Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
TO MY BEAUTIFUL TRAUMA
Suka
Favorit
Bagikan
5. DAN (BABAK II)

13. EXT. SMA ENGGANG. GERBANG SEKOLAH - SORE

Hari mulai sore. Dua anak berseragam SMA, keluar dari arah gerbang SMA ENGGANG menggunakan motor dan sepeda mereka. Suasana sekolah sore itu sudah sangat sepi. Jalanan di depan sekolah juga tidak banyak pengendara yang lewat.

Kita melihat Asha yang sedang berjongkok di samping gerbang depan SMA ENGGANG. Asha terlihat sangat bosan. Dia memegang sebuah lidi kecil di tangan kanannya dan menggesekanya ke tanah, menggambar sesuatu. Asha menghembuskan napas berat dan melemparkan lidi dengan kesal. Asha melihat keselilingnya. Hanya ada dia dan seorang satpam sekolah yang berada di sana.

Pria paruh baya yang duduk di pos satpam tepat di samping gerbang sekolah itu terlihat kebingungan. Dia menggaruk-garuk kepalanya. PAK SATPAM (50) berdiri dari tempat duduk dan mendekat ke arah gerbang tempat Asha menunggu.

PAK SATPAM

Nak, jemputan kamu masih belum datang?

ASHA

(Murung)

Kayaknya bentar lagi pak.

PAK SATPAM

Aduh... Nak, kamu duduk di pos aja ya. Nunggu di luar senja gini, bahaya.


Asha tidak mendengarkan perkataan Pak Satpam. Pria itu semakin gelisah.

PAK SATPAM

Ini bapak mau keliling ngunciin pintu. Kamu sendirian gitu takut ada apa-apa loh!

ASHA

Gak papa pak, makasih. Aku di sini aja. Bentar lagi Bapak ku datang kok.

Dengan ragu Pak Satpam berbalik dan perlahan berjalan menjauh dari tempat Asha menunggu jemputanya.

Dari kejauhan terlihat Tara yang sedang berjalan sambil menggiring sepedanya.

PAK SATPAM

(Berteriak)

Hey, sini!

Pak Satpam terlihat senang dan melambaikan tangannya ke arah Tara dengan semangat. Tara berlari kecil menuju tempat Pak Satpam berdiri. Sesekali Tara memperbaiki tas ransel yang molorot di bahunya. Tara berhenti berlari, dan menatap pria paruh baya itu dengan wajah bingung.

PAK SATPAM (CONT'D)

Nak, tolong kamu temenin anak yang nunggu di depan itu ya. Udah mau senja, kasihan dia sendiri. Bapak mau keliling ngunciin kelas dulu.

TARA

Tapi aku juga mau pulang pak.

PAK SATPAM

Ah, bentar aja kok. Masa kamu tega sih liat cewek sendirian di depan gitu. Kalo gak mau, bantuin bapak keliling ngunciin kelas aja deh!

TARA

(Nyengir)

Aku bantu temenin dia aja pak, hehe...

Pak Satpam mengangguk dan menepuk bahu Tara, lalu pergi. Tara menatap punggung Pak Satpam yang mulai menjauh. Tara kemudian mengalihkan pandangannya ke arah gerbang depan sekolah. Di sana dia melihat Asha yang sedang berjongkok sambil menatap jalanan sepi di depannya.

Dengan pelan Tara mendekat ke Arah Asha dan memarkirkan sepedanya di samping pos satpam. Tara melihat Asha yang melamun, terenyum kecil. Tara menaruh tasnya di tanah dan ikut jongkok di samping Asha.

TARA (CONT'D)

Masih lama ya?

ASHA

(Menghela napas)

Gak tau, apa aku pulang jalan kaki aja ya?

TARA

Kenapa gak naik angkot aja?

ASHA

Uang jajan ku udah abis.

TARA

Mau aku pinjemin?

Asha menggelengkan kepalanya dan terdiam. Dia menolehkan kepalanya pelan dan tersenyum canggung, tersadar akan kehadiran Tara di sampingnya.

ASHA

Eh, kak.

Tara tertawa lepas melihat kecanggungan Asha.

TARA

Tapi mau minjam uang aku dulu gak?

ASHA

Oh, ga usah kak, gak usah!

TARA

Seriusan? Atau mau pake HP ku buat nelpon dulu?

Tara mengeluarkan ponsel BlackBerry miliknya dan memberikannya ke Asha. Asha mengambil ponsel itu dan terdiam agak lama. Tara memiringkan kepalanya dan menatap Asha sedikit bingung.

ASHA

(Ragu)

Maaf kak, gak jadi deh.

TARA

Loh, kenapa?

ASHA

Aku gak ingat nomor Bapak sama Mama ku. Ngehubungin HP ku di rumah juga bakalan percuma.

Asha mengembalikan ponsel Tara. Tara menganggukan kepalanya dan mengambil ponsel itu dari tangan Asha. Asha yang terlihat murung, membuat Tara tersenyum.

