Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
TO MY BEAUTIFUL TRAUMA
Suka
Favorit
Bagikan
10. YANG TAK TERPISAHKAN (BABAK II)

28. INT. RUANG KELAS. PAGI

Kita melihat sebuah papan tulis putih. Seorang siswa datang dan menuliskan 15 MARET 2012. Di belakang siswa itu ada Asha yang berjalan dengan senyum lebar di wajahnya. Asha duduk di kursinya dengan bersenandung kecil. Icha melihat Asha dengan bingung.

ICHA

Ada yang lagi seneng nih kayaknya.

ASHA

hehe... iya.

ICHA

(Menghadapkan tubuhnya ke Asha)

Ada apa emangnya, Sa? Cerita dong, kepo nih!

Asha membuka resleting tasnya dan mengeluarkan sebuah Majalah dengan sampul bertuliskan "SMA-GANG BISA!". Di cover tersebut terlihat kepala sekolah yang sedang menggandeng beberapa siswa di sampingnya. Asha tersenyum bangga memamerkan majalah yang di pegangnya itu.

ASHA

(Bersemangat)

Coba lihat deh. Majalah tahunan sekolah pertama aku. Bagus kan!

Icha melihat-lihat majalah dan menatap wajah Asha dengan kagum.

ICHA

Wah, ini kalian yang buat?

ASHA

Iya dong!

Icha terus membuka halaman majalahnya dan terhenti ketika melihat selembar foto yang terselip di dalam salah satu lembaran di majalah itu. Icha mengambilnya dan melihat foto tersebut dengan tatapan wajah datar. Di dalam foto itu terlihat Asha dan Tara yang sedang tersenyum. Tara terlihat memegangi kepala Asha dengan jahil dan membuat rambut pendeknya sedikit berantakan.

ICHA

Ah, ini foto kamu sama kak Tara ya?

Asha terkejut dan melihat foto yang sedang di pegang Icha. Dia mengambil foto itu dan dengan cepat memasukannya ke dalam tasnya. Asha menggaruk lehernya salah tingkah.

ASHA

(Tersenyum)

Ah, itu foto lama. Kak Alfin pasti iseng masukin fotonya ke dalam situ.

ICHA

Oh, gitu.

Icha kembali melihat majalah yang ada di hadapannya. Icha mengalihkan pandangannya dan menatap Asha dengan wajah penasaran.

ICHA (CONT'D)

Kok kamu bisa sih deket sama kak Tara?

ASHA

(Bingung)

Ah, maksudnya Cha?

ICHA

Ya, aneh aja gitu ngeliat kalian bisa deket banget. Kamu tau kan, Kak Tara salah satu idola sekolah kita. Kalo dipikir-pikir lagi sih agak gimana (Menatap mata Asha).

ASHA

Ah, gak aneh kok. Aku sama kak Tara kan satu ekskul juga.

ICHA

Iya sih, lagian kan kak Tara emang tipe cowo friendly. Jadi bisa akrab sama siapa aja kan ya. Yang kaya tadi mungkin udah biasa bagi kak Tara ya kan?

Asha terdiam menatap Icha yang sedang tersenyum lebar ke arahnya. Asha dengan perlahan mengambil majalah yang tergeletak di meja Icha pelan. Asha memaksakan senyum, dan memasukan majalah itu ke dalam tasnya. Asha menggeser tasnya dan menjatuhkan botol air berbahan metal ke lantai.

SMASH CUT TO:

29. INT. RUANG EKSKUL JURNALISTIK - SORE

Asha mengambil sebuah pulpen yang jatuh di lantai. Asha menegakan tubuhnya kembali dan meletakan pulpen tersebut ke atas meja. Asha termenung menatap pulpen tersebut. Asha menghembuskan napasnya berat dan mengeluarkan sebuah earphone berwarna putih dan memasangnya di telinga. Asha terlihat menuliskan sesuatu di sebuah buku dengan serius.

Pintu di belakang Asha terbuka. Alfin dan Tara memasuki ruangan sambil bercanda. Asha melepaskan sebelah earphone nya dan tersenyum ke arah mereka. Alfin dan Tara berjalan masuk dan duduk di sebrang Asha.

