Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
INT. KELAS XII IPA 4 – SIANG
Bel tanda istirahat kedua berbunyi. Jam berbentuk lingkaran di atas papan tulis menunjukkan pukul 11.15.
Pak Romi, guru Fisika, baru saja keluar dari kelas. Seluruh murid menghela napas lega. Yulian langsung meluruskan tangan kirinya di atas meja. Kemudian merebahkan kepala di atasnya. Sementara Damar masih sibuk dengan pulpen dan buku tulis.
YULIAN
Kamu masih lanjut ngerjain soalnya, Dam?
DAMAR
Hm.
(menjawab singkat tanpa menoleh)
Pandangan cowok itu tetap fokus pada buku dan pulpennya.
YULIAN
Rajin amat, sih. Kan, kata Pak Romi buat PR aja, lanjut kerjakan di rumah. Minggu depan dikumpulkan.
(menirukan gaya bicara Pak Romi)
DAMAR
Kalau udah beres, kan, enak juga, nggak perlu mikir lagi.
(membereskan buku dan pulpennya)
Ia selesai mengerjakan soal.
YULIAN
Tetep aja, menyalahi aturan. PR itu kependekan dari Pekerjaan Rumah. Bukan Pekerjaan Sekolah.
DAMAR
Terserah kamu.
(berdiri lalu berjalan menuju pintu)
YULIAN
Mau ke mana?
(menegakkan punggung dan mengangkat kepala)
DAMAR (menghentikan langkahnya, menoleh ke belakang)
Jajan.
YULIAN
Aku boleh salin ja—
(Ucapannya terhenti)
Damar mengepalkan tangan kirinya. Yulian langsung mengerti. Damar sudah tahu maksud sahabatnya, ingin menyalin jawaban PR Fisika. Dan bocah sangar itu jelas tidak akan memberi izin. Bukan karena pelit. Ia hanya tidak suka orang yang tidak mau berusaha sendiri. Menurutnya, setiap manusia diberi otak untuk berpikir. Kalau tidak digunakan, sama saja tidak mensyukuri apa yang Tuhan berikan. Lagi pula menyontek adalah perbuatan curang dan tidak jujur.
EXT. KANTIN SEKOLAH – SIANG
Begitu tiba di kantin, Damar mendengar seseorang memanggil namanya.
DIMAS
(O.S.) Dam!
Damar menoleh. Ia mendekat ke arah suara. Dimas duduk di salah satu bangku panjang. Cowok berambut keriting itu tampak sedang menunggu pesanan. Dimas adalah teman SD Damar.
Meski tak pernah sekelas dan sempat berbeda sekolah saat SMP, mereka tetap akrab.
DAMAR (berdiri di dekat Dimas)
Kenapa?
DIMAS
Duduk sini aja, kita ngobrol-ngobrol, kek. Kan, udah lama nggak bincang-bincang.
(menunjuk bangku di seberangnya dengan dagu)
Mbak Marni datang membawa dua mangkuk bakso. Ia meletakkannya di depan Dimas. Damar segera memesan satu porsi sebelum Mbak Marni kembali ke stand. Setelah itu ia duduk.
DAMAR
Kamu makan dua porsi?
DAMAR (memandang dua mangkuk bakso di depan Dimas)
Kok sendiri tapi dua mangkuk?
DIMAS (tersenyum misterius)
Satunya punya pacar aku.
DAMAR (menyipitkan mata)
Jadi ceritanya, mau pamer pacar baru?
DIMAS
Yoi.
DAMAR (hanya menatapnya)
(V.O.) Kurang kerjaan.
Damar berdiri hendak mencari tempat lain. Ia mengedarkan pandangan ke seluruh kantin. Mencari kursi kosong.
DIMAS
Mau ke mana? Di sini aja, nggak apa-apa kok, Dam. Lagian kamu juga kenal sama orangnya.
DAMAR (menoleh, alis kirinya terangkat. Ia mulai curiga)
DIMAS
Aku jamin kamu bakal kaget, dan nyesel kalau sekarang nggak ketemu dia.
(tersenyum memperlihatkan deretan gigi yang tidak rata)
DAMAR
(V.O.) Sok misterius.
Meski begitu, perkataan Dimas membuat Damat penasaran. Juga berdebar. Entah kenapa instingnya tertuju pada seseorang yang sangat ia rindukan. Damar akhirnya duduk kembali.
EXT. KANTIN SEKOLAH – BEBERAPA SAAT KEMUDIAN
Dari arah kamar mandi muncul seorang cewek kurus. Seragamnya tampak agak lusuh. Rambut panjang sebatas pinggang terlihat sedikit kusut. Ia berjalan sambil menunduk. Menuju meja Dimas.
