Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Mahardika
Suka
Favorit
Bagikan
14. Deg
Skrip ini masih diperiksa oleh kurator

INT. KAMAR DAMAR – SIANG

Damar bangkit dari tempat tidur lalu berjalan ke arah lemari.

CUT TO:

Damar keluar kamar. Ia masih memakai celana abu-abu sekolah, tapi atasannya sudah berganti kaos pendek warna oren kunyit busuk.

INT. RUANG TENGAH – SIANG

Damar duduk, makan siang sendirian.

SFX: Drrtt... drrrtt... drrrtt...

Damar mengambil ponsel, menatap layar sebentar, lalu kembali makan.

BU LASTRI (dari dalam kamar)

(O.S.) Dek, kamu masih inget Yunita temen SD kamu gak? Yang pinter itu, loh.

DAMAR

Kenapa, Buk?

DAMAR

(V.O.) Tentu saja aku ingat. Dia saingan beratku waktu SD. Tapi buat apa dibahas? Dia kan sudah gak ada.

BU LASTRI

(O.S.)Kemarin malam, pas belanja Ibu lihat dia loh. Lagi beli telur sendirian.

DAMAR (masih sambil makan)

Ibu salah lihat kali.

BU LASTRI (keluar kamar)

Benar kok. Penglihatan Ibu masih tajam. Ingatan Ibu juga bagus. Atau cuma mirip kali, ya.

DAMAR

Cuma mirip kali, Buk.

Bu Lastri menyalakan TV dan duduk. Damar selesai makan, bangkit ke dapur.

INT. DAPUR – SIANG

Damar mencuci piring. Lalu minum air.

INT. RUANG TENGAH – SIANG

Damar duduk kembali.

DAMAR

(V.O.)Apa mungkin yang dilihat Ibu… hantu? Atau arwahnya Yunita?

DAMAR

Kemarin malam Ibu belanja di mana?

BU LASTRI

Di supermarket.

DAMAR (sambil berpikir)

Terus pas ketemu, dia gimana? Nyapa enggak?

DAMAR (V.O.)

Yunita itu ramah. Harusnya dia nyapa. Dan dia pasti kenal Ibu.

BU LASTRI

Dia gak lihat Ibu. Badannya kurus. Tingginya kira-kira sejajar telinga Ibu. Terus agak aneh.

DAMAR (mengernyitkan dahi)

Anehnya gimana, Buk?

BU LASTRI (memencet tombol di remot untuk ganti channel tv)

Datar. Gak ada ekspresi. Kesenggol orang hampir jatuh tapi gak marah. Cuma ngelirik, terus kayak gak terjadi apa-apa. Masa bodo.

DAMAR

Kayanya Ibu salah lihat deh. Yunita kan udah gak ada.

BU LASTRI (terdiam)

Eh iya… maksud Ibu bukan dia. Temen kamu yang satunya. Yang pinter juga. Siapa namanya?

DAMAR (menarik napas)

Wulan?

BU LASTRI

Iya! Wulan.

SFX: Deg... deg... deg....

DAMAR

(V.O.)Serius?

MONTAGE (VISUAL MEMORI DAMAR – CEPAT)

Wulan kecil. Bangku kelas. Es campur. Tawa kecil.

DAMAR

(V.O.)Rindu yang sempat hilang tiba-tiba balik lagi. Gak banyak kenangan tapi ada satu rahasia. Dan cuma aku yang tahu.

FLASHBACK VISUAL SINGKAT:

Wulan pindah sekolah. Kursi itu kosong. Damar sendirian.

DAMAR

(V.O.)Sejak ibunya meninggal dia pindah ke Depok. Kami sempat satu kelas di SMP, cuma satu semester sih. Setelah itu semuanya hilang, seolah pertemuan kami cuma mimpi.

KEMBALI KE RUANG TENGAH

BU LASTRI (berdehem)

Ibu mau samperin, tapi ada cowok ngajak dia pergi. Mau dipanggil juga susah. Ramai banget.

Damar ingin bicara tapi tertahan.

