Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
INT. KAMAR DAMAR – PAGI
Damar menghempaskan pantatnya ke kursi di depan meja belajar. Napasnya masih sedikit tersisa dari lari pagi. Ia mengedarkan pandangan ke setiap sudut kamar. Tatapannya berhenti pada kantong plastik di dekat lemari pakaian—berisi hadiah ulang tahun dari teman-teman sekolah.
Lalu matanya beralih ke dua bungkus kado berbalut kertas cokelat di atas meja. Dua hadiah. Dari orang yang sama. Damar meraihnya, merobek kertas pembungkus perlahan. Ia menggeleng, berdecak kecil.
DAMAR (mengamati kardus facial foam di tangannya)
(V.O) Apa motivasi kamu ngasih aku benda kayak gini, Lan?
Damar memutar-mutar kardus itu, membaca sisi-sisinya. Tiba-tiba ia tersentak. Ia menutup mulutnya sendiri, mata sedikit mendelik. Diam beberapa detik. Damar mengembuskan napas panjang.
INT. KAMAR MANDI – PAGI
Damar mencuci wajahnya menggunakan sabun pemberian Bunga. Air mengalir. Ia menatap pantulan wajahnya di cermin sebentar.
INT. KAMAR DAMAR – PAGI
Damar mengelap wajah dengan handuk. Kembali ke meja belajar. Ia membuka hadiah kedua. Sebuah bingkai foto sederhana dari stik es krim.
DAMAR (membolak-balik bingkai itu)
Ini bakal berguna banget.
(menyeringai)
Damar membuka laci kecil meja belajar, mengaduk isinya. Mengeluarkan sebuah foto lama berdebu. Dengan hati-hati ia mengelap foto itu. Memasang foto ke dalam bingkai. Ia menggantung bingkai tersebut pada paku tempat biasa menyantolkan tas. Kini di dinding terpajang foto tiga bocah kecil.
DAMAR (menatapnya lama foto)
Kita pasti ketemu lagi kan, Lan?
(Senyum tipis terbentuk di wajahnya—optimis)
INT. KAMAR DAMAR – PAGI (LANJUT)
Damar duduk di tepi ranjang. Tatapannya tak lepas dari foto di dinding. Perlahan, pikirannya melayang ke masa lalu.
FLASHBACK
EXT. SEKOLAH DASAR – SORE
Bel pulang sudah lama berbunyi. Sekolah mulai sepi. Tinggal siswa kelas enam yang mengikuti kelas pengayaan.
DAMAR KECIL (keluar dari perpustakaan sambil membawa buku ensiklopedi)
WULAN
(O.S.) Dika!
Langkah Damar terhenti. Ia menoleh.
WULAN KECIL (berlari mendekat, wajahnya berkeringat)
Bantu aku dong.
Damar mengerutkan dahi. Tanpa menunggu jawaban, Wulan menarik paksa pergelangan tangan kiri Damar.
WULAN KECIL
Jangan nolak!
DAMAR KECIL
Mau ke mana sih?
WULAN KECIL
Pokoknya kamu wajib bantu aku.
Mereka berhenti di depan pohon mahoni. Sebuah ransel tersangkut di dahan.
WULAN KECIL (menunjuk tas yang nyangkut)
Ambil tas aku!
DAMAR KECIL
Ambil sendiri.
Damar berbalik hendak pergi. Wulan menarik kerah belakang seragam Damar.
WULAN KECIL
Ambilin, Dika. Kamu kan tinggi.
WULAN KECIL (melepaskan kerah seragam Damar)
Kita kan tetangga.
Damar menatap Wulan, lalu tas di pohon. Menatap Wulan lagi. Tak jauh dari pohon, terlihat bambu kecil di tanah—bekas usaha Wulan.
WULAN KECIL
Kita juga sahabat, kan?
Damar terdiam. Bukan masa bodoh—tapi berpikir. Ia melepas sepatu dan kaus kaki. Berniat meletakkan tasnya—
WULAN KECIL
Bial aku pegang. Nanti kotor kalau ditaruh di tanah.
Beberapa menit kemudian, Damar berhasil memanjat dan mengambil tas. Ia menyerahkan ransel hijau lumut itu.