DIMAS (menepuk-nepuk kursi di sebelahnya, kemudian menoleh ke arah Damar)
Masih inget dia kan, Dam?
(menunjuk cewek itu)
Damat mengikuti arah telunjuk Dimas. Matanya membelalak sesaat. Wulan. Meski begitu, Damar berusaha terlihat biasa saja.
DAMAR
Dia sekolah di sini?
DIMAS
Iya.
(mengangguk)
DIMAS
Awal tahun ajaran baru kemarin. Belum terlalu lama. Sekitar satu bulan yang lalu dia mulai sekolah di sini.
(berpikir sejenak)
DIMAS
Pertengahan Juli kalau nggak salah.
Damar mengangguk pelan. Berusaha tampak tidak peduli. Padahal jantungnya berdetak semakin cepat. Seiring langkah Wulan yang semakin mendekat. Dalam hati, ia ingin tahu semuanya. Tentang hari-hari Wulan, tenntang kehidupannya. Tentang apakah ia baik-baik saja. Atau justru seperti dalam mimpi buruk yang dialaminya beberapa waktu lalu.
Wulan duduk di sebelah Dimas, tepat berhadapan dengan Damar. Ia tampak sedikit terkejut melihat keberadaan Damar. Pupil matanya membesar sesaat. Lalu kembali normal.
WULAN
Hay, Di, eh, Da-Damarr.
DAMAR (mengernyit)
Ka-mu, tadi panggil aku siapa?
Wulan menatapnya sekilas. Lalu kembali menunduk.
WULAN
Damarr. Itu, kan, namamu.
DIMAS (tertawa kecil)
Padahal dulu dia sama sekali nggak bisa nyebutin huruf R, kan, Dam?
DAMAR (menoleh ke Dimas)
DIMAS (LANJUT)
Sekarang walaupun masih samar gitu, tapi udah lumayanlah.
DIMAS (menunjuk Wulan)
Makanya waktu awal masuk dia memperkenalkan diri sebagai Saras.
DIMAS (LANJUT)
Ya nggak salah, sih. Nama lengkapnya kan emang Wulan Dwi Saraswati. Cuma dulu dipanggil Wulan, sekarang Saras.
Damar tidak terlalu memperhatikan Dimas. Tetapi tetap mendengarkan. Sementara Wulan mengerucutkan bibir. Sesekali melempar tatapan sinis ke arah Dimas.
DIMAS
Oh iya. Tapi kamu belum cerita, loh. Kenapa memutuskan un—
Dimas tiba-tiba terdiam. Sebuah kepalan tangan kiri Wulan sudah melayang di depan wajahnya. Hanya berjarak beberapa senti dari hidung Dimas.
WULAN
Berrhenti, atau aku perrgi.
(Pelafalan huruf R masih terdengar samar)
Mata Wulan membulat lebar. Sorotnya penuh amarah. Damar menatapnya bingung. Sosok di depannya terasa berbeda. Bukan Wulan yang ia kenal dulu.
DIMAS
Iya, sorry.
Dimas mengangkat tangan hendak menurunkan kepalan itu. Namun Wulan lebih dulu menarik tangannya.
DIMAS
Udah, makan.
(Suaranya melembut)
EXT. KANTIN SEKOLAH – LANJUT
Pesanan Damar datang. Ia menambahkan saus dan sambal. Sama seperti Dimas dan Wulan. Kalau biasanya, Wulan selalu menambahkan kecap dan cuka juga.
Dinas mengambil botol kecap. Lalu menoleh pada Wulan.
DIMAS
Ras, kamu mau pakai kecap?
WULAN
Dikit aja.
Dinas menuangkan kecap ke mangkuk Wulan. Lalu mengembalikan botol itu ke tengah meja.
Damar meraih botol cuka. Menyodorkannya kepada Wulan.
DAMAR
Kamu masih suka pake cuka?
Wulan sedang mengaduk isi mangkuknya. Ia menoleh sebentar. Kemudian menggeleng.
WULAN
Nggak usah. Ini udah enak kok.
(Lalu mencicipi kuahnya)
DAMAR (berkedip)
Oke.
(meletakkan kembali botol cuka)
Dimas mulai makan. Sementara Damar justru memperhatikan dua orang di depannya. Ia tampak menunggu sesuatu.
Dalam mangkuk Wulan terdapat beberapa potong sawi. Jika kebiasaannya belum berubah, ia pasti akan memindahkannya ke mangkuk orang lain. Bukan dibuang. Melainkan diberikan.
Wulan berdehem.
