Cuplikan Chapter ini
Tangan Anindya menyentuh lehernya sendiri bukan untuk mencekik tetapi untuk merasakan getaran yang masih ada phantom pain yang ia kenali dengan baik Hanya saja kali ini rasa sakitnya memiliki nama Dia menjatuhkan ranselnya ke lantai benda-benda dari sekolah dasar tua itu membentur ubin kamar berisik sekali di tengah keheningan yang menyesakkanNindySuara Cahya terdengar serak di speaker telepon dipenuhi kecemasan yang jelasAku sudah di rumah Ya kataku suaraku masih sedikit kasar