Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
TO MY BEAUTIFUL TRAUMA
Suka
Favorit
Bagikan
2. Ada Yang Salah (BABAK I)

6. INT. RUMAH ASHA DEWASA- RUANG TENGAH - MALAM

Kita melihat Asha masuk ke dalam rumahnya dan mengunci pintu. Ruangan itu terlihat gelap, Asha meraba dinding pelan mencari saklar yang berada di samping pintu. Lampu menyala, dan ruangan kecil berukuran lima belas meter persegi itu menjadi terang seketika.

Asha menoleh ke arah jam dinding yang menunjukan pukul 10.35 malam. Asha yang kelelahan duduk di kursi tamu, dan melepaskan sepatunya dengan asal. Dia duduk dan menyandarkan bahunya ke kursi sambil menatap ruang tamunya yang kecil.

Ponsel Asha berbunyi. Asha menghela napas dan mengambil ponselnya dari dalam tas. Sesaat melihat nama panggilan yang tertera, Asha tertegun. Ren, yang menelponya.

INTERCUT WITH REN

ASHA

Hallo?

REN

Asha, kamu udah nyampe?

ASHA

Ah, iya. Udah nyampe kok.

REN

(Lega)

Oh, syukur deh. Tadi aku chat kamu tapi ga ada balesan. Aku takut kamu kenapa-napa.

ASHA

Gak kok, tadi agak sibuk aja. Makanya lupa bales chat kamu.

REN

(Menyesal)

Harusnya tadi aku anterin aja kamu Sa.

ASHA

Gapapa kok, tadikan aku juga yang maksa buat pulang sendiri. Jadi santai aja.

REN

Tapi sa, lain kali izinin aku buat antar kamu pulang ya. (Salah tingkah) Hmm... by the way, hari ini menyenangkan. You're a wonderful person to talk to (Tersenyum tulus).

ASHA

(Canggung)

Hahaha... thanks.

REN

(Ragu)
Kita bisakan ketemuan lagi? Hmm... maksud ku kalo kamu ga keberatan.

ASHA

Okay, ga masalah.

REN

Thanks ya (tersenyum lebar). Have a good night.

ASHA

Okay, you too.

INTERCUT WITH REN END.

Asha mematikan telepon dengan cepat. Asha meletakan handphone nya di meja. Kemudian memegang kepalanya dan memijatnya perlahan.

ASHA (CONT'D)

Emang kayaknya cinta-cintaan ga cocok buat aku. Gini aja udah risih banget. (menghela napas) Sorry ya Ren.

CUT TO:

6. INT. KANTOR MAJALAH "CAKRAWALA" - LOBY- PAGI

Kita melihat Asha membuka pintu kaca dan masuk ke dalam loby kantor majalah "CAKRAWALA". Suasanya masih sangat sepi. Hanya ada beberapa pegawai dan satpam yang lalu lalang di sana. Rambut Asha yang diikat ponytail terlihat tidak terlalu rapi. Raut wajah Asha gelap pagi itu dan pakaianya sebagian terlihat kusut.

Asha mendekat ke arah mesin absensi biometrik dan meletakan jarinya di sana. Sesaat Asha ingin berjalan menuju lantai dua, Asha terkejut karena ada yang memegangi bahunya dari belakang. Asha menoleh, dan melihat seorang wanita dengan rambut gaya wolf cut tersenyum kearahnya. Dia HANNA (28), teman baik Asha.

HANNA

Lo punya utang cerita sama gue. Jangan kabur (tersenyum).


Asha mengela napas berat dan menatap wajah Hanna dengan raut wajah tidak percaya.

CUT TO:

7. EXT. ROOFTOP KANTOR - CONTINUOUS

Kita melihat Asha dan Hanna yang sedang berdiri menyandarkan tubuh di batas pengaman rooftop kantor mereka. Rooftop itu terlihat berantakan dan tidak terurus. Ada banyak tumpukan galon, kotak plastik, dan sebuah kursi plastik tidak terpakai di samping tubuh Hanna. Langit pagi itu juga terlihat mendung.

ASHA

(Kesal)
Han, ini masih pagi banget loh. Tas kita juga belum ditaroh, Han.

HANNA

(Menutup telinganya)

Lalalala... Ga mau tau. Gak peduli. Pokoknya cerita sekarang.

ASHA

(Kesal)

oke, cerita kan? Jadi kemarin itu...

HANNA

Shut... (menempelkan jarinya telunjuknya ke dahi Asha) bentar.


Asha melongok dan tak percaya, sesaat melihat Hanna mengeluarkan dua buah roti coklat dari dalam totebagnya.

HANNA (CONT'D)

Nih (memberikan roti) makan dulu. Soalnya lo udah kayak zombie, rese kalo laper (tersenyum jahil).

Asha mengusap wajahnya frustasi. Hanna tersenyum dan terus menyodorkan roti coklat yang dipegangnya kepada Asha. Asha menutup mata dan menarik napasnya pelan berusaha menenangkan diri.

ASHA

(Kesal)

Makasih han (mengambil roti). Kamu emang yang paling ngerti deh.