DAMAR
Ada apa, Lan?
Tatapan mereka bertemu. Jantung Damar berdegup. Namun WULAN justru menoleh ke Dimas.
WULAN
Dimas.
Dimas menoleh sambil mengunyah. Wulan manyun dan memberi kode dengan matanya. Dimas langsung paham. Ia menatap mangkuk Wulan.
DIMAS
Dam.
Damar menoleh.
DIMAS
Kamu bisa—
Dimas tidak melanjutkan ucapannya. Wulan sudah lebih dulu memindahkan potongan sawi ke mangkuk Dimas.
WULAN
Kamu aja yang makan.
(Dimas menatapnya)
Damar menelan ludah. Dimas seolah ingin mengatakan sesuatu. Namun mengurungkannya. Ia hanya menggeleng pelan. Sedangkan Wulan kembali fokus pada makanannya.
EXT. KANTIN SEKOLAH – BEBERAPA MENIT KEMUDIAN
Mereka bertiga makan dalam keheningan. Tak ada yang benar-benar menikmati makanannya. Masing-masing tenggelam dalam pikiran sendiri.
Sesekali Wulan melirik Dimas. Lalu berdecap dan menghela napas. Dimas menahan tawa.
MBak Marni datang membawa es teh. Damar yang sudah selesai makan mengambil dua sedotan. Satu untuk dirinya. Satu lagi disodorkan kepada Wulan.
Wulan menatap Damar. Lalu sedotan itu. Akhirnya ia menerimanya.
WULAN
Makasih
DIMAS (tiba-tiba berdiri)
Aku ke toilet bentar ya.
Ia pergi begitu saja. Tanpa menunggu jawaban.
WULAN (menoleh)
Jangan lama-lama.
(Entah didengar atau tidak)
Kini tinggal Damar dan Wulan. Suasana menjadi semakin canggung. Damar menarik napas panjang. Lalu berdehem.
DAMAR
Kamu, kok, kayak nggak nganggep aku gitu, Lan?
WULAN membeku.
DAMAR (LANJUT)
Apa kamu ada masalah? Atau aku punya salah?
Jantung Wulan berdegup cepat. Jari-jari kakinya terasa dingin. Telapak tangannya mulai berkeringat.
Damar memperhatikan semuanya. Napasku Wulan terlihat tidak teratur. Wajahnya juga mulai pucat.
DAMAR
Lan.
WULAN
I-ya.
Suara Wulan terdengar tergagap. Gerak-geriknya membuat Damar semakin bingung.
Ia terus menunduk. Jarang sekali menatap Damar.
DAMAR
Kamu sakit?
WULAN (melirik Damar sekilas)
Aku nggak apa-apa.
Nada bicaranya datar. Singkat.
Cepat. Ia kembali menghindari tatapan Damar. Suasana terasa asing. Canggung.
Damar sebenarnya senang. Sangat senang bisa bertemu lagi dengan sahabat kecilnya. Bisa duduk berhadapan. Melihat wajahnya lebih jelas. Itu membuat jantungnya berdebar bahagia.
Namun sikap Wulan membuat semua terasa rumit. Bahagia dan kesal bercampur jadi satu. Membuatnya tidak tahu harus berbuat apa.
EXT. KANTIN SEKOLAH – SESAAT KEMUDIAN
DIMAS kembali.
Ia duduk lagi. Melanjutkan makan yang tertunda. Tiba-tiba Wulan berdiri. Damar menoleh.
WULAN (menepuk bahu kiri Dimas)
Aku ke kelas dulu, es punyaku dibungkus aja.
Tanpa menunggu balasan. Ia pergi.
Damar menatap punggungnya menjauh. Alisnya bertaut. Ia menyeruput es teh.
Dimas menggeleng-gelengkan kepala. Menghela napas. Lalu menarik mangkuk bakso milik Wulan. Ia mengambil tiga butir bakso kecil yang tersisa. Memindahkannya ke mangkuknya sendiri.
Damar menatap heran.
DIMAS
Mubazir kalau dibuang.
DAMAR (menatap tajam karena rasa penasarannya sudah tidak tertahankan)
Jadi, pacar baru yang kamu maksud itu, dia?
DIMAS (menjawab dengan santai)
Semoga.
DAMAR (menghentikan gerakan minumnya, lalu menyipitkan mata)
Maksudnya semoga?
Dimas hanya tersenyum. Sementara Damar terdiam. Kata itu terus berputar di kepalanya.
"Semoga."
Berarti masih berupa harapan. Masih berupa doa. Bukan kenyataan yang sebenarnya.
FADE OUT.
♡♡♡