Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Mahardika
Suka
Favorit
Bagikan
8. Mirip Bukan Berarti Sama

INT. KAMAR DAMAR – PAGI

Damar menghempaskan pantatnya ke kursi di depan meja belajar. Napasnya masih sedikit tersisa dari lari pagi. Ia mengedarkan pandangan ke setiap sudut kamar. Tatapannya berhenti pada kantong plastik di dekat lemari pakaian—berisi hadiah ulang tahun dari teman-teman sekolah.

Lalu matanya beralih ke dua bungkus kado berbalut kertas cokelat di atas meja. Dua hadiah. Dari orang yang sama. Damar meraihnya, merobek kertas pembungkus perlahan. Ia menggeleng, berdecak kecil.


DAMAR (mengamati kardus facial foam di tangannya)

(V.O) Apa motivasi kamu ngasih aku benda kayak gini, Lan?


Damar memutar-mutar kardus itu, membaca sisi-sisinya. Tiba-tiba ia tersentak. Ia menutup mulutnya sendiri, mata sedikit mendelik. Diam beberapa detik. Damar mengembuskan napas panjang.


INT. KAMAR MANDI – PAGI

Damar mencuci wajahnya menggunakan sabun pemberian Bunga. Air mengalir. Ia menatap pantulan wajahnya di cermin sebentar.


INT. KAMAR DAMAR – PAGI

Damar mengelap wajah dengan handuk. Kembali ke meja belajar. Ia membuka hadiah kedua. Sebuah bingkai foto sederhana dari stik es krim.


DAMAR (membolak-balik bingkai itu)

Ini bakal berguna banget.

(menyeringai)


Damar membuka laci kecil meja belajar, mengaduk isinya. Mengeluarkan sebuah foto lama berdebu. Dengan hati-hati ia mengelap foto itu. Memasang foto ke dalam bingkai. Ia menggantung bingkai tersebut pada paku tempat biasa menyantolkan tas. Kini di dinding terpajang foto tiga bocah kecil.


DAMAR (menatapnya lama foto)

Kita pasti ketemu lagi kan, Lan?

(Senyum tipis terbentuk di wajahnya—optimis)


INT. KAMAR DAMAR – PAGI (LANJUT)

Damar duduk di tepi ranjang. Tatapannya tak lepas dari foto di dinding. Perlahan, pikirannya melayang ke masa lalu.


FLASHBACK

EXT. SEKOLAH DASAR – SORE

Bel pulang sudah lama berbunyi. Sekolah mulai sepi. Tinggal siswa kelas enam yang mengikuti kelas pengayaan.

DAMAR KECIL (keluar dari perpustakaan sambil membawa buku ensiklopedi)

WULAN

(O.S.) Dika!


Langkah Damar terhenti. Ia menoleh.


WULAN KECIL (berlari mendekat, wajahnya berkeringat)

Bantu aku dong.


Damar mengerutkan dahi. Tanpa menunggu jawaban, Wulan menarik paksa pergelangan tangan kiri Damar.


WULAN KECIL

Jangan nolak!

DAMAR KECIL

Mau ke mana sih?

WULAN KECIL

Pokoknya kamu wajib bantu aku.


Mereka berhenti di depan pohon mahoni. Sebuah ransel tersangkut di dahan.


WULAN KECIL (menunjuk tas yang nyangkut)

Ambil tas aku!

DAMAR KECIL

Ambil sendiri.


Damar berbalik hendak pergi. Wulan menarik kerah belakang seragam Damar.


WULAN KECIL

Ambilin, Dika. Kamu kan tinggi.

WULAN KECIL (melepaskan kerah seragam Damar)

Kita kan tetangga.


Damar menatap Wulan, lalu tas di pohon. Menatap Wulan lagi. Tak jauh dari pohon, terlihat bambu kecil di tanah—bekas usaha Wulan.


WULAN KECIL

Kita juga sahabat, kan?


Damar terdiam. Bukan masa bodoh—tapi berpikir. Ia melepas sepatu dan kaus kaki. Berniat meletakkan tasnya—


WULAN KECIL

Bial aku pegang. Nanti kotor kalau ditaruh di tanah.


Beberapa menit kemudian, Damar berhasil memanjat dan mengambil tas. Ia menyerahkan ransel hijau lumut itu.


