Cuplikan Chapter ini
Arata melangkah masuk ke ruang makan dengan pemutar musik titanium tersembunyi erat di saku jaketnya seolah benda itu adalah jantung mekanis yang baru saja ia curi dari masa depan Cahaya lampu neon tunggal di atas meja makan berkedip pelan menjatuhkan pendar yang terlalu jujur ke atas lantai kayu tua yang permukaannya sudah halus oleh usia Paman Juro sedang menuangkan teh namun gerakannya mendadak membeku Matanya yang tajam menangkap sesuatu yang tidak wajar pada siluet yang jatuh di ba