ALFIN

(Bersemangat)

Gak nyangka, majalah kita tahun ini banyak peminatnya. Gak sia-sia waktu berbulan-bulan kita bikin ini. (Mengeluarkan majalah dari dalam tasnya dengan semangat) Tadi anak OSIS bilang majalahnya udah habis loh! Gila, keren banget kita.

TARA

(Tersenyum)

Iya, anak-anak di kelas ku juga pada suka. Aku sampe pusing digerombolin dan ditanyain terus dari pagi.

ALFIN

(Kesal)

Tau kok tar, gak usah pamer. Muka pas-pasan gini gak relate sama kamu, si bintang sekolah.

Tara tertawa kecil dan mengeluarkan sebuah buku dan pulpen dari dalam tasnya. Alfin memainkan alisnya menggoda Asha yang sedang menatapnya bingung.

ALFIN (CONT'D)

Sa, udah nemu harta karunnya kan?

ASHA

(Bingung)

Harta karun apa kak?

ALFIN

Itu loh, yang tadi pagi. Di dalam majalah.

ASHA

Oh, foto? Udah kok. Makasih ya kak.

Alfin menyenderkan tubunya di kursi dan menganggukan kepalanya dengan bangga. Tara melihat Alfin dengan tatapan curiga.

TARA

Loh foto apaan? Kok aku gak tau?

ALFIN

Bentar Tar, Punya kamu ada kok.

Alfin mengeluarkan selembar foto dari dalam tasnya. Alfin mengangkat foto itu kedepan wajahnya dan menutup mulutnya, mengejek Tara. Tara melihat foto itu dan dengan cepat Tara merebutnya.

TARA

Loh kok foto ini ada sama kamu? Kata kamu fotonya kehapus loh!

ALFIN

Dengan ke ajaiban cinta semuanya bisa terjadi Tar (memeluk dirinya sendiri).

Tara memukul kepala Alfin dengan buku. Alfin tertawa terbahak-bahak. Asha yang melihat mereka terkekeh dan kembali memasang earphone di telinganya. Tara melirik Asha dan tersenyum.

Asha dan Tara terlihat sibuk menuliskan sesuatu di buku mereka. Di sisi lain Alfin sibuk memainkan ponselnya dengan satu kaki naik ke atas kursi. Alfin memukul lengan Tara heboh. Alfin melihatkan foto seorang gadis yang selfie dengan gaya duck face. Tara yang melihat foto itu mengerutkan dahinya dan menatap wajah Alfin bingung.

ALFIN (CONT'D)

Cantik kan? Info aja nih, biar gak ganteng. Fans Alfin tetap banyak.

TARA

Gak, biasa aja.

Tara kembali menuliskan sesuatu di bukunya. Alfin terlihat kesal dan menunjukan foto-foto lainnya.

ALFIN

Lihat lagi dong Tar, masa yang begini gak cantik sih. Wah kacau!

TARA

(Malas)

Iya-iya cantik. Emangnya dia cewek kamu yang keberapa?

Alfin berusaha menghitung dengan jarinya dan tersenyum seperti orang bodoh. Tara menggelengkan kepalanya dan kembali menulis. Alfin menyenderkan kepalanya di meja dan menatap Tara.

ALFIN

Tapi seriusan deh Tar. Emangnya menurut kamu yang cantik itu gimana? Aku penasaran referensi orang ganteng kaya apa.

Tara berhenti menulis dan menatap Alfin. Tara mengambil lembaran foto yang ada di meja dan memandanginya. Tara tersenyum.

TARA

Kayak yang di foto ini. Cantik.

ALFIN

Udah ketebak sih.

Tara meletakan fotonya dan kembali menulis. Di lain sisi, Asha menggengam pulpennya dengan keras berusaha untuk menenangkan diri. Dia berhenti menulis dan memukul-mukul pulpen kemeja dengan pelan. Asha diam dan menahan senyum.

SMASH CUT TO :

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)