Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Mahardika
Suka
Favorit
Bagikan
12. Prinsip Cinta (lanjutan 2)

INT. KELAS XII IPA 4 – SIANG (ISTIRAHAT)

Suasana kelas lengang. Sebagian siswa pergi ke kantin. Sebagian lain berhamburan ke lapangan dan taman dekat perpustakaan. Yang tersisa di kelas: ada yang bermain ponsel, ada yang tidur.

Damar duduk menopang dagu di atas meja. Pandangannya mengarah ke luar jendela.

Hening.

CLOSE ON wajah Damar.

DAMAR

(V.O.) Ternyata punya kehidupan yang biasa-biasa aja itu menyenangkan. Tanpa terlalu berambisi dalam belajar. Gak perlu memaksa otak berpikir keras saat menjelang musim olimpiade. Ya… jadi anak kelas dua belas itu menyenangkan karena bisa terbebas dari beban yang selama ini harus diterima.

Beat.

DAMAR (V.O.)

Tapi… setelah ujian nanti aku akan berpisah sama teman-teman. Dan aku bahkan belum memikirkan rencana ke depannya. Kuliah? Kerja? Atau ikut kursus mempelajari keterampilan baru?

Dari arah kelas IPS, Amel melintas bersama seorang cewek berambut keriting gantung. Olivia. Mereka tertawa. Jantung Damar langsung berdebar.

CLOSE ON mata Damar mengikuti Amel.

DAMAR

(V.O.) Cantik. Ramah. Mungkin itu yang bikin aku tertarik. Soalnya biasanya orang cantik agak sombong dan pemilih.

DESI

(O.S.) Dam!

Damar masih terpaku ke luar jendela. Amel sudah berlalu.

DESI

Dam!

Damar tersentak. Berkedip beberapa kali. Menoleh.

DESI (berdiri di dekat meja Damar)

Kamu punya pacar?

Damar menggeleng.

DESI (menyipitkan mata)

Terus, kenapa kamu nolak Bunga?

DAMAR (menyandarkan punggung, menghela napas)

Itu kan hak aku.

DESI (emosi tipis)

Iya, sih. Emang cewek yang kamu suka siapa?

DAMAR (dingin)

Itu privasi aku.

DESI

Oke.

Yulian datang. Meletakkan kantong plastik bening berisi gorengan dan sebotol air mineral ke meja.

YULIAN (duduk di samping Damar)

Bakwannya habis, Dam. Tinggal tahu berontak sama tempe mendoan tuh.

DAMAR (membuka plastik, mengambil tahu berontak)

Nggak masalah.

YULIAN (menatap Damar yang masih mengorek isi plastik)

Cabenya juga habis!

Damar mengangguk. Lalu menggigit tahu berontak. Yulian ikut mengambil tempe mendoan.

YULIAN (sambil mengunyah)

Sini kalo mau gorengan, Des.

DESI (menyandarkan kepala di meja, tas sebagai bantal)

Lagi diet

YULIAN

Owh.


YULIAN (berbisik)

Sob, tadi Amel juga beli gorengan loh.

DAMAR (tanpa minat)

Terus?

(langsung melirik ke luar jendela dengan ekor mata)

YULIAN

Coba kamu ikut, pasti bisa ketemu dia.

DAMAR

Terus kalo udah ketemu?

(memasukkan sisa gorengan ke mulut. Mengunyah. Melirik lagi ke luar. Belum terlihat)

YULIAN

Ya kalo cowok ketemu sama cewek yang lagi ditaksir pasti seneng dong. Kamu kan su-ka sama dia.

Damar mengerjap.

DAMAR

Siapa bilang?

YULIAN (terkekeh)

Masih nggak mau ngaku lagi.

(memutar tutup botol air, meneguk perlahan)

DAMAR (menoleh)

Apa yang harus diakui?

(meraih botol dan ikut minum)

YULIAN

Kebenaran.

(merapikan sampah, bangkit membuangnya)

CLOSE ON Damar.

DAMAR

(V.O.) Dari tadi dadaku berdebar gak karuan. Sejak Yulian membicarakan Amel. Aku sendiri belum yakin… ini cuma kagum? Atau benar-benar jatuh cinta? Sedangkan di sudut hati itu masih ada satu nama yang terukir indah dan tersimpan rapi bersama kenangan.

Yulian berjalan masuk kembali. Saat itu Amel melintas di luar kelas bersama seorang cewek, membawa kantong gorengan. Damar menatap. Amel tak sengaja menoleh. Mata mereka bertemu. Damar langsung mengalihkan pandangan. Mengambil ponsel. Pura-pura mengecek notifikasi.

YULIAN (duduk, menopang dagu)

Ya udah kalo kamu nggak mau jujur sekarang, nggak apa-apa kok. Nggak perlu merasa terbebani atas tuduhan aku. Lagian itu cuma feeling aku aja.

YULIAN (menguap)

Kalo suatu hari nanti mau cerita, aku akan selalu siap. Oke?

DAMAR (mengangguk)

(V.O.) Dia masih penasaran.

