Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Mahardika
Suka
Favorit
Bagikan
6. Damar Mahardika

INT. KAMAR DAMAR – PAGI

Damar berdiri di depan cermin besar pintu lemari. Rambutnya masih setengah basah. Ia tersenyum pada pantulannya sendiri sambil menyisir rambut.

DAMAR (bergumam)

Aku ternyata ganteng juga ya!

(merapikan kaos oblong dan celana olahraga yang dikenakannya)

Dari arah dapur terdengar suara perempuan.

BU LASTRI

(O.S.) Dek, jadi lari pagi enggak?


INT. DAPUR – PAGI

Bu Lastri, perempuan paruh baya dengan rambut digelung rapi, sedang mencuci beras di wastafel. Di meja, kopi untuk suaminya sudah tersaji.


INT. KAMAR DAMAR / KORIDOR RUMAH – PAGI

DAMAR (keluar kamar dengan langkah cepat)

Iya, Buk. Ini udah siap kok.

(menyambar sepatu dari rak. Seperti kebiasaan, ia menuang air putih dari teko dan meneguknya)

BU LASTRI

Lari sama siapa, Dek?

DAMAR (berhenti sejenak. Menoleh. Berpikir)

Mmm… sendiri kayaknya.

(kembali meneguk air)

BU LASTRI

Oh… yaudah. Hati-hati ya, Nak.

Damar mengangguk.


EXT. TERAS RUMAH – PAGI

Pak Heru duduk santai, menikmati kopi pagi. Di hadapannya, hamparan sawah luas terbentang. Damar duduk di undakan teras, mengenakan sepatu.

PAK HERU

Laki-laki itu harus disiplin, Dek. Bangun pagi. Terus langsung cari kegiatan. Jangan males-malesan.

DAMAR

Iya, Pak. Ini adek mau lari pagi.

Pak Heru menyeruput kopi, lalu meletakkan gelas.

PAK HERU

Nanti kamu akan jadi ayah. Menghidupi keluarga, menjaga dan membahagiakan anak istri. Jadi dari sekarang belajar disiplin. Bangun pagi. Kalau kesiangan, rezekinya dipatok ayam. Mau dikasih?


Sebelum lanjut, Bu Lastri muncul.

BU LASTRI

Yang dipatok ayam kan rezekinya ayam, Pak.

Damar menoleh ke arah kedua orang tuanya.

PAK HERU

Ibu ini… Bapak belum selesai bicara.

BU LASTRI

Kalau Damar dengerin ceramah Bapak sampai selesai, nanti keburu siang. Terus dimarahi lagi, dibilang salah Damar karena bangunnya kurang pagi.

DAMAR (tersenyum simpul)

Aku berangkat dulu ya, Pak, Bu.

BU LASTRI

Hati-hati di jalan, Dek!

Damar melangkah pergi.


EXT. HALAMAN RUMAH – PAGI

DAMAR (mulai berlari, meninggalkan rumah)

(V.O.) Semenjak Kak Citra nggak di rumah, aku harus terbiasa dengerin ceramah Bapak. Dulu… aku cuma nguping. Sekarang, giliran aku.


INT. RUMAH – PAGI (FLASHBACK)

DAMAR SMP (membawa piring kotor ke dapur)

Woy! Ngapain sih, Kak, banting-banting pintu? Ntar rusak loh.


INT. KAMAR CITRA – PAGI (FLASHBACK)

CITRA (di dalam kamar, nada suaranya kesal)

Bapak kamu tuh, Dek. C-E-R-E-W-E-T. Cereweeeet banget.


INT. DAPUR – PAGI (FLASHBACK)

DAMAR SMP (menuang air minum, tertawa kecil)

Bapaknya Kakak juga, kan?

CITRA (keluar kamar, sudah rapi dengan seragam putih-abu. Ia mengambil sepatu)

Sekarang kamu masih bisa ketawa. Tapi besok, kalau Kakak udah nggak di rumah…

CITRA (mendekat, berbisik di telinga Damar)

(CONT’D) Kamu bakal ngerasain sendiri.


EXT. JALAN MENUJU GEREJA – PAGI

Damar dewasa berlari menuju gereja berjarak lima ratus meter dari rumah. Di dekatnya, lahan kosong terbentang.

DAMAR (terengah, menyemangati diri)

Sendiri… harus… tetap… semangat… Damar Mahardika…


EXT. LAHAN KOSONG DEKAT GEREJA – PAGI

Damar menyelesaikan putaran kelima. Ia menjatuhkan diri ke tanah, tubuhnya basah oleh keringat. Ia berbaring di bawah pohon, menatap dedaunan di atasnya.


EXT. LAHAN KOSONG – SIANG (FLASHBACK)

Damar kecil dan Wulan berbaring berdampingan di tanah.

WULAN KECIL

Dika, dikit lagi kita lulus SD. Habis itu SMP, SMA… terus kamu mau jadi apa?

DAMAR KECIL (tetap menatap dedaunan)

Emang kamu mau jadi apa, Lan?

WULAN KECIL (duduk)

Aku mau jadi tentala. Pegang senapan. Mukanya sangal. Pasti ditakutin orang-orang.

DAMAR KECIL (terkekeh, lalu ikut duduk)

Mana ada tentara cadel, Wulan. Kamu juga pendek. Lagian kalau mau ditakutin orang nggak harus jadi tentara.

Wulan manyun.

DAMAR KECIL

(CONT’D) Kamu monyong aja udah bikin orang takut.

WULAN KECIL(mendorong bahu Damar)

Nyebelin!

DAMAR KECIL

Pengen banget ditakutin orang?

WULAN

Enggak juga. Seenggaknya aku udah punya impian. Soal nanti kayak apa… besok aja mikirnya.


EXT. LAHAN KOSONG – PAGI (KEMBALI KE MASA KINI)

Damar dewasa masih berbaring. Matanya menatap daun yang bergoyang pelan tertiup angin. Hening.

DAMAR

(V.O) Apa sekarang kamu masih cadel? Apa kamu masih ingat sama aku… Sedangkan di sini, aku belum sedikit pun lupa sama kamu.


Kamera menatap wajah Damar.

DAMAR

(V.O) Bahkan ada seseorang yang sikapnya ngingetin aku sama kamu. Entah karena aku terlalu rindu… atau Tuhan sengaja ngingetin kamu supaya nggak hilang dari ingatanku.

Damar menutup mata sejenak.

FADE OUT.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)