Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
INT. KAMAR DAMAR — SORE
Damar merebahkan dirinya di atas tempat tidur. Seragam putih abu-abu masih melekat di tubuhnya yang agak kurus. Ikat pinggang dan kaos kaki juga belum ia lepas. Ranselnya sudah diletakkan pada tempat biasa, bersebelahan dengan gitar.
Dari jendela kamar, langit terlihat cukup gelap, seperti akan turun hujan.
CITRA (O.S.)
Dek, kamu udah pulang?
DAMAT (menoleh ke arah pintu)
Baru aja.
Damar menguap. Karena agak mengantuk, ia memejamkan kedua matanya.
Pintu kamar terbuka sedikit. Seorang cewek jangkung, CITRA, menarik kenop pintu. Ia menyelipkan kepalanya melalui celah pintu.
CITRA
Jadi nggak maskerannya?
Damar membuka mata. Ia mengangkat kepalanya sehingga tampak kepala sang kakak yang seperti sedang mengintip.
DAMAR
Iya, Kak.
Citra mengangguk. Ia melangkah masuk, lalu kembali menutup pintu. Damar kembali merebahkan kepalanya. Tatapannya kosong.
FLASHBACK:
EXT. GERBANG BELAKANG SEKOLAH — SORE
Bel pulang sekolah baru saja berbunyi. Damar segera meninggalkan kelas. Ia bergegas menuju gerbang belakang, sesuai rencana yang ia buat bersama DIMAS saat makan bakso pada istirahat kedua. Damar berdiri di sekitar gerbang. Ia teliti mengamati siswa yang lalu-lalang.
Tiba-tiba—
DIMAS (O.S.)
Woy, Jangkung!
Damar menoleh ke segala arah. Akhirnya ia melihat sebuah warung kecil yang letaknya tidak begitu jauh. Dimas sedang berdiri di dekat motornya.
Damar menghampiri.
EXT. WARUNG KECIL — SORE
Damar menstandarkan sepedanya di dekat motor Dimas.
DAMAR
Dari tadi?
DIMAS
Belum lama, kok. Yuk, ngobrol di dalam.
Dimas masuk lebih dulu. Damar mengekori.
INT. WARUNG KECIL — SORE
Damar dan Dimas duduk bersebelahan di dekat jendela. Dimas memesan es teh manis. Damar memilih sebotol air mineral. Damar menatap serius orang di sebelahnya.
DAMAR
Jadi ....
DIMAS (menelan ludah)
Jadi, sebenarnya aku nggak mau cerita ke kamu tentang Wulan. Tapi, karena aku ini orang yang bijaksana, maka dengan berat hati aku akan tetap kasih tahu kamu.
(meraih ponselnya dari saku celana. Ia memeriksanya sebentar, kemudian memasukkannya kembali ke saku.)
DAMAR (V.O.)
Dasar bocah tengil.
DIMAS (kembali menatap Damar)
Ekhemm, jadi, Wulan itu sekarang tinggal di dekat rumah pakde aku. Dia menjadi anak angkatnya Bu Viona. Guru baru di sekolah kita, yang katanya pindahan dari Depok.
DAMAR (melotot)
Anak angkat?
DIMAS (menyipitkan matanya, lalu mengangguk)
Iya.
DAMAR
Terus ayahnya?
DIMAS (mengedikkan bahu)
Nggak tahu kalau itu, emang aku ini Tuhan yang tahu segalanya?
DAMAR (menatap sinis)
Katanya dia pacar kamu?
DIMAS (tersenyum)
Aku kan bilangnya, semoga. Udah panik aja kamu.
Damar menghela napas. Ia membuka tutup botol air mineral, lalu meminumnya.
Mbak Runi, penjaga warung, datang membawa es teh manis pesanan Dimas.
Dimas meraih gelas itu. Ia hanya menyeruput sedikit, kemudian kembali meletakkannya.
DIMAS
Oh, iya, kalau tentang penampilan dia yang berantakan gitu. Sebenarnya awal berangkat dia rapi, kok. Rambut diikat juga. Cuma anak-anak suka jahil, pas orangnya tidur ditarik, tuh, ikat rambutnya. Tapi, ya, gitu. Kadang dia marah, kadang bodo amat. Anehlah.
DAMAR (melempar tatapan heran)
Kamu nggak belain dia?
DIMAS (berpikir sejenak)
Mau belain gimana kalau korbannya aja pasrah, nggak protes, nggak ada perlawanan. Tapi yang aneh, kalau yang usil sama dia cowok.
DAMAR
Anehnya?
DIMAS
Langsung ditarik kerah bajunya. Terus suruh milih, mau dipukul atau ditendang. Tapi kadang, kalau agak keterlaluan, ya, nggak dikasih pilihan. Langsung dihajar aja sama dia. Pokoknya kalau sama cowok dia temperamen banget. Tapi kalau ke cewek dia cuek, bodo amat gitu. Mungkin takut kelepasan, jadi lebih milih nggak peduli sekalian.
DAMAR (berdehem, tatapannya penuh selidik)
Berarti kamu tadi beliin dia bakso, karena punya salah sama dia? Terus biar dimaafkan, kamu nyogok pake bakso?
DIMAS (berdecap)
Bukan, kok. Aku cuma minta dia bantu kerjakan PR aja. Dan dia minta bakso, ya udah.
DAMAR
Modus.
DIMAS (tersenyum sambil menahan tawa)
Kamu masih nggak suka aja, aku dekat-dekat dia.
(meraih botol air mineral, kemudian meneguknya sedikit)
DAMAR
Biasa aja.
(Raut wajahnya berubah sebal)
DIMAS (menuding Damar)
Tuh, kan. Kayak gini, ya, ekspresi orang yang biasa aja?
(Senyum di wajah Dimas perlahan berubah menjadi gelak tawa)
Damar menunggu sampai tawa itu reda.
DAMAR
Berarti dia sekelas sama kamu?
Dimas mengangguk. Ia menatap Damar lalu membuang napas keras.
DIMAS
Hm, kamu masih sebegitu pedulinya, ya, sama dia? Sampai menyempatkan diri mau ketemu aku di sini.
Dimas meraih es tehnya. Menyesap sebentar, kemudian kembali meletakkannya.
Damar berpikir sejenak. Alis kirinya terangkat.
DAMAR
Nggak juga.
(berhenti sejenak)
DAMAR
Kalau kamu sendiri, gimana? Masih?
DIMAS (memasang wajah sok polos)
Masih apa?
DAMAR
Ya, itu, yang dulu. Nggak perlu aku sebutkan, ‘kan?
Tatapan kedua laki-laki itu beradu. Seolah mereka saling bisa membaca pikiran masing-masing. Dimas kemudian mengalihkan pandangannya pada beberapa makanan yang berjajar di atas meja. Tangannya mencomot sebuah mendoan beserta cabai yang tersedia.
DIMAS
Ya iyalah, kan udah jelas dari kata-kata aku tadi.
(mulai menggigit cabai, disusul mendoan)
DAMAR (menoleh)
Aku kira kata-kata kamu tadi cuma becanda, ngisengin aku.
DIMAS
Aku seriuslah.
Damar menghela napas pelan. Ia bangkit dari posisi duduknya. Damar tidak ingin peduli. Lagi pula, itu hak Dimas.
CUT TO:
INT. KAMAR DAMAR — SORE
Damar masih terbaring di atas tempat tidurnya. Tatapannya kosong.
CUT TO BLACK.
♡♡♡