Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Mahardika
Suka
Favorit
Bagikan
13. Insting
Skrip ini masih diperiksa oleh kurator

EXT. JALAN DEPAN SEKOLAH – SIANG HARI

Langit tampak mendung dan berawan. Damar keluar dari kawasan sekolah dengan sepeda. Mengayuh santai di atas aspal.

Sebenarnya bel pulang sudah berbunyi seperempat jam yang lalu. Tapi Damar memang lebih suka pulang agak akhir. Menunggu sekolah lebih sunyi. Malas berdesakan di parkiran dan gerbang depan.

Damar terus mengayuh.

DAMAR

(V.O.)Aku bukannya sosiopat atau anti sosial. Cuma… aku introvert. Energi cepat habis kalau di keramaian.

Pandangan Damar tertuju ke seberang jalan. Sebuah gerobak es campur.

DAMAR (bergumam)

Es campur kayaknya seger tuh.

(mempercepat kayuhan. Menyeberang jalan)


EXT. GEROBAK ES CAMPUR – SIANG

DAMAR (menghentikan sepeda di dekat gerobak es campur)

Satu ya, Pak.

(sambil mengangkat telunjuk isyarat angka satu)

Setelah turun dari sepeda Damar menstandarkannya di dekat pohon.

PENJUAL ES

Dibungkus atau diminum di sini, Nak?

DAMAR

Diminum di sini aja, Pak.

Damar duduk di bangku kayu yang telah disediakan si penjual peraia di bawah pohon beringin.

Ponselnya bergetar.

SFX: Drrttt… drrrtt… drrrtt…

Ia mengeluarkan ponsel, melihat sebentar, lalu memasukkannya kembali.

PENJUAL ES

Ini esnya, Nak.

Damar menerima mangkuk. Mengaduk isinya.

CLOSE ON mangkuk: melon, pepaya bulat kecil, tape singkong, rumput laut, sirup, kental manis.


Seorang gadis mungil datang. Damar melirik sekilas. Gadis itu memakai jaket merah bata.

DAMAR

(V.O.) Kalo bukan karena rok abu-abu itu, aku bakal ngira dia masih SMP

SI GADIS

Lima bungkus ya, Pak. Yang satu tanpa rrumput laut.

Damar terdiam. Sendoknya berhenti. Ia mendongak.

DAMAR

(V.O.) Suara itu gak asing

PENJUAL ES

Iya, silakan duduk dulu, Nak.

Gadis itu menoleh ke bangku. Tanpa sengaja pandangannya bertemu tatapan tajam Damar. Gadis itu buru-buru menunduk. Mengalihkan pandangan.

PENJUAL ES

Gapapa, duduk saja dulu.

GADIS

Iya.

(tetap menunduk)

Damar mengunyah rumput laut pelan.

DAMAR

(V.O.) Aku yakin kenal suara itu. Tapi kapan? Di mana?

Danar mencoba melihat wajahnya. Sulit. Rambut gadis itu panjang, berantakan, menutupi wajah.

DAMAR

(V.O.) Kalau lebih panjang sedikit lagi bakal cocok jadi hantu. Kuntilanak atau anak genderuwo juga bisa.

Gadis itu duduk di ujung bangku. Bangku kayu panjang yang hanya ada satu. Damar melirik.

DAMAR

(V.O.)Kalau aku berdiri dia pasti jatuh karena bangkunya jomplang.

DAMAR (menoleh)

Aku bukan orang jahat kok. Geseran aja duduknya, nanti jatuh kalau terlalu ujung.

Tak ada respon. Gadis itu diam. Mematung. Damar mengangkat alis. Kembali makan.

Beberapa menit kemudian mangkuk es Damar sudah kosong.

DAMAR (sambil merogoh saku celananya)

Lima ribu kan, Pak?

PENJUAL ES

Iya.

Damar bersiap hendak berdiri sambil memegang uang dan mangkuk kosong.