WULAN KECIL
Makasih, Dika.
Damar mengambil sepatu dan kaus kakinya.
WULAN KECIL
Eh, di kepala kamu ada salang laba-laba.
Damar mencoba membersihkannya sendiri. Wulan mendekat, berjinjit.
WULAN KECIL
Kamu nunduk dikit.
WULAN KECIL (tangan Wulan mengambil sarang laba-laba dari rambut Damar)
Udah.
EXT. TERAS PERPUSTAKAAN – SORE
Mereka duduk berdampingan. Damar menyeka keringat. Wulan menatap Damar tanpa berkedip.
DAMAR KECIL (memakai kaos kaki)
Lain kali kalau minta tolong, jangan asal nyeret orang.
WULAN KECIL (manyun)
Nggak ikhlas?
DAMAR KECIL (pakai sepatu)
Bukan gitu. Kalau minta tolong, jelasin dulu.
(berdiri dan berjalan pergi)
WULAN KECIL (mengekor)
Kita kan sahabat!
DAMAR KECIL
Sejak kapan?
WULAN KECIL (berpikir keras)
Sejak… sejak… sejak hari ini aja.
Damar diam. Wulan mendengus, berjalan di sampingnya.
WULAN KECIL
Kamu kok diem?
DAMAR KECIL
Emang harus bilang apa?
WULAN KECIL
Setuju nggak kita sahabatan mulai sekarang?
DAMAR KECIL (berpikir sejenak)
Iya, deh.
Wulan tersenyum lebar. Ia menggenggam jemari kiri Damar.
DAMAR KECIL (melepaskan tangannya)
Eh! Ini apaan?!
WULAN KECIL
Di tipi-tipi, sahabat gandengan tangan.
DAMAR KECIL
Itu sesama cewek.
WULAN KECIL
Ya udah, maaf.
DAMAR KECIL
Jangan diulang.
Wulan mengangguk.
KEMBALI KE MASA KINI
INT. KAMAR DAMAR – SIANG
Damar tersenyum sendiri. Ia berdiri, mengambil gitar, lalu mulai memetik senar.
CUT TO:
INT. KELAS XI IPA 4 – PAGI
Kelas masih sepi. Damar duduk membaca buku sejarah.
BUNGA (berjalan mendekat)
Dam!
Tak ada respons.
BUNGA (meletakkan botol air mineral di meja Damar)
Dam!
(duduk di kursi seberang)
Aku mau ngomong.
DAMAR (menutup buku)
Apa?
BUBGA (menunduk, gugup)
Aku suka sama kamu.
Damar terdiam.
BUNGA (berdiri)
Jawabnya nanti aja, setelah aku pulang lomba pingpong.
Ia pergi cepat— lalu kembali sebentar, menaruh tas, dan pergi lagi terburu-buru.
INT. KELAS – PAGI (LANJUT)
YULIAN (datang dan duduk di samping Damar)
Pagi, Profesor.
DAMAR
Jangan panggil aku gitu mulai sekarang.
Yulian bingung.
DAMAR
Panggilan itu bikin aku inget musim olimpiade.
Yulian mengangguk. Damar meneguk air mineral.
YULIAN
Bunga kenapa aneh tadi?
DAMAR
Tanyain aja langsung ke orangnya.
SANDIKA tiba-tiba datang)
Prof, kamu dapat salam dari bidadari IPS DUA.
YULIAN (melotot)
Jangan panggil dia profesor lagi.
SANDIKA
Oke, brother.
CUT TO:
EXT. AREA PARKIR SEKOLAH – PAGI (HARI ULANGAN)
Damar memarkir sepedanya.Sebuah Scoopy oren masuk. Bunga menghadang langkah Damar.
BUNGA
Tunggu. Aku mau ngomong.
Setelah Damar mengangguk, Bunga memarkir motor dan melepas helm.
BUNGA
Aku siap dengar jawaban kamu.
DAMAR (menatap Bunga)
(V.O) Mirip… tapi bukan berarti sama.
DAMAR
Kita jalanin hari-hari seperti biasa aja. Sebagai teman sekelas.
Damar pergi. Bunga terpaku di tempatnya.
FADE OUT.