Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Mahardika
Suka
Favorit
Bagikan
7. Tiga Serangkai

EXT. KORIDOR SMA TUNAS BANGSA – SIANG MENJELANG SORE

Koridor kelas dua belas ramai. Beberapa siswa lalu-lalang, suara langkah kaki bercampur obrolan ringan. Seorang cowok jangkung berjalan menyusuri koridor dengan langkah santai.

DAMAR MAHARDIKA (17) Tinggi 173 cm. Tubuh proporsional. Rambut ikal sebagian memudar kecokelatan karena matahari. Tatapannya tajam, namun wajahnya terlihat lebih cerah dari biasanya.

Langit di luar jendela tampak mendung. Berbanding terbalik dengan ekspresi Damar yang terlihat ceria dan ringan.

DAMAR (berjalan tenang)

(V.O) Tahun ajaran baru. Akhirnya… tanpa lomba, tanpa olimpiade yang numpuk.

YULIAN HARTONO (17) Tubuh cungkring, kulit putih cerah, mata sipit cokelat tua. Tinggi 171 cm.

YULIAN (menepuk bahu kiri Damar)

Hey, Damar. Kayaknya akhir-akhir ini kamu banyak senyum ya?

DAMAR (tetap berjalan, tidak menoleh)

Iyalah.

YULIAN (memiringkan kepala, penasaran)

Lagi naksir seseorang, kah?

DAMAR (berhenti sejenak, lalu melirik malas)

Sok tahu!

YULIAN (tertawa kecil, lalu mengguncang bahu kiri Damar)

Terus kenapa, dong?

DAMAR

Nggak ada apa-apa.

(melangkah lagi, ada senyum tipis yang tertahan di wajahnya)

(V.O) Kadang, bikin orang penasaran… juga menyenangkan.


EXT. DEPAN KELAS XII IPS 2 – LANJUTAN

Pintu kelas terbuka. Seorang cowok bertubuh gempal keluar. SANDIKA PRATAMA (17). Tinggi 165 cm. Rambut cepak. Pipi tembam. Mata sipit dengan alis tebal mencolok.

SANDIKA (tersenyum lebar melihat Damar dan Yulian)

Nah, akhirnya lengkap.


Mereka bertiga berbalik arah, berjalan bersama menyusuri koridor IPA, lalu menuruni tangga.

Formasi berjalan:

Sandika di kanan Damar, Yulian di kiri.


SANDIKA

Gimana rasanya jadi kelas tiga?

YULIAN

Biasa aja. Tapi semester dua nanti… jangan ditanya.

(menghela napas)

Kayaknya tiap hari aku minum obat sakit kepala.

SANDIKA

Karena dikasih makan soal?

DAMAR

Bukan. Dia kan terbiasa hitung kancing baju.


Yulian dan Sandika saling menatap. Kaget. Lalu Sandika terkekeh. Yulian cepat beradaptasi. Ia mengalungkan tangan ke leher Damar.

YULIAN

Bener banget, Mar. Otakku cuma kuat tujuh jam belajar. Semester dua kan ada pengayaan juga.

(melirik Sandika)

Kepalaku bakal ngebul, Dika.

SANDIKA

Yeee. Kirain kenapa!

(lalu menatap Damar lebih lama)

Kalau kamu, Mar?

Damar menoleh sebentar ke Sandika, lalu kembali menatap lurus ke depan.

DAMAR

Ya seneng aja. Karena aku nggak tinggal kelas.

SANDIKA (tersenyum kecil)

Kalau aku… malah sedih. Sebentar lagi kita pisah. Pasti kangen juga sama kalian.

DAMAR & YULIAN (menyahut bersamaam)

Nggak ada yang nanya.


Sandika manyun, memajukan bibir.


EXT. AREA PARKIR SEKOLAH – SORE

Mereka berhenti. Damar mendorong sepedanya. Yulian melangkah ke arah gerbang sekolah. Sandika berdiri menunggu mobil jemputan. Mereka saling melambaikan tangan. Langit semakin gelap.


EXT. DEPAN KIOS FOTOCOPY – SORE / HUJAN

Damar mengayuh sepeda, lalu cepat membelokkan arah ke depan kios fotokopi untuk berteduh. Di sana sudah ada DUA CEWEK SMA.

OLIVIA (17) Rambut keriting gantung, memakai bandana putih bermotif dasar pink.

AMEL (17) Rambut lurus hitam, dikuncir kuda, poni mengembang.

Keduanya berkulit kuning langsat. Mereka berbisik-bisik sambil melirik Damar.

AMEL (gugup, menyapa)

Hai, Damar!


Damar menoleh. Memberi senyum tipis, sedikit kikuk.

AMEL (mendoromg Olivia)

Oliv mau minta nomor handphone kamu, katanya.

OLIVIA

Apa sih, Mel…


Pipi Olivia merona. Damar memperhatikan interaksi mereka, diam. Olivia menarik napas, lalu menatap Damar.

OLIVIA

Aku Olivia, kelas XII IPS 2. Boleh kan… minta nomernya?

DAMAR (berpikir sejenak)

Buat apa?


Nada suaranya dibuat santai, meski jelas ini bukan kebiasaannya. Olivia terdiam. Melirik Amel. Lalu mundur kembali. Hujan perlahan mereda. Damar menatap rintik terakhir.

DAMAR (menoleh ke arah mereka)

Aku duluan ya. Hujannya udah agak reda.

Damar naik ke sepeda, lalu melaju di aspal basah. Olivia dan Amel saling menatap kecewa.


EXT. JALAN PULANG – SENJA

Damar mengayuh sepeda perlahan. Udara sejuk. Bau tanah basah menyengat. Ia menoleh ke arah tanah lapang dekat bangunan gereja. Beberapa pohon berdiri. Satu pohon tampak sendirian, pohon waru. Tatapan Damar tertahan. Dadanya bergetar.

DAMAR

(V.O) Pohon itu, menyimpan terlalu banyak cerita.


CUT TO BLACK.

♡♡♡

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)