Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
TO MY BEAUTIFUL TRAUMA
Suka
Favorit
Bagikan
14. JANGAN DI PENDAM SENDIRI (BABAK III)

57. EXT. LUAR RUMAH ASHA DEWASA - MALAM

Sebuah mobil berwarna putih berhenti di halaman depan rumah Asha. Hanna keluar dari dalam mobil dan dengan tergesa-gesa. Dia membuka pintu pagar dan berlari cepat, di susul dengan Ren di belakangnya. Wajah mereka terlihat sangat khawatir.

Rumah Asha terlihat gelap. Lampu luar tidak menyala. Hanna berlari dan mulai menggedor pintu.

HANNA

(Berteriak)

Sa, buka pintunya. Ini gue Hanna.

Hanna menggedor pintunya kembali. Namun tidak ada jawaban.

HANNA (CONT'D)

Sa, tolong bukain pintunya.

REN

Lo yakin Han, Asha di dalem?

HANNA

Ada, gue tau Asha pasti di dalem. (berteriak) Sa, lo gapapa kan? Bukain pintunya, Sa.

Terdengar suara kunci pintu yang terbuka dari dalam. Pintu perlahan terbuka. Asha berdiri menatap Hanna dan Ren. Wajahnya sembab, rambutnya berantakan dengan bibir bawah yang luka.

Hanna langsung memeluk Asha dengan erat. Asha menerima peluakan Hanna dan kembali menangis.

ASHA

(Terbata-bata)

Aku capek banget Han. Dia ngehubungin aku lagi.

HANNA

(mengelus punggu Asha pelan)

Dia siapa, Sa?

ASHA

Mama, dia yang udah buang aku.

Asha terisak dan memeluk tubuh Hanna semakin erat. Hanna juga mulai menangis dan mengelus punggungnya berusaha menenangkan. Ren mengelus kepala Asha dengan pelan, Asha mengalihkan pandangannya ke Ren. Ren tersenyum lembut ke Asha.

REN

Lebih baik kita masuk dulu. Di luar dingin. Nanti kamu sakit.

Asha dan Hanna melepaskan pelukan mereka. Dan perlahan berjalan masuk ke dalam dengan Ren berjalan di belakang mereka.

MATCH CUT TO:

58. INT. RUMAH ASHA - RUANG TENGAH - MALAM

Kita melihat Hanna yang berjalan membawa segelas air putih. Dia duduk di sebelah Asha yang masih terisak. Ren yang duduk di sebelah Asha mengelus punggungnya pelan.

HANNA

Minum dulu Sa.

Asha menerima gelas yang diberikan Hanna dengan tangan bergetar dan meminum airnya pelan. Hanna duduk di kursi dan menatap Asha dengan tatapan sedih.

HANNA (CONT'D)

Maafin gue, Sa. Gue gak tau lo kayak gini. Maafin gue yang udah gak peka jadi temen. (menundukan kepala) Maafin gue.

ASHA

Kamu gak salah Han. Aku malah bersyukur banget udah punya temen kayak kamu.

Asha mengalihkan pandangannya ke Ren.

ASHA (CONT'D)

Dan makasih juga Ren, dan maaf ya kamu jadi lihat aku yang kaya begini. (beat) Jujur kalo kalian gak dateng, aku gak tau harus gimana.

Ren memandangi Asha dengan wajah agak terkejut. Dia menggenggam tangan Asha pelan. Asha memandangi wajah Ren dan kembali menangis.

ASHA (CONT'D)

Jujur aku udah capek. Udah terlalu banyak cerita yang aku pendam sendiri.(menarik napas panjang) Bahu ku berat, dada ku sakit. Rasanya dunia yang perlahan udah aku bangun, hancur lagi.

Asha mengusap air matanya. Hanna mendekat ke arah Asha dan memeluknya.

HANNA

(Lembut)

Sa, yang gue tau gak semua hal itu bisa lo simpan sendirian. Adakalanya semua hal yang lo pendam dan tumpuk itu bakalan nyakitin lo. (Beat) Jujur, gue sedih banget liat lo kaya gini.

Hanna melepaskan pelukannya dan memegangi bahu Asha. Hanna menatap Asha sambil tersenyum.

HANNA (CONT'D)

Ingat ya Sa. Kalo lo mau cerita, cerita aja. Gue siap dengerin lo. Dan kalo lo perlu bantuan jangan ragu kasih tau gue. Gue bakalan bantuin lo kok.

REN

Iya Sa, kalo ada apa-apa jangan ragu hubungin aku juga ya.

Asha menatap wajah Hanna dan Ren secara bergantian. Asha menghembuskan napasnya lega dan terseyum tipis.

