Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Mahardika
Suka
Favorit
Bagikan
10. Prinsip Cinta

INT. DEPAN KELAS XII IPS 2 – PAGI

Amel (17) seorang cewek langsing berdiri di depan pintu kelas. Tingginya semampai, berambut hitam lurus terurai menutup sebagian punggung. Angin sepoi-sepoi menggerakkan poninya. Damar berdiri bersandar di bingkai pintu, kedua tangannya menahan tubuhnya.

DAMAR (menoleh)

Oh. Mau lewat ya?


Cewek itu mengeratkan genggaman pada tali ransel di bahunya. Pandangan mereka bertemu. Sejenak suasana jadi hening.

AMEL (agak gugup)

I-iya. (Senyum malu-malu, nyaris seperti kucing ketahuan mencuri)

DAMAR (melepaskan kedua tangannya dari bingkai pintu, lalu bergeser ke arah balkon)

Silakan.

AMEL (sambil tersenyum melangkah melewati Damar)

Makasih.


Close up:

Amel. Bibir tipis, deret gigi putih rapih,pipi tirus. Sepasang matanya melirik sekilas. Saat ia lewat, aroma parfum lembut terbawa angin hingga mampir ke hidung Damar yang membuat cowok itu terdiam. Deg-deg-an.


EXT. KORIDOR KELAS IPS

SANDIKA (berdiri agak jauh, melambaikan tangan)

Oy, Damar!

Damar menoleh. Membalas lambaian sambil tersenyum. Ia bergegas menghampiri.


INT. KORIDOR KELAS IPS

SANDIKA

Tumben ke kelasku.

DAMAR (berdiri di depan Sandika)

Cari kamu.

SANDIKA (memiringkan kepala, menyipitkan mata)

Ada yang penting banget, sampai nyamper segala? Nggak biasanya, Dam.

DAMAR (mengerjap)

Nggak apa-apa. Pengen aja nyapa kamu duluan.

SANDIKA (mendengus)

Terus juga… Kamu kenapa sih akhir-akhir ini? Waktu liburan salah makan, atau gimana? Kok jadi agak aneh. Lebih cair gitu.

DAMAR (duduk di salah satu kursi)

Aneh?


Sandika mengangguk mantap. Damar terdiam sejenak. Menarik napas. Mengempaskannya pelan.

DAMAR (jantungnya berdebar)

Sekarang… lebih enteng aja. Kayak nggak punya beban. Dan aku mutusin buat berubah.

DAMAR (menelan ludah, menatap Sandika yang masih menunggu kalimat selanjutnya)

Sekarang aku punya banyak waktu. Jadi aku mau belajar berekspresi dan nikmati hidup bareng semua orang.


Kalimat terakhir keluar sedikit tergesa. Ini pertama kalinya Damar bicara sepanjang itu.

SANDIKA (tersenyum lebar, menepuk bahu kiri Damar)

Bagus deh.


Sebuah tangan menepuk bahu kanan Damar. Refleks, Damar menoleh.

YULIAN (tersenyum)

Selamat pagi, Damar!

SANDIKA (menyela)

Pagi, Yulian.

Yulian (menepuk bahu Damar)

Kelas yuk, Dam.

DAMAR

Ayo.


Sebelum pergi Yulian menjulurkan lidah ke arah Sandika, yang membuat cowok gempal itu mendengus kesal.


INT. KELAS XII IPA 4 – PAGI

Damar dan Yulian masuk bersama. Tangan Yulian masih bertengger di bahu Damar. Kelas mulai ramai. Bangku mereka berada di baris terdepab, dekat jendela. Yulian meletakkan TAS di dekat kaki meja, lalu mengeluarkan ponsel.

YULIAN (sambil menatap layar ponsel)

Dam, tadi aku sempat lihat kamu sama Amel di depan kelas IPS.

DAMAR (duduk lalu memindahkan beberapa buku dari dalam tas ke laci meja)

Oh… jadi namanya Amel? (sambil manggut-manggut kecil)

YULIAN (menoleh)

Iya.

YULIAN (menatap penuh selidik)

Ngobrolin apa?

DAMAR (wajah datar)

Nggak ada. Cuma papasan aja.


Damar terdiam sesaat, seperti baru menyadari sesuatu.

FLASH SINGKAT: Dua cewek di depan kios fotokopi. Tersenyum gugup. Waktu itu lagi hujan.


YULIAN (mengerutkan dahi)

Bentar deh, Dam. Serius kamu nggak tahu Amel?

Damar menggeleng.

YULIAN

Dia itu, penggemar kamu juga.


Damar menoleh cepat.


YULIAN

Yang suka ikut ngasih kado. Yang kemarin bungkus kadonya pakai pita.

DAMAR(menyipitkan mata)

Yang isi kadonya sadel sepeda?

YULIAN (tersenyum lebar sambil mengacungkan jempol)

Betul.


Damar terdiam. Tatapan lurus ke depan.Jantungnya kembali berdetak tak beraturan.

CUT TO BLACK.


♡♡♡

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)