Kopi hitam pahit?


KARDI

He’eh, pahit dikit biar kuat hadapin hidup.


Semua tertawa kecil.


Kardi membuka koran. Kamera fokus pada headline:


“LURAH SUKAMAJU AKAN PINDAH TUGAS TAHUN DEPAN.”




DUL

Wah, lurah kita mau pindah, Kar.

Katanya bakal ada pemilihan baru.


KARDI

(santai, sambil menyeruput kopi)

Berarti bakal rame nih kampanye.


AMAT

Iya, calon baru pasti banyak yang rebutan.

Kamu gak nyalon sekalian?


KARDI

(tertawa)

Aku? Nyalon lurah?

Punya duit aja gak, apalagi baliho.


DUL

(becanda)

Lurah miskin, rakyatnya bisa tambah miskin.

Udahlah Kar, nyalon aja di RT dulu!


Mereka tertawa lagi. Tapi wajah Kardi perlahan berubah serius. Ia menatap koran lama-lama.


KARDI

Tapi, Dul… kalau lurah itu jujur, bisa bikin desa maju kan?


DUL

Bisa sih, asal kuat gak tergoda amplop.


KARDI

(berpikir dalam)

Hmm… mungkin ini saatnya orang kecil kayak aku coba naik.


Suasana jadi hening sesaat. Hanya suara sendok mengaduk kopi.



---


EXT. JALAN DESA – SIANG


Kardi berjalan sendirian. Ia memperhatikan warga:

Anak-anak sekolah lewat, ibu-ibu bawa sayur, petani memanggul cangkul.

Suara hati terdengar (V.O).


KARDI (V.O.)

Kalau yang jadi lurah selalu orang kaya,

kapan yang kecil bisa punya suara?



---


INT. RUMAH KARDI – SIANG


Rumah sederhana berdinding papan.

SARIPAH (38), istri Kardi, sedang menjemur pakaian.

Kardi datang dengan semangat tinggi.


KARDI

Bu! Aku udah mikir matang-matang!


SARIPAH

Jangan bilang mau buka warung lagi, Pak.

Yang kemarin aja belum balik modal.


KARDI

Lebih besar dari itu, Bu.

Aku mau... nyalon lurah!


Saripah berhenti. Menatap suaminya lama.

Lalu tertawa kecil.


SARIPAH

Lurah? Kamu serius, Pak?


KARDI

Serius. Aku pengen desa ini maju.

Pengen buktiin kalau orang kecil juga bisa pimpin.


SARIPAH

(senyum tipis, nada lembut tapi menusuk)

Yang besar aja kadang kalah sama uang, Pak.

Kamu punya apa buat nyalon?


Kardi diam.

Kamera zoom pelan ke wajahnya — antara percaya diri dan ragu.



---


EXT. PASAR DESA – SORE


Suasana ramai. RANA (25), wartawan muda, merekam suasana dengan kamera kecil. Ia menghampiri beberapa warga.


RANA

Ibu, bener ya bakal ada pemilihan lurah?


WARGA IBU-IBU

Iya, Pak Wartawan. Katanya si Kardi tukang ngopi itu mau nyalon juga.

Tapi kayaknya cuma bercanda.


Rana tersenyum, mencatat sesuatu.


RANA

Kadang, dari bercanda bisa lahir cerita besar.



INT. WARUNG KOPI – MALAM


Warung sudah sepi.

Kardi duduk sendiri di meja, menulis di kertas bekas.

Tulisan tangannya berantakan:

“PROGRAM KARDI UNTUK DESA MAJU”


Dul masuk pelan dari pintu belakang.


DUL

Kar, kamu masih disini?


KARDI

Iya. Aku bikin rencana buat desa.

Biar gak cuma ngomong doang.


DUL

(heran)

Serius banget kamu.

Tapi, Kar… kampanye butuh uang.

Kamu punya?


Kardi terdiam. Menatap lembar kertas itu.


KARDI

(tenang tapi yakin)

Kalau niat baik, rezeki pasti datang, Dul.



---


EXT. DEPAN WARUNG KOPI – MALAM


Kardi keluar, memandangi jalan gelap desa.

Lampu jalan redup. Angin berembus pelan.

Musik latar pelan, nada harapan bercampur mimpi.


NARATOR (V.O.)

Dari warung kopi ke kursi lurah,

jalannya panjang dan penuh jebakan.

Tapi setiap perjalanan besar selalu dimulai dari mimpi kecil.



---


FADE OUT.


TULISAN MUNCUL DI LAYAR:


BERSAMBUNG – EPISODE 2: “STRATEGI KOPI DAN AMPLOP”

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)