Cuplikan Chapter ini
Arata meninggalkan rumah tua di Tohoku dengan kaki yang terasa seperti timah Amukan bayangannya telah menguras seluruh sisa energi menyisakan kekosongan dingin yang seolah menyedot udara dari paru-parunya Di luar udara malam gunung terasa sangat padat terkontaminasi oleh aroma kayu lapuk dan sisa-sisa doa yang menggantung rendah di udara Ia tidak kembali ke persembunyian Hina ia membutuhkan sesuatu yang lebih stabil sesuatu yang fungsional meski sudah usang Langkahnya menyeret kembal