BU LASTRI

Ibu inget banget, dia pakai jaket merah. Celana hitam longgar.

DAMAR (membeku)

(V.O.)Merah hitam warna kesukaan Wulan.

SFX: Tok... tok... tok....


Bu Lastri bangkit untuk membukakan pintu depan.

INT. RUANG TAMU – SIANG

Bu Lastri membuka pintu. Sandika berdiri tegap, pipi tembamnya terangkat hampir membuat matanya menghilang, mirip Shinchan karena alisnya juga tebal.

INT. RUANG TENGAH – LANJUT

Damar muncul dari belakang membawa gitar.

DAMAR

Di teras aja, yuk!

Sandika mengangguk.

BU LASTRI

Adek gak bilang ada temen. Ibu gak bikin apa-apa.

SANDIKA

Saya gak bisa ditawarin, tante. Kalo ditawari pasti habis.

DAMAR (nyengir)

Tuh kan. Gak perlu disediain, Buk. Nanti dia betah.

Bu Lastri geleng-geleng kepala atas tingkah Damar.

EXT. TERAS RUMAH – SIANG

Damar dan Sandika duduk berhadapan. Hamparan sawah luas di depan. Angin sejuk berhembus. Mereka mulai main gitar.

FLASHBACK

INT. KELAS SMP – SIANG - HARI TERAKHIR SEBELUM UJIAN SEMESTER GANJIL

Damar masuk kelas bawa minuman coklat. Langsung duduk di sebelah Wulan. Ia melepas headset Wulan.

DAMAR

Nggak jajan?

WULAN (meraih minuman Damar)

Gak. Mau minta punya kamu aja.

Damar memasang headset ke telinga kiri membuat kepala mereka benturan karena kabelnya yang tidak cukup panjang.

WULAN

Aduh!

DAMAR

Maaf, Lan. Aku cuma pengen tahu kamu dengerin apa.

WULAN

Kepo deh.

DAMAR

Lagi PMS ya?

WULAN (kesal lalu mendorong bahu Damar)

Ngaco! Aku masih kecil!

DAMAR (iseng menyentuh hidung Wulan)

Maaf, sayangku.

(Wulan manyun)

DAMAR (menatap Wulan)

Sebel ya?

Wulan diam, mendengus.

DAMAR

Maaf Lan, cuma noel dikit kok.

DAMAR

(V.O.)Aku tau sih, dia gak suka disentuh sembarangan.

DAMAR (mengerjap, di kepalanya seperti ada lampumenyala)

Minumannya buat kamu aja deh tapi maafin ya.

WULAN (tersenyum)

Makasih.

DAMAR

Dasar.

(lalu pasang headset lagi)

DAMAR

Kok gak ada suaranya?

WULAN (nyengir puas)

MP3-nya habis batle.

DAMAR

Gak bilang.

WULAN

Orang gak tanya.

DAMAR

Masih dengerin akustikannya Dhyo Haw?

WULAN

He-eh.

DAMAR

(V.O.)Dia gak suka musik rame.

DAMAR (asal nyletuk buat liat reaksi Wulan)

Aku jadi pengen belajar gitar.

WULAN

Coba aja.

DAMAR

(V.O.)Dari sini aku mulai suka gitar.


KEMBALI KE MASA SEKARANG

EXT. TERAS – SIANG

BU LASTRI (membawa loyang berisi apem pisang yang sudah dipotong)

Itu sambil dimakan, Nak!

SANDIKA (tersenyum bahagia)

Iya, tante.

DAMAR (menaruh gitar)

Kondangan ya, Buk?

BU LASTRI

Iya. Minum ambil sendiri ya. Ibu berangkat dulu.

(lalu Bu Lastri pergi)

Sandika langsung mencomot apem, menggigitnya penuh penghayatan. Lalu menoleh ke Damar.

SANDIKA

Dam, kamu beneran suka sama Amel gak sih? Aku penasaran tau.

Damar terdiam.

SFX: Deg.

CLOSE UP: wajah Damar.

CUT TO BLACK

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)