TARA

Ya udah deh, aku temenin sampe kamu dijemput.

ASHA

(Lesu)

Pulang aja kak. Aku bisa sendiri kok.

TARA

Seriusan berani? Di sekitar sini banyak premannya loh!

Asha terkejut, dia menatap Tara takut.

TARA (CONT'D)

(Berbisik)

Dulu katanya mereka suka malak, kalo gak mau kasih ya gitu...

ASHA

(Serius)

Gitu gimana kak?

TARA

Bakalan di "KEEK" (mengarahkan tangannya ke leher).

Asha menegakan tubuh dan menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri dengan cepat. Tara melihat Asha dan tersenyum dengan lebar.

TARA (CONT'D)

Katanya juga ada kuyang loh. Dia suka gangguin anak yang nunggu sendirian di luar pagar, apalagi sore begini.

Asha menatap Tara dan mengernyitkan dahinya.

ASHA

Kakak bohong kan?

Tara menolehkan kepalanya ke samping dan tertawa kecil. Kemudian dia berdeham pelan dan menatap Asha sambil tersenyum.

TARA

Terserah sih, kalo gak percaya juga gapapa.

Asha yang kesal hanya diam dan menatap jalanan sepi di depannya. Tara menatap Asha sebentar dan ikut mentap jalanan di depannya.

Beat.

TARA (CONT'D)

Oh iya, kamu yang di lapangan tadi pagi kan?

Tubuh Asha kaku. Dia diam dan tidak berani menatap wajah Tara.

TARA

(Khawatir)

Loh kamu gapapa?

ASHA

Oh, gapapa kok kak!

Dengan cepat Asha menggeser tubuhnya agak jauh dari tempat Tara duduk. Asha mengusap wajahnya kasar dan menghela napas berusaha menenangkan diri karena malu.

ASHA (CONT'D)

Maaf ya kak karna udah ga sopan tadi pagi. Tapi jangan salah paham loh ya, aku ga ada pikiran yang aneh kok!

TARA

(Tersenyum jahil)

Salah paham? Emangnya kayak gimana?

ASHA

(Frustasi)

Intinya aku natap kamera yang kakak pegang tadi pagi, (memelankan suara) bukan natap kakak atau apa.

TARA

Oh kamera?

Tara terlihat bersemangat dan membuka tas ransel yang ada di sampingnya dengan cepat. Dia mengeluarkan sebuah tas hitam kecil dari sana. Tara membuka tas kecil itu dan menunjukan kamera digital SLR EOS 600D berwarna hitam kepada Asha.

TARA (CONT'D)

Kamu penasaran sama ini?

ASHA

(Bersemangat)

Iya, aku juga penasaran sama jaket kakak yang ada tulisan jurnalistiknya.

Tara yang tadinya sibuk dengan kameranya, mentap Asha dengan senyuman yang lebar.

ASHA (CONT'D)

(Ragu)

Itu bagian dari OSIS ya?

TARA

Jurnalistik? Oh bukan bagian dari OSIS kok. Kebetulan anak OSIS pada minta tolong buat dokumentasi kegiatan MOS. Jadi ya gitu.

ASHA

Oh jadi itu ekskul lain ya?

TARA

(Bersemangat)

Iya, kamu tertarik? Ayo join dong, biar makin rame. Anggota kami dikit banget loh. Kebetulan aku juga ketuanya kok!

ASHA

(Ragu)

Hmm... Aku minta izin Mama sama Bapak ku dulu ya kak.

TARA

(Menganggukan kepala)

Oh, kenalin Akhtara Dipta. Panggil aja Tara. Kelas sebelas IPA enam. Kalo kamu?

Tara menjulurkan tangannya ke arah Asha, hendak bersalaman. Asha ragu menyambut uluran tangan Tara.

ASHA

Asha Darly, kak. Kelas sepuluh tiga.

Asha menarik tangannya dengan cepat. Tara tersenyum dengan lebar sesaat melihat Asha yang mengalihkan pandangannya dengan canggung.

TARA

Nanti kalau MOS udah selesai, aku tanyain lagi ya.

Asha mengangguk pelan, tanpa menolehkan kepalanya ke arah Tara. Tara tersenyum dan mengarahkan pandangannya ke langit sore.

Beat.

Asha melihat Bapak dari kejauhan dengan motor merahnya. Asha berdiri dengan cepat dan tersenyum. Tara juga ikut berdiri di samping Asha.

ASHA

(Senang)

Jemputan aku udah datang. Makasih kak, aku duluan ya!

Asha berbalik dan berlari kecil menuju Bapak yang ada di sebrang jalan. Tara menganggukan kepalanya dan tersenyum sopan ke arah Bapak. Bapak tak merespon Tara dan hanya menatapnya. Bapak memberikan helm kepada Asha dan dengan cepat menyalakan motornya, lalu pergi.

Sekarang kita melihat Tara yang sendirian. Tara kembali ke pos dan mengambil sepedanya. Tara naik ke sepedanya dan pergi.

CUT TO:



Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)