WULAN KECIL

Makasih, Dika.


Damar mengambil sepatu dan kaus kakinya.


WULAN KECIL

Eh, di kepala kamu ada salang laba-laba.


Damar mencoba membersihkannya sendiri. Wulan mendekat, berjinjit.


WULAN KECIL

Kamu nunduk dikit.

WULAN KECIL (tangan Wulan mengambil sarang laba-laba dari rambut Damar)

Udah.


EXT. TERAS PERPUSTAKAAN – SORE

Mereka duduk berdampingan. Damar menyeka keringat. Wulan menatap Damar tanpa berkedip.


DAMAR KECIL (memakai kaos kaki)

Lain kali kalau minta tolong, jangan asal nyeret orang.

WULAN KECIL (manyun)

Nggak ikhlas?

DAMAR KECIL (pakai sepatu)

Bukan gitu. Kalau minta tolong, jelasin dulu.

(berdiri dan berjalan pergi)

WULAN KECIL (mengekor)

Kita kan sahabat!

DAMAR KECIL

Sejak kapan?

WULAN KECIL (berpikir keras)

Sejak… sejak… sejak hari ini aja.


Damar diam. Wulan mendengus, berjalan di sampingnya.


WULAN KECIL

Kamu kok diem?

DAMAR KECIL

Emang harus bilang apa?

WULAN KECIL

Setuju nggak kita sahabatan mulai sekarang?

DAMAR KECIL (berpikir sejenak)

Iya, deh.


Wulan tersenyum lebar. Ia menggenggam jemari kiri Damar.


DAMAR KECIL (melepaskan tangannya)

Eh! Ini apaan?!

WULAN KECIL

Di tipi-tipi, sahabat gandengan tangan.

DAMAR KECIL

Itu sesama cewek.

WULAN KECIL

Ya udah, maaf.

DAMAR KECIL

Jangan diulang.


Wulan mengangguk.


KEMBALI KE MASA KINI

INT. KAMAR DAMAR – SIANG

Damar tersenyum sendiri. Ia berdiri, mengambil gitar, lalu mulai memetik senar.


CUT TO:

INT. KELAS XI IPA 4 – PAGI

Kelas masih sepi. Damar duduk membaca buku sejarah.


BUNGA (berjalan mendekat)

Dam!


Tak ada respons.


BUNGA (meletakkan botol air mineral di meja Damar)

Dam!

(duduk di kursi seberang)

Aku mau ngomong.

DAMAR (menutup buku)

Apa?

BUBGA (menunduk, gugup)

Aku suka sama kamu.


Damar terdiam.


BUNGA (berdiri)

Jawabnya nanti aja, setelah aku pulang lomba pingpong.


Ia pergi cepat— lalu kembali sebentar, menaruh tas, dan pergi lagi terburu-buru.


INT. KELAS – PAGI (LANJUT)

YULIAN (datang dan duduk di samping Damar)

Pagi, Profesor.

DAMAR

Jangan panggil aku gitu mulai sekarang.


Yulian bingung.


DAMAR

Panggilan itu bikin aku inget musim olimpiade.


Yulian mengangguk. Damar meneguk air mineral.


YULIAN

Bunga kenapa aneh tadi?

DAMAR

Tanyain aja langsung ke orangnya.

SANDIKA tiba-tiba datang)

Prof, kamu dapat salam dari bidadari IPS DUA.

YULIAN (melotot)

Jangan panggil dia profesor lagi.

SANDIKA

Oke, brother.


CUT TO:

EXT. AREA PARKIR SEKOLAH – PAGI (HARI ULANGAN)

Damar memarkir sepedanya.Sebuah Scoopy oren masuk. Bunga menghadang langkah Damar.


BUNGA

Tunggu. Aku mau ngomong.


Setelah Damar mengangguk, Bunga memarkir motor dan melepas helm.


BUNGA

Aku siap dengar jawaban kamu.

DAMAR (menatap Bunga)

(V.O) Mirip… tapi bukan berarti sama.

DAMAR

Kita jalanin hari-hari seperti biasa aja. Sebagai teman sekelas.


Damar pergi. Bunga terpaku di tempatnya.


FADE OUT.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)