Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Mahardika
Suka
Favorit
Bagikan
15. Andaikan Hati Bisa Diatur Sendiri
Skrip ini masih diperiksa oleh kurator

EXT. TERAS RUMAH DAMAR – SIANG

Sandika duduk santai, memegang potongan apem. Ia menggigit, lalu mengunyahnya perlahan. Sementara matanya tetap fokus ke Damar.

Damar yang ditanya malah santai.

DAMAR (melempar balik pertanyaan)

Menurut kamu?

SANDIKA (menyeringai sebal)

Dasar.

Damar nyengir puas sambil berusaha mengendalikan ekspresi untuk menutupi rasa gugupnya.

DAMAR

(V.O.) Sisa deg-degan tadi masih ada sejak dia nanya soal Amel. Untung dia gak maksa.

DAMAR (berdiri)

Minum apa, Dika?

(lalu menyandarkan gitar ke tembok)

SANDIKA (sibuk main hape)

Yang dingin-dingin boleh, Dam.

Damar mengisyaratkan “oke” dengan jari, lalu masuk ke dalam.


INT. DAPUR / DALAM RUMAH – SIANG

Damar menyiapkan minuman.

EXT. TERAS – SIANG

Damar kembali membawa nampan.

Di atasnya dua gelas bening kosong tengkurap. Dan teko kaca berisi sirup dengan es batu.

SANDIKA

Eh, Damar!

DAMAR (fokus menuang sirup)

Hm.

(kemudian meletakkan satu gelas ke depan Sandika)

DAMAR (meneguk minuman lalu melirik Sandika)

Mau bilang apa?

SANDIKA (menoleh)

E-, itu. Aku punya info tentang Amel.

DAMAR

Apa aja?

SANDIKA

Dia punya kakak cowok. Namanya Bayu.

Sandika minum lagi.

DAMAR

Terus apa lagi?

SANDIKA

Baru itu aja.

Damar mendengus.

SANDIKA

Segitu juga berguna kali, Dam. Bayangin aja kamu punya kakak cowok. Selama ini kan kamu selalu ngadepin kakak cewek.

DAMAR

Ngaco ah.

SANDIKA

Ngaco gimana? Kakak cowok sama cewek beda. Kasih sayangnya juga beda. Emang apa salahnya belajar jadi adik ipar yang baik?

DAMAR (buang muka, menghela napas keras)

Jadian aja belum udah mikir ke sana.

SANDIKA (nyengir)

Ya gapapa lah.

DAMAR

Dia juga masih jadi pacar orang, Dikaaa!

SANDIKA

Lagian kamu kenapa harus suka sama pacar orang sih? Kan banyak yang jomblo.

Damar terdiam menatap gelasnya lekat-lekat.

DAMAR (lebih pelan)

Seandainya manusia bisa ngatur hatinya sendiri.

Hening sejenak. Angin sawah berhembus pelan. Sandika menatap Damar, lebih serius.

SANDIKA

Iya sih kita gak bisa milih siapa yang kita suka. Kadang hidup itu kejam.

Beat.

SANDIKA

Kita suka sama orang. Orang itu suka sama orang lain. Pas kita udah move on dia malah suka sama kita.

Damar diam.

SANDIKA

Padahal kalau kita tungguin belum tentu dia putus. Belum tentu perasaan kita dibalas.

(menyeruput minumannya)

SANDIKA

Enak ya jadi cewek. Gak harus capek ngejar. Gak harus berjuang.

DAMAR (menoleh)

Dikejar juga capek.

SANDIKA

Tetep aja. Lebih capek yang ngejar. Yang dikejar tinggal gak usah lari.

(menatap Damar penuh semangat)

DAMAR

Kamu sendiri? Gak ada cewek yang kamu suka?

SANDIKA

Ada. Tapi bukan anak sekolah kita. Gak cantik, gak baik, rumahnya gak jauh.

DAMAR (terheran)

Terus apa yang kamu suka?

SANDIKA

Dia emang gak cantik, tapi cantik banget. Gak baik, tapi baik banget. Dan yang penting rumahnya deket. Kalo kangen tinggal lewat.

Damar geleng kepala tidak habis pikir atas apa yang dikatakan sohibnya.

SANDIKA

Sejauh ini aman. Dia gak kelihatan deket sama cowok mana pun.

DAMAR

Belum ditembak?

SANDIKA

Nunggu waktu yang tepat. Kalau bisa langsung nikah aja.

(tersenyum sendiri dengan pikiran yang entah sedang membayangkan apa)

DAMAR

Mana tau di sekolahnya dia deket sama orang.

SANDIKA (nada sedikit meninggi)

Gak lah!

Damar diam. Menyeruput minumannya. Lalu mencomot apem di loyang.

DAMAR

(V.O.)Kalau ditanggepin terus dia gak akan berhenti cerita.

Damar menatap ke depan, ke arah sawah.

DAMAR

(V.O.)Yang penting satu hal, dia masih normal. Masih suka cewek.

Beat.

DAMAR

(V.O.)

Bukan gay.


Angin kembali berhembus.

Dua sahabat itu duduk diam, masing-masing dengan pikirannya.

FADE OUT

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)