Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Penulis : Rana Kurniawan
Episode 3: Janji di Balik Kopi
Genre: Drama, Satire Sosial
Durasi: ±25 menit
Tema: Popularitas, niat baik yang mulai ternoda
FADE IN:
EXT. DESA SUKAMAJU – PAGI
Kamera mengikuti rombongan kecil.
KARDI, DUL, dan AMAT berjalan membawa termos kopi, beberapa bungkus gula, dan beras 1 kg dalam plastik.
Di belakang mereka, ada tulisan tangan di spanduk putih:
“Ngopi Bareng Calon Lurah Kardi — Dengar Suara Rakyat.”
Musik latar ringan tapi optimistis.
EXT. BALAI KAMPUNG – PAGI
Puluhan warga berkumpul. Suasana ramai, penuh tawa.
Kardi menuang kopi ke gelas plastik, membagikan ke warga satu per satu.
WARGA IBU-IBU
Wah, calon lurahnya dermawan, nih!
Baru kampanye aja udah ngasih kopi.
KARDI
(senyum ramah)
Bukan dermawan, Bu. Cuma pengen semua orang bisa duduk bareng, ngomong tanpa takut.
WARGA BAPAK-BAPAK
Kopi gratis gini aja udah bikin senang.
Kalo udah jadi lurah, jangan lupa rakyat kecil, ya!
KARDI
(dengan nada serius tapi tenang)
Saya janji, selama saya hidup, gak akan lupa sama yang kecil.
Saya dari kalian, untuk kalian.
(Suara tepuk tangan. Kamera menangkap senyum puas Kardi.)
INT. WARUNG KOPI PAK JONO – SIANG
Rana duduk dengan laptop di meja pojok.
Ia memperhatikan poster Kardi yang baru ditempel di dinding warung:
“Kardi: Ngopi Bersama Rakyat, Demi Desa Maju.”
RANA
(berbicara pelan sambil mengetik)
Dari kopi bisa jadi kekuatan politik…
menarik.
Pak Jono datang membawa segelas teh.
PAK JONO
Kamu dari media mana, Neng Rana?
RANA
Dari Lensa Rakyat, Pak.
Saya lagi liput soal pemilihan lurah di sini.
Katanya calon baru, si Kardi, mulai ramai?
PAK JONO
Iya, awalnya orang anggap bercanda.
Sekarang? Tiap minggu dia keliling kasih kopi dan beras.
Rakyat suka yang begitu, Neng.
Janji gampang dicerna kalo ada gula di dalamnya.
(Rana tersenyum samar, menulis kalimat itu di laptop.)
EXT. HALAMAN RUMAH KARDI – SORE
Kardi dan Dul sedang menghitung uang di meja kayu.
Uangnya tidak banyak, tapi terlihat mulai menipis.
DUL
Kar, ini tinggal sejuta lebih dikit.
Besok mau ke kampung sebelah lagi?
KARDI
Iya, gak bisa berhenti sekarang, Dul.
Orang-orang udah mulai percaya.
Kalau berhenti, dikira gak niat.
DUL
(tahan napas)
Tapi ini kan uang simpanan rumah tangga, Kar.
KARDI
(tenang tapi keras kepala)
Nanti balik. Kalau aku jadi lurah, semua balik lipat ganda.
(Dul menatap Kardi — antara kagum dan cemas.)
INT. RUMAH KARDI – MALAM
Saripah sedang menambal baju anak-anak.
Kardi masuk membawa spanduk baru bertuliskan:
“Kardi — Lurah dari Rakyat, untuk Rakyat.”
SARIPAH
(tersenyum lelah)
Spanduk baru lagi?
KARDI
Iya, Bu. Harus kelihatan serius.
Orang cuma percaya sama yang kelihatan.
SARIPAH
(halus tapi tegas)
Cuma jangan sampe kamu ngorbanin yang gak kelihatan, Pak.
Kayak kejujuran… atau hati sendiri.
(Kardi terdiam. Kamera menyorot matanya — berat, tapi tetap keras kepala.)
EXT. LAPANGAN DESA – MALAM
Lampu-lampu bohlam digantung di pohon.
Kardi menggelar acara “Ngopi Malam Rakyat”.
Puluhan warga hadir. Musik dangdut pelan mengiringi.
Rana juga hadir, membawa kamera, diam-diam memotret suasana.
KARDI
(berdiri di depan warga, dengan mikrofon)
Saya bukan orang kaya, bukan pejabat.
Tapi saya tahu rasanya hidup susah.
Kalau nanti saya dipercaya,
saya janji gak akan duduk di kursi lurah buat tidur,
tapi buat kerja.
WARGA
Hidup Kardi! Hidup lurah rakyat!
(Sorak sorai. Rana memotret momen itu. Flash kamera menyala.)
INT. REDAKSI MEDIA – MALAM
Rana mengetik cepat.
Di layar muncul judul artikelnya:
“Kopi, Janji, dan Politik Rakyat Kecil — Fenomena Kardi di Sukamaju.”
Ia berhenti sejenak, lalu berbisik pada dirinya sendiri.
RANA
Semoga kamu tetap bersih, Pak Kardi…
karena politik jarang punya ruang buat orang jujur.
EXT. DEPAN RUMAH KARDI – MALAM
Kardi duduk sendirian di kursi bambu.
Kamera bergerak perlahan mendekat.
Ia membuka amplop sisa dana kampanye, hanya ada beberapa lembar ribuan.
Angin malam berhembus.
Ia menatap langit, bergumam pelan:
KARDI
Biarpun semua habis…
asal aku bisa dipercaya
rakyat…
itu udah cukup.
(Namun di balik cahaya lampu temaram, ekspresinya mulai menunjukkan keraguan.)
FADE OUT.
TULISAN DI LAYAR:
BERSAMBUNG – EPISODE 4: “UANG, SUARA, DAN DUSTA”