ASHA

Makasih, ya semua. Sekarang rasanya agak sedikit lega.

HANNA

Syukur deh kalo gitu. (terseyum lebar) gue jadi ikutan lega kalo lo udah agak mendingan. Dan lo istirahat aja dulu buat seminggu ini. Gue udah ngomong sama mbak Riri, dia kasih lo cuti dulu. Orang-orang pada khawatir ngelihat lo overwork akhir-akhir ini.

Asha menganggukan kepalanya pelan. Hanna memmeluk Asha kembali. Ren menatap Asha dan Hanna. Hanna mengerutkan dahi.

HANNA (CONT'D)

Apa lo? (menahan tawa). Jangan nyari kesempatan ya!

Ren tersenyum lebar. Asha melepaskan pelukannya dan melihat Ren dengan wajah yang bingung.

REN

(Salah tingkah)

Well, ayo kita pesen makan dulu. It's my treat!

HANNA

(Bersemangat)

Nah gitu dong. Traktir kita makanan enak ya!

Hanna dan Ren terlihat bersemangat dan berusaha menghibur Asha. Asha memandangi mereka sambil tersenyum dan menundukan kepalanya.

MATCH CUT TO:


59. INT. KLINIK - SIANG

Asha mengangkat kepalanya dan keluar dari sebuah ruangan. Pintu Asha tutup pelan. Di bagian atas pintu terlihat sebuah tanda yang bertuliskan "POL.PSIKOMETRI". Asha menutup pintunya dan berjalan pelan.

ASHA (V.O)

Pada akhirnya aku kalah dengan memori ku sendiri. Ku kira jika semuanya ku pendam dan ku lupakan sementara waktu, kisah buruk itu tidak akan kembali lagi. Ternyata aku salah. Tumpukan memori itu menjadi bom waktu yang siap meledak kapan saja.

Asha berjalan menuju arah luar. Dia membuka pintu tersebut.

MATCH CUT TO:

60. EXT. HALAMAN KLINIK - CONTINUOUS

Asha keluar dari pintu dan berjalan menuju sebuah taman di dekat sana.

ASHA (V.O) (CONT'D)

Pada awalnya aku terus menyalahkan orang-orang dari masalalu ku dan tanpa sadar mengurung diri ku di dalamnya. Aku terus menyalahkan mereka, dan menderita sendirian.

Asha berhenti berjalan. Dia memandangi sebuah keluarga dengan seorang anak kecil perempuan yang sedang digendong ayahnya ke dalam klinik.

ASHA (V.O) (CONT'D)

Dan sekarang aku sadar. Yang salah itu aku dan pikiran ku sendiri.

Asha mengambil ponselnya dari kantong celana dan mengetik sesuatu dan kembali berjalan pelan menuju taman di dekat klinik.

ASHA (V.O) (CONT'D)

Memori itu memang menjadi jalan untuk ku mengingat keburukan orang-orang di kehidupan ku yang dulu. Tapi untuk sekarang, rasanya terlalu sayang jika aku terus menyalahkan mereka dan terjebak di cerita yang sudah usai.

Asha duduk di sebuah kursi taman. Dia memandangi langit. Asha tersenyum kecil. Dari arah belakang terlihat Ren yang membawa dua gelas kopi sambil berlari kecil. Ren duduk di samping Asha.

REN

Gimana, Sa?

ASHA

(Tersenyum)

Katanya lebih baik dari dua bulan lalu.

Ren memberikan segelas kopi yang dipegangnya ke Asha. Asha menerima kopi tersebut.

ASHA

Makasih ya, udah nemenin aku hari ini.

REN

It's okay, lagian aku juga seneng nemenin kamu kok.

Asha diam dan menyesap kopinya. Ren melihat Asha dan tersenyum kecil. Ren kemudian mengalihkan pandangannya dan menyesap kopi di tanganya.

ASHA

(Ragu-ragu)

Tapi Ren, kayaknya aku harus bilang ini ke kamu. Masalah cinta-cintaan kayaknya aku masih belum siap.

REN

Iya, aku tau Sa. (tersenyum memandangi Asha) Lagian aku kaya gini bukanya mau nyari kesempatan ke kamu, kok. Aku seneng bareng kamu. That's it. (Menyenderkan badanya ke kursi taman) Tapi aku gak bohong kalo aku bakal nungguin kamu loh. (Menatap Asha lembut) Tapi buat sekarang, jadi temen baik kamu aja udah cukup banget buat aku.

Ren kembali meminum kopinya dan mengalihkan pandangannya ke langit. Asha tersenyum menatap Ren dan kemudian ikut menatap langit bersamanya dengan matahari yang bersinar cerah di langit.

DISSOLVE TO:




Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)