HANNA

Oh iya dong, gue kan emang yang paling ngertiin lo, Sa.

ASHA

(Sarkas)

Iya kamu kan emang yang paling ngertiin aku Han, mendung sama angin kenceng gini aja kamu ajak cerita di luar (tersenyum sinis). Mana sambil makan roti lagi (mengangkat roti kedepan wajah Hanna). Kamu emang yang paling ngerti aku deh, Han.

Hanna memakan rotinya sambil menatap pemandangan kota di hadapannya dengan santai. Asha yang masih kesal berjalan menuju sebuah kursi plastik di samping Hanna dan duduk. Asha membuka bungkus roti itu dan memakannya.

HANNA

Lagian lo juga baru pagi bentukannya udah gak karuan gitu. Santai Sa, santai. Nyebat mau?

ASHA

(Menghela napas berat)

Han, kalo kamu gini terus. Aku balik ke dalam aja deh. Soalnya, kerjaan ku banyak.

Asha berdiri dari kursi dan hendak berjalan masuk. Namun, dengan cepat Hanna menarik bahu Asha dan mendudukannya kembali ke kursi.

HANNA

Ah iya maaf. Ga asik banget sih lo, masih pagi juga (berdecak kesal). Jadi gimana kemaren?

Asha kembali memakan roti dengan kesal dan menatap Hanna dengan wajah malas.

HANNA (CONT'D)

Hah, masa gagal lagi? Ga cocok sama tipe lo?

ASHA

Gak kok, orangnya baik, ganteng juga malah. Cuman mines dikit, masa di kencan pertama telat gitu.

HANNA

Bukanya dia udah bilang ada masalah ya waktu mau ketemu lo? Pacar gue juga nolongin dia kemarin.

ASHA

Iya ada sih. Tapi ya, gitu...


Hanna menatap Asha curiga. Asha menghindari tatapan Hanna dan memakan rotinya gugup.

HANNA

(Curiga)

Gue yakin, bukan ini alasanya (Meremas bungkus roti).

ASHA

Gimana ya. (berpikir) Kamu tau kan vibes orang-orang yang terlalu baik gimana? Too good to be true aja gitu.

Hanna menatap Asha dan menggelengkan kepalanya heran.

HANNA

Wah... (memegangi belakang lehernya) merinding gue denger alasan lo, Sa. Gue kira yang beginian cuman bisa dipake buat putus aja, ternyata buat nolak orang juga bisa ya. Pantesan deh hari ini mendung, hiii takut...

ASHA

(Marah)

Ya mau gimana dong, Han!

HANNA

Gila lo, sa. Emang udah gak ketolong. GWS deh, GWS.

Asha berdiri dari kursinya dan berjalan ke arah pembatas rooftop, menatap pemandangan kota yang ada di hadapanya. Rambutnya yang ditiup angin, terlihat sedikit berantakan. Hanna mendekat ke arah Asha.

HANNA (CONT'D)

Dari banyaknya kencan buta yang gue atur buat lo, ga ada yang berhasil ya. Padahal yang gue kenalin pada oke semua loh.

Asha menatap Hanna dengan tatapan tidak percaya.

ASHA

Hah? Kamu yakin han, pada oke semua?

HANNA

Ya emang kan?

ASHA

(Kesal)

Kamu ingat kejadian si Julian gak sih? (bertolak pinggang) Cuman karena ngomong pake "aku-kamu" dia kira kita udah jadian. Oh dan juga, si Dodi kacang ijo, yang ngungkit anak kesehatan mulu.

HANNA

(Berdecak)

Iya sih. Tapi kan ya (menggaruk leher) cara ngomong lo juga ambigu. (beat) Dan gue bilang mereka oke karena emang kerjaannya pada oke kan? Si Julian dokter, si Dodi...

ASHA

(Tegas)

Han, please. Pertama ya, aku ngomong gini karena udah terbiasa dan nyamannya emang make aku-kamu. Dan kedua, kerjaan oke bukan berarti orangnya oke juga kan?

Asha menyilangkan tangan sambil menatap Hanna yang menatap jalanan di bawahnya. Mereka terdiam untuk sesaat.

HANNA

(Menghela napas)

Tapi, seriusan deh Sa. Gue sebagai temen lo, cuman pengen liat lo bahagia aja.

ASHA

(Bingung)

Maksudnya Han? Aku bahagia-bahagia aja kok?

HANNA

Gue udah kenal lo dari lama, Sa. Dari dulu sampe sekarang, yang gue liat (beat) lo selalu sendirian.

Asha yang mendengar perkataan Hanna terdiam.

HANNA (CONT'D)

Temen lo, kurang dari ini sa (menunjukan dua jarinya). Artinya temen baik lo, cuman gue doang. Dan, karna kita udah temenan lama, gue tau sedikit kondisi keluarga lo gimana. Di sosmed juga lo ga terlalu aktif.

ASHA

(Murung)

Kamu udah capek ya temenan sama aku Han?

