Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Mahardika
Suka
Favorit
Bagikan
20. Ada Apa Sebenarnya
Skrip ini masih diperiksa oleh kurator

INT. KAMAR DAMAR — SORE

Damar merebahkan dirinya di atas tempat tidur. Seragam putih abu-abu masih melekat di tubuhnya yang agak kurus. Ikat pinggang dan kaos kaki juga belum ia lepas. Ranselnya sudah diletakkan pada tempat biasa, bersebelahan dengan gitar.


Dari jendela kamar, langit terlihat cukup gelap, seperti akan turun hujan.

CITRA (O.S.)

Dek, kamu udah pulang?

DAMAT (menoleh ke arah pintu)

Baru aja.


Damar menguap. Karena agak mengantuk, ia memejamkan kedua matanya.

Pintu kamar terbuka sedikit. Seorang cewek jangkung, CITRA, menarik kenop pintu. Ia menyelipkan kepalanya melalui celah pintu.


CITRA

Jadi nggak maskerannya?

Damar membuka mata. Ia mengangkat kepalanya sehingga tampak kepala sang kakak yang seperti sedang mengintip.

DAMAR

Iya, Kak.

Citra mengangguk. Ia melangkah masuk, lalu kembali menutup pintu. Damar kembali merebahkan kepalanya. Tatapannya kosong.


FLASHBACK:

EXT. GERBANG BELAKANG SEKOLAH — SORE

Bel pulang sekolah baru saja berbunyi. Damar segera meninggalkan kelas. Ia bergegas menuju gerbang belakang, sesuai rencana yang ia buat bersama DIMAS saat makan bakso pada istirahat kedua. Damar berdiri di sekitar gerbang. Ia teliti mengamati siswa yang lalu-lalang.

Tiba-tiba—

DIMAS (O.S.)

Woy, Jangkung!


Damar menoleh ke segala arah. Akhirnya ia melihat sebuah warung kecil yang letaknya tidak begitu jauh. Dimas sedang berdiri di dekat motornya.

Damar menghampiri.


EXT. WARUNG KECIL — SORE

Damar menstandarkan sepedanya di dekat motor Dimas.

DAMAR

Dari tadi?

DIMAS

Belum lama, kok. Yuk, ngobrol di dalam.


Dimas masuk lebih dulu. Damar mengekori.


INT. WARUNG KECIL — SORE

Damar dan Dimas duduk bersebelahan di dekat jendela. Dimas memesan es teh manis. Damar memilih sebotol air mineral. Damar menatap serius orang di sebelahnya.


DAMAR

Jadi ....


DIMAS (menelan ludah)

Jadi, sebenarnya aku nggak mau cerita ke kamu tentang Wulan. Tapi, karena aku ini orang yang bijaksana, maka dengan berat hati aku akan tetap kasih tahu kamu.

(meraih ponselnya dari saku celana. Ia memeriksanya sebentar, kemudian memasukkannya kembali ke saku.)

DAMAR (V.O.)

Dasar bocah tengil.

DIMAS (kembali menatap Damar)

Ekhemm, jadi, Wulan itu sekarang tinggal di dekat rumah pakde aku. Dia menjadi anak angkatnya Bu Viona. Guru baru di sekolah kita, yang katanya pindahan dari Depok.

DAMAR (melotot)

Anak angkat?

DIMAS (menyipitkan matanya, lalu mengangguk)

Iya.

DAMAR

Terus ayahnya?

DIMAS (mengedikkan bahu)

Nggak tahu kalau itu, emang aku ini Tuhan yang tahu segalanya?


DAMAR (menatap sinis)

Katanya dia pacar kamu?

DIMAS (tersenyum)

Aku kan bilangnya, semoga. Udah panik aja kamu.


Damar menghela napas. Ia membuka tutup botol air mineral, lalu meminumnya.

Mbak Runi, penjaga warung, datang membawa es teh manis pesanan Dimas.


Dimas meraih gelas itu. Ia hanya menyeruput sedikit, kemudian kembali meletakkannya.

DIMAS

Oh, iya, kalau tentang penampilan dia yang berantakan gitu. Sebenarnya awal berangkat dia rapi, kok. Rambut diikat juga. Cuma anak-anak suka jahil, pas orangnya tidur ditarik, tuh, ikat rambutnya. Tapi, ya, gitu. Kadang dia marah, kadang bodo amat. Anehlah.

DAMAR (melempar tatapan heran)

Kamu nggak belain dia?

DIMAS (berpikir sejenak)

Mau belain gimana kalau korbannya aja pasrah, nggak protes, nggak ada perlawanan. Tapi yang aneh, kalau yang usil sama dia cowok.

DAMAR

Anehnya?

DIMAS

Langsung ditarik kerah bajunya. Terus suruh milih, mau dipukul atau ditendang. Tapi kadang, kalau agak keterlaluan, ya, nggak dikasih pilihan. Langsung dihajar aja sama dia. Pokoknya kalau sama cowok dia temperamen banget. Tapi kalau ke cewek dia cuek, bodo amat gitu. Mungkin takut kelepasan, jadi lebih milih nggak peduli sekalian.


DAMAR (berdehem, tatapannya penuh selidik)

Berarti kamu tadi beliin dia bakso, karena punya salah sama dia? Terus biar dimaafkan, kamu nyogok pake bakso?

DIMAS (berdecap)

Bukan, kok. Aku cuma minta dia bantu kerjakan PR aja. Dan dia minta bakso, ya udah.

DAMAR

Modus.

DIMAS (tersenyum sambil menahan tawa)

Kamu masih nggak suka aja, aku dekat-dekat dia.

(meraih botol air mineral, kemudian meneguknya sedikit)

DAMAR

Biasa aja.

(Raut wajahnya berubah sebal)

DIMAS (menuding Damar)

Tuh, kan. Kayak gini, ya, ekspresi orang yang biasa aja?

(Senyum di wajah Dimas perlahan berubah menjadi gelak tawa)


Damar menunggu sampai tawa itu reda.

DAMAR

Berarti dia sekelas sama kamu?

Dimas mengangguk. Ia menatap Damar lalu membuang napas keras.

DIMAS

Hm, kamu masih sebegitu pedulinya, ya, sama dia? Sampai menyempatkan diri mau ketemu aku di sini.

Dimas meraih es tehnya. Menyesap sebentar, kemudian kembali meletakkannya.


Damar berpikir sejenak. Alis kirinya terangkat.

DAMAR

Nggak juga.

(berhenti sejenak)

DAMAR

Kalau kamu sendiri, gimana? Masih?


DIMAS (memasang wajah sok polos)

Masih apa?

DAMAR

Ya, itu, yang dulu. Nggak perlu aku sebutkan, ‘kan?


Tatapan kedua laki-laki itu beradu. Seolah mereka saling bisa membaca pikiran masing-masing. Dimas kemudian mengalihkan pandangannya pada beberapa makanan yang berjajar di atas meja. Tangannya mencomot sebuah mendoan beserta cabai yang tersedia.

DIMAS

Ya iyalah, kan udah jelas dari kata-kata aku tadi.

(mulai menggigit cabai, disusul mendoan)

DAMAR (menoleh)

Aku kira kata-kata kamu tadi cuma becanda, ngisengin aku.

DIMAS

Aku seriuslah.

Damar menghela napas pelan. Ia bangkit dari posisi duduknya. Damar tidak ingin peduli. Lagi pula, itu hak Dimas.


CUT TO:

INT. KAMAR DAMAR — SORE

Damar masih terbaring di atas tempat tidurnya. Tatapannya kosong.


CUT TO BLACK.


♡♡♡

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)