Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
EXT. TERAS RUMAH DAMAR – SIANG
Sandika duduk santai, memegang potongan apem. Ia menggigit, lalu mengunyahnya perlahan. Sementara matanya tetap fokus ke Damar.
Damar yang ditanya malah santai.
DAMAR (melempar balik pertanyaan)
Menurut kamu?
SANDIKA (menyeringai sebal)
Dasar.
Damar nyengir puas sambil berusaha mengendalikan ekspresi untuk menutupi rasa gugupnya.
DAMAR
(V.O.) Sisa deg-degan tadi masih ada sejak dia nanya soal Amel. Untung dia gak maksa.
DAMAR (berdiri)
Minum apa, Dika?
(lalu menyandarkan gitar ke tembok)
SANDIKA (sibuk main hape)
Yang dingin-dingin boleh, Dam.
Damar mengisyaratkan “oke” dengan jari, lalu masuk ke dalam.
INT. DAPUR / DALAM RUMAH – SIANG
Damar menyiapkan minuman.
EXT. TERAS – SIANG
Damar kembali membawa nampan.
Di atasnya dua gelas bening kosong tengkurap. Dan teko kaca berisi sirup dengan es batu.
SANDIKA
Eh, Damar!
DAMAR (fokus menuang sirup)
Hm.
(kemudian meletakkan satu gelas ke depan Sandika)
DAMAR (meneguk minuman lalu melirik Sandika)
Mau bilang apa?
SANDIKA (menoleh)
E-, itu. Aku punya info tentang Amel.
DAMAR
Apa aja?
SANDIKA
Dia punya kakak cowok. Namanya Bayu.
Sandika minum lagi.
DAMAR
Terus apa lagi?
SANDIKA
Baru itu aja.
Damar mendengus.
SANDIKA
Segitu juga berguna kali, Dam. Bayangin aja kamu punya kakak cowok. Selama ini kan kamu selalu ngadepin kakak cewek.
DAMAR
Ngaco ah.
SANDIKA
Ngaco gimana? Kakak cowok sama cewek beda. Kasih sayangnya juga beda. Emang apa salahnya belajar jadi adik ipar yang baik?
DAMAR (buang muka, menghela napas keras)
Jadian aja belum udah mikir ke sana.
SANDIKA (nyengir)
Ya gapapa lah.
DAMAR
Dia juga masih jadi pacar orang, Dikaaa!
SANDIKA
Lagian kamu kenapa harus suka sama pacar orang sih? Kan banyak yang jomblo.
Damar terdiam menatap gelasnya lekat-lekat.
DAMAR (lebih pelan)
Seandainya manusia bisa ngatur hatinya sendiri.
Hening sejenak. Angin sawah berhembus pelan. Sandika menatap Damar, lebih serius.
SANDIKA
Iya sih kita gak bisa milih siapa yang kita suka. Kadang hidup itu kejam.
Beat.
SANDIKA
Kita suka sama orang. Orang itu suka sama orang lain. Pas kita udah move on dia malah suka sama kita.
Damar diam.
SANDIKA
Padahal kalau kita tungguin belum tentu dia putus. Belum tentu perasaan kita dibalas.
(menyeruput minumannya)
SANDIKA
Enak ya jadi cewek. Gak harus capek ngejar. Gak harus berjuang.
DAMAR (menoleh)
Dikejar juga capek.
SANDIKA
Tetep aja. Lebih capek yang ngejar. Yang dikejar tinggal gak usah lari.
(menatap Damar penuh semangat)
DAMAR
Kamu sendiri? Gak ada cewek yang kamu suka?
SANDIKA
Ada. Tapi bukan anak sekolah kita. Gak cantik, gak baik, rumahnya gak jauh.
DAMAR (terheran)
Terus apa yang kamu suka?
SANDIKA
Dia emang gak cantik, tapi cantik banget. Gak baik, tapi baik banget. Dan yang penting rumahnya deket. Kalo kangen tinggal lewat.
Damar geleng kepala tidak habis pikir atas apa yang dikatakan sohibnya.
SANDIKA
Sejauh ini aman. Dia gak kelihatan deket sama cowok mana pun.
DAMAR
Belum ditembak?
SANDIKA
Nunggu waktu yang tepat. Kalau bisa langsung nikah aja.
(tersenyum sendiri dengan pikiran yang entah sedang membayangkan apa)
DAMAR
Mana tau di sekolahnya dia deket sama orang.
SANDIKA (nada sedikit meninggi)
Gak lah!
Damar diam. Menyeruput minumannya. Lalu mencomot apem di loyang.
DAMAR
(V.O.)Kalau ditanggepin terus dia gak akan berhenti cerita.
Damar menatap ke depan, ke arah sawah.
DAMAR
(V.O.)Yang penting satu hal, dia masih normal. Masih suka cewek.
Beat.
DAMAR
(V.O.)
Bukan gay.
Angin kembali berhembus.
Dua sahabat itu duduk diam, masing-masing dengan pikirannya.
FADE OUT