HANNA

Bukannya gitu, Sa. Gue gak selamanya ada di samping lo (mencengkram kedua bahu Asha). Lo tau kan, bentar lagi gue nikah. Kemungkinan besar gue resign, dan ikut Bagas ke Semarang. Gue takut lo ga ada temen di sini.

Asha yang mendengar perkataan Hanna, menundukan kepalanya. Hanna melepaskan cengkramannya dan menatap Asha penuh harap.

HANNA (CONT'D)

(Frustasi)

Gue cuma pengen yang terbaik buat lo. (beat) Kalo gue liat lo bahagia sendirian, gue gak bakalan keras kepala ngenalin lo sana-sini.

Hanna mendekat ke arah Asha yang masih termenung.

HANNA (CONT'D)

(Ragu)

Dan maaf kalo perkataan gue bikin lo tersinggung. (beat) Gue rasa ada yang salah sama lo, Sa.

Asha membelalakan matanya terkejut. Asha membuang wajah ke arah lain, dan menggigit bibir bawahnya. Angin pada saat itu bertiup semakin kencang. Hanna mengusap-usap matanya yang terkena debu dengan asal.

HANNA (CONT'D)

Ah, jadi gloomy gini suasananya. Udahan ah, ayo masuk (merangkul bahu Asha). Bentar lagi gue juga ada jadwal interview, di marahin mbak Riri lagi ntar.


Asha tersenyum masam dan menganggukan kepalanya pelan. mereka berjalan menuju pintu kayu berwarna coklat tua dan kembali masuk ke dalam.

CUT TO:

8. INT. KANTOR MAJALAH "CAKRAWALA" - KUBIKEL ASHA - SIANG

Kita melihat Asha yang sedang bekerja di depan komputernya. Kubikel tempat Asha bekerja penuh dengan notes dan kertas-kertas yang berhamburan. Ikatan rambut Asha juga terlihat acak-acakan. Sesekali Asha memijat dahinya.

Sebuah tangan menepuk bahu Asha dari belakang. Asha terkejut. Terlihat seorang wanita muda berjilbab hitam yang menepuknya tadi, dia salah satu KOLEGA (25) Asha di kantor.

KOLEGA

Kak, ayok ikut kita makan di resto sebrang. Katanya mas Bayu mau traktir semua anak redaksi.

ASHA

(Tersenyum)

Oh, duluan aja. Nanti aku nyusul.

KOLEGA

Oke, kalo gitu kita duluan ya kak.

Wanita itu pergi disusul dengan beberapa orang lainya. Asha menoleh ke arah sekitar. Ruangan terlihat kosong dan sunyi. Asha melihat jam dinding yang menunjukan pukul 12. 07. Asha menghela napas dan menyenderkan dirinya di punggung kursi kerjanya. Kepala Asha menengadah ke arah langit-langit kantor.

ASHA

(Menggumam)

Yang salah ya...


Ponsel yang berada di atas meja Asha bergetar. Layar menunjukan pesan Whatsapp dari Hanna. Asha mengambil ponselnya dan membuka pesan yang masuk.

HALF SCREEN: BUBBLE CHAT TEXT WITH: HANNA (NEW).

HANNA (NEW) : Buat lo ya cantik

HANNA (NEW) : pdf.081922.1

HANNA (NEW) : Tanda maaf dari gue (emoji hati)

Asha membuka file yang dikirim Hanna. Sebuah tiket digital berwarna pink, dengan gambar seorang wanita cantik berbaju dokter dengan pin bergambar hati dengan tulisan "WEBINAR DOKTER CINTA KU WITH KANIA LOVAJI (PROFESIONAL RELATIONSHIP COACH) TEMA: CINTA MU MASALAH KU".

Asha tersenyum kecil.

HANNA (NEW): Link zoomnya bakalan dikirim ke Email lo besok. dapetin slotnya perjuangan banget loh (emoji sedih). Tapi terserah lo sih mau ikut apa gk wkwkwkwk...

ASHA: IYA MAKASIH (emoji ok)

HANNA (NEW) : Atau cobain ngedate lagi sama si Ren deh... Dia nanyain lo mulu nih tadi (emoji ketawa)

HANNA (NEW): Tapi seriusan sa. Tadi gue gk sengaja ketemu sama dia pas abis interview, kayaknya dia beneran suka sama lo deh (emoji wink)

HALF-SCREEN SELESAI.

Asha meletakan ponselnya di atas meja dengan asal dan mengelus wajahnya gusar. Asha menghembuskan napas panjang. Badanya masih menyender ke kursi.

ASHA

(Gelisah)

Gimana nih, kacau, kacau, kacau!

Asha menegakan tubuhnya dan berdiri dari kursi.

ASHA (CONT'D)

Makan dulu kali ya, mumpung gratis kan.

Asha pergi menuju pintu kaca putih dan keluar dari ruangan. Ruangan kantor menjadi kosong. Tak berapa lama, TERDENGAR PELAN SUARA DERING PONSEL.

Di atas meja yang penuh akan kertas, ponsel Asha berdering, panggilan masuk. Layar menunjukan nama "BAPAK" dan pangilan terhenti.

CUT TO:


Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)