Cuplikan Chapter ini
Pagi pertama setelah malam Merti Bumi disambut oleh kabut tipis yang menyelimuti lereng Argo Laras Cahaya matahari membiaskan warna keemasan di atas hamparan mulsa sorgum yang basah oleh embun Di balai desa sisa-sisa dekorasi janur dan aroma dupa masih tercium samar namun denyut kehidupan warga sudah kembali berdetak cepatDi pelataran rumah Pak Wiryo Adrian dan Embun duduk melingkari meja kayu tebal bersama sang tetua desa dan beberapa pemuda Di atas meja terbentang sebuah peta buatan