TIBA-TIBA—

SFX: GUBRAKK!

Bangku jomplang. Damar dan penjual menoleh. Benar saja. Gadis itu jatuh. Damar cepat menyerahkan uang dan menaruh mangkuk lalu menghampiri. Membenarkan bangku.

Damar baru hendak mengulurkan tangan—

Gadis itu sudah berdiri lebih dulu. Menepuk-nepuk pakaiannya. Damar membuka mulut—namun diam. Bingung harus berkata apa.

Sebuah motor SCOOPY berhenti. Seorang cowok kurus berkacamata melepas helm.

Damar mundur.

COWOK KURUS

Abang udah sekalian kan, Ras? Es campurnya.

Gadis itu mengangguk.

Mereka menerima pesanan, membayar, lalu pergi. Damar hanya memperhatikan.


EXT. JALAN – SIANG (MENDUNG)

Damar mengayuh sepeda pelan.

DAMAR

(V.O.) Kalau mereka kakak beradik… mungkin aku salah dengar. Cowok itu asing banget. Aku gak pernah lihat. Tapi suara cewek tadi benar-benar gak asing. Atau kalau cowok itu pacarnya.... Berarti dia teman lamaku? Tapi siapa?

DAMAR (berusaha mengingat-ingat)

(V.O.) Tanpa rumput laut.


Ia mendadak terkejut. Mata membelalak, napas tercekat, dan jantungnya berdebar.

DAMAR

Hah??

(V.O.) Apa itu kamu?

(lirih)


Angin berhembus.


DAMAR

(V.O.) Kalau benar aku harus sedih atau bahagia Lan?


FLASHBACK

EXT. LOKASI LOMBA SD – SIANG (7 TAHUN LALU)

Terik matahari. Anak-anak SD duduk. Damar kecil, Wulan, dan Yunita duduk di kursi plastik.


YUNITA

Akhirnya selesai juga ya, Mar, Lan.

DAMAR

Iya.

WULAN

Iya.

Dua mangkuk es datang. Yunita dan Damar menerimanya lalu meletakkan ke atas meja.

PENJUAL

Kurang satu ya, sebentar.

DAMAR

Ini kalau mau buat kamu dulu, gapapa Lan.

Wulan hampir mengambil namun tiba-tiba gerakannya berhenti.

YUNITA

Punyaku juga gapapa, Lan.

WULAN (menggeleng)

Punyaku tanpa lumput laut ya, Mbak.

PENJUAL

Yah, telat neng. Udah jadi.

Wulan menerima mangkuk dengan wajah kecewa. Ia lalu mulai makan dengan hati-hati.

DAMAR

Kalau gak suka, sini taruh mangkuk aku aja, Lan.

Wulan diam. Mengaduk. Memilah. Lalu memindahkan rumput laut ke mangkuk Damar.

DAMAR

Padahal enak loh.

WULAN

Aku kan bukan kambing.

DAMAR

Ini bukan rumput makanan kambing Lan. Rumput laut bahan agar-agar juga.

WULAN

Tetep aja Dika. Namanya sama-sama lumput. Kalo udah jadi agal-agal kan beda lagi.

YUNITA

Sssttt!

(menyuruh diam)


CUT TO:

INT. KAMAR DAMAR – SORE

Damar masuk rumah. Melepas sepatu lantas menaruhnya di rak. Lalu masuk kamar dan melempar tas ke meja.

Ia merebahkan diri di tempat tidur. Menatap langit-langit, menoleh ke bingkai foto kecil di dinding.

Foto: Damar, Wulan, Yunita menerima hadiah.

DAMAR

(V.O.)Itu foto waktu perpisahan kelas 6 SD. Kita tiga besar.

(menatap foto itu lama)

DAMAR

Kalau cewek itu kamu... kok aneh ya.

Hening.

DAMAR

Gak cadel. Gak mungkin juga kan kamu hindari aku? Kita kan sahabat.

FADE OUT

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)