Cuplikan Chapter ini
Dia sudah menunggumu AnindyaKalimat itu terngiang di benak Anindya dingin dan menusuk seolah Paman Kusuma sedang membisikkannya tepat di belakang telinganya Ia berdiri sendiri di peron stasiun punggung kereta yang membawa Cahya menjauh kini hanya tinggal titik Foto makam yang sama di ponselnya dengan bayangan samar pria kurus berdiri di batu nisan seperti mengolok-olok rasa kesepiannya Dia tahu aku sendirian sekarang Dia tahu Cahya pergi Sebuah rasa mual menusuk perut AnindyaAku