Tapi aku lega. Pembahasan soal Amel selesai.


CUT TO:

EXT. PARKIR SEPEDA – SIANG

Damar mengeluarkan sepeda. Mengayuh pelan.

EXT. GERBANG SEKOLAH – LANJUTAN

Ia menarik rem. Berhenti. Menoleh kiri-kanan.

AMEL

(O.S.) Dam!

Damar menoleh. Amel berdiri di sampingnya.

AMEL (melambaikan tangan)

Hai, masih inget aku kan? Aku Amel.

DAMAR (kikuk)

Hai. Sendiri?

AMEL

Iya. Aku biasanya duduk di situ, nunggu jemputan.

(menunjuk batu di bawah pohon rindang)

Damar mengangguk.

AMEL

Kalo kamu, baru mau pulang?Bukannya bel udah bunyi dari tadi?

DAMAR (melihat langit)

Ya, nggak apa-apa.

(Keringat dingin menjalar)

Amel berjongkok membenahi tali sepatu. Damar mengamati. Saat Amel berdiri, Damar cepat melihat jalan raya.

AMEL

Kamu buru-buru nggak? Kalo kita ngobrol dulu di situ kamu keberatan?

Damar mengangguk. Turun dari sepeda.


EXT. BAWAH POHON RINDANG – SIANG

Mereka duduk berjarak kurang dari satu meter. Damar bisa mencium sisa aroma parfum Amel.

DAMAR

Jam segini masih wangi aja, Mel.

AMEL

Kenapa, Dam?

DAMAR

Eng-gak apa-apa.

AMEL

Kayaknya barusan ada yang bilang aku wangi?

DAMAR

Iya. Aku yang bilang.

AMEL

Aku emang kalo jam istirahat pakai parfum lagi, biar nggak bau asem.

DAMAR

(V.O.) Pantesan.


Hening.


AMEL (mengeluarkan buku dan pulpen dari tas)

Aku boleh minta tanda tangan kamu nggak?

DAMAR (kaget)

Tanda tangan?

AMEL (tersenyum simpul)

Iya. Boleh dong.


Damar menandatangani buku.

AMEL

Makasih ya, Dam. Aku nggak nyangka kamu nggak secuek yang diceritakan anak-anak. Artikel di mading itu hoax. Coba dari dulu aku nggak percaya gosip… mungkin kita udah lama deket.

DAMAR (bingung)

Hehe.

AMEL

Katanya kamu anti sosial, sosiopat, autis, sedingin kutub utara. Padahal nggak gitu kok.

Damar tersenyum kaku.

AMEL

Tuh, bahkan kamu bisa senyum.

Mobil jemputan datang. Mereka berpisah.


EXT. JALAN PULANG – SORE

Damar mengayuh sepeda. Sambil tersenyum.

DAMAR

(V.O.) Ternyata dia cepet akrab.

FADE OUT.


EXT. LAPANGAN SEKOLAH – PAGI

Hari baru. Damar berjalan menyusuri lapangan. Cowok-cowok bermain bola. Ia berhenti. Ada yang janggal.

DAMAR

(V.O.)Sejak kapan ada cewek pakai sweter merah bata ikut main bola di sini? Dan kenapa feeling aku menyuruhku berhenti di sini?

Bola melambung ke arahnya. Damar spontan menangkapnya.

CEWEK BERSWETER MERAH BATA (mendekat)

Bolanya.

DAMAR menatapnya.

SUARA COWOK

O.S.) Woi, cepetan ambil bolanya, Ras!

Cewek itu merebut bola dari tangan Damar dan pergi.

DAMAR

Astaga, aku ngapain sih.

(menepuk jidat,lalu berjalan ke kelas)


INT. KELAS – ISTIRAHAT

DAMAR

Yul, kamu tahu cewek yang pakai sweter merah?

YULIAN

Kayaknya anak baru. Aku lihat dia tadi pagi. Kemarin juga di ruang guru. Tapi nggak tahu namanya dan masuk kelas mana.

YULIAN (berbisik)

Nanti lagi, ada Dika.

DIKA (muncul)

Amel cantik kan?

Damar mengedikkan bahu, sementara Yulian acuh tak acuh.

DIKA

Kalian kok gitu sih?

DAMAR

Kamu nggak jelas banget. Datangnya aja kita nggak tahu kapan.

YULIAN

Iya ih.

Sandika manyun.

DAMAR

Tapi emang sih, dia cantik.

YULIAN

Hayoo!!

DIKA

Jangan-jangan…

Damar berdiri.

YULIAN

Jangan kabur!

DAMAR

Mau ke kantin kok.

DIKA (berbisik)

Dia tuh udah punya cowok.

DAMAR

Tikunglah!

(langsung menutup mulut)

YULIAN

Jadi kamu beneran naksir Amel?

DAMAR

Entah.

DIKA

Santai aja, Dam. Pake prinsip sebelum janur kuning melengkung, Dam.

Mereka tertawa keras. Siswa lain menoleh. Damar menelan ludah. Malu.

FADE OUT.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)