Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
INT. KANTIN SMA – JAM ISTIRAHAT PERTAMA – SIANG
Kantin ramai. Suara sendok beradu dengan mangkuk. Tawa bersahutan. Di bangku favorit dekat tiang besar, Damar, Yulian dan Sandika duduk seperti biasa.
Di meja mereka sedang menunggu tiga mangkuk bakso dan tiga gelas es teh. Damar menyandarkan tubuh, mengedarkan pandangan ke sekeliling. Tiba-tiba tatapannya berhenti. Di seberang meja, Amel duduk.
Begitu mata mereka bertemu— Amel melambaikan tangan kecil. Tersenyum manis. Damar terkejut. Refleks, ia mengalihkan pandangan. Sandika yang duduk tepat di sebelahnya langsung nyerocos.
SANDIKA
Dam, itu Amel say hello loh. Masak dicuekin? Katanya mau belajar bersosial.
DAMAR (menoleh cepat)
Terus aku harus apa?
SANDIKA (tertawa kecil)
Ya sapa balik dong.
Yulian yang duduk di hadapan Damar ikut menoleh sekilas ke arah Amel, lalu kembali ke meja.
YULIAN
Dia emang tongkrongannya di situ, San. Kalau dilihatin ya bakal senyum. Dia kan ramah. Iya nggak, Dam?
DAMAR (menatap meja)
Kemungkinannya 75 persen.
Sandika dan Yulian saling pandang. Damar diam, berpikir.
INSERT – POV DAMAR
Amel tertawa bersama teman-temannya.
DAMAR
(V.O) Kalau dia memang sering duduk di sana… kenapa aku baru sadar ada cewek secantik itu?
Pesanan datang. Damar menuangkan sambal, mengaduk bakso. Sambil mencuri-curi pandang.
YULIAN (mengikuti arah pandangan Damar)
Lihat apa, Dam?
(Lalu kembali makan)
DAMAR (menoleh cepat)
Lihat suasana kantin. Ternyata rame.
SANDIKA
Baru sadar.
DAMAR
Hm.
YULIAN (tertawa kecil sambil menusuk bakso)
Selama ini kamu ke mana, Dam? Yang sering bareng kita makan bakso siapa kalau bukan kamu?
SANDIKA (tertawa)
Makhluk halus yang menyerupai Damar kali, Yul.
Yulian ikut tertawa.
DAMAR
Terserah kalian.
INT. KORIDOR MENUJU KELAS – SIANG
Yulian merangkul Damar dan Sandika. Mereka berjalan bersama. Setiba di depan XII IPA 4, Yulian melepas rangkulan dari Sandika. Sandika masuk kelasnya. Yulian tiba-tiba menarik Damar ke arah balkon.
INT. BALKON LANTAI DUA – SIANG
Siswa berlalu-lalang di bawah. Yulian melepas rangkulan.
YULIAN
Dam, jujur deh sama aku.
DAMAR (mengerutkan alis)
Tentang?
YULIAN (mendekat sedikit, lalu berbisik)
Tadi di kantin, kamu lirik Amel terus kan?
DAMAR (menatap suasana di bawah)
Menurut kamu?
YULIAN (tersenyum lebar. Menepuk bahu Damar)
Ciyee. Berarti artikel tentang kamu yang dianggap nggak normal itu hoax.
DAMAR (mendengus ringan)
Iyalah. Aku ini laki-laki normal. Paling itu kerjaan si kribo. Nyebar isu nggak bener.
YULIAN (menyipitkan mata)
Maksud kamu… Dimas?
Damar mengangguk.Yulian melongo.
YULIAN
Jadi gosip di mading tentang kamu sama Dimas yang pernah terlibat cinta segitiga itu bener? Terus musuhannya masih lanjut?
Suara Yulian agak keras.Damar menghembuskan napas.
DAMAR
Fifty fifty.
YULIAN
Setengah-setengah?
Tiba-tiba Bunga menyempil di antara mereka. Damar dan Yulian kaget, mundur sedikit.
DAMAR
Bunga…
BUNGA (berbisik cepat)
Kalian jangan mancing orang deh.
Beberapa siswa memang mulai memperhatikan. Yulian berbalik.
YULIAN
Bubar!
INT. KELAS XII IPA 4 – SIANG
Damar masuk duluan. Yulian dan Bunga menyusul. Di dekat pintu, Alex mengacungkan dua jempol.
ALEX
Good job, brother. Akhirnya kamu menyuarakan fakta dari artikel-artikel mading.
DESI (menimpali)
Bener kan, Lex. Gosip tentang Damar nggak seratus persen bener. Dan dia cowok normal seribu persen.
Damar duduk.
LUKI (ketua kelas) (mendekat, menepuk bahunya)
Banyak sabar aja, Bro. Jadi orang populer emang banyak cobaannya. Dulu juga ada artikel tentang Amel yang disebut “Bidadarinya anak IPS”. Pasti banyak yang sirik.
DAMAR (menatap Luki)
Iya. Makasih, Luk.
LUKI (membeku sebentar)
Kamu bilang makasih sama aku, Dam?
(mengorek telinga)
DAMAR
Hm.
LUKI (tersenyum lebar)
Akhirnya kutub utara di kelas ini mencair juga. Makasih Tuhan!
(menyatukan kedua tangan dramatis)
YULIAN (duduk di samping Damar)
Nggak usah lebay deh.
INT. KELAS – LANJUTAN
ALEX (menoleh pada Desi)
Desi, katamu Damar cowok normal. Emang kamu tahu siapa cewek yang dia taksir?
DESI (langsung menunjuk Yulian)
Yulian pasti tahu.
Hampir seluruh kelas menoleh pada Yulian. Yulian menoleh pada Damar. Damar pura-pura sibuk dengan ponsel, memakai earphone.
YuULIAN (membuka mulut)
Cewek yang ditaksir Damar itu—
(Sepatu Damar mengetuk ujung sepatu Yulian)
DESI
Siapa, Yul?
YULIAN (melirik Bunga)
Bunga, kali.
Semua mata tertuju pada Bunga. Bunga menggeleng santai.
BUNGA
Bukan kok, Des. Orang dia nolak aku kok.
Sunyi sedetik, Yulian langsung mencabut earphone dari telinga kanan Damar. Damar menoleh kaget.
YULIAN
Bunga pernah nembak kamu?
Sebelum Damar menjawab, pintu kelas terbuka. Bu Viona masuk. Suasana kelas yang riuh langsung mereda. Anak-anak kembali ke tempat duduk masing-masing. Bu Viona berdiri di depan kelas.
CUT TO:
Wajah Damar — tenang di luar. Tapi pikirannya